Cast By : Oh Se-Hun, Xi Lu-Han (gs), Park
Chan-Yeol
With Zhang Yi-Xing(gs), Wu Yi-Fan, Ibu.
Genre : Love and Friendship
Length : Short Story
“Aku akan menulis surat.”
“Aku juga. Jaga dirimu.”
“Kau juga jaga diri Luhannie”
“Pasti kita bertemu lagi!”
**
“Ibu! Tomatnya
mau diambil berapa buah?” Tanya Luhan pada ibunya.
“Lima saja
cukup. Toh kau nggak bakalan makan banyak.” Sahut Ibu.
“Tapi banyak
sekali yang sudah masak.” Lapornya pada Ibu.
“Kalau begitu,
bawakan beberapa ke tempat Chanyeol. Sekalian juga beli beberapa botol minuman
dari tempat mereka.” Perintah Ibu.
Luhan
hidup di pedesaan bersama sang ibu. Ayahnya sudah lama meninggal dan dia
mempunyai seorang kakak bernama Lay yang sudah menikah dan hidup di kota
bersama sang suami, Kris. Luhan selalu membantu dan sangat menyayangi orangtua
tungalnya itu. Luhan memiliki harapan untuk bisa bertemu lagi dengannya,
seseorang yang senang sekali memanggilnya ‘Hannie’ dan panggilan itu pun
dipakai oleh semua orang yang mengenalnya.
“Panasnya…”
keluh Luhan dalam perjalanan ke rumah Chanyeol.
“Hannie!”
Seseorang memanggilnya.
“Chanyeol!”
Serunya ketika melihat Chan.
“Aku baru saja
mau ke tempatmu.” Jelasnya ketika Chan menghampirinya dengan sepeda kayuh.
“Serius?” tanya
Chan.
“Nih tomat
sebagian hasil kebun kami.” Katanya memberikan sekantong tomat pada Chan.
“Huuh, lagi –
lagi tomat..Sekali – kali bawakan daging sapi dong!” gerutu Chan.
“Kalau itu sih
lebih baik kumakan sendiri!” Balas Luhan.
“Oh iya, bisa
sekalian antarkan beberapa botol minuman itu ke tempat yang biasanya?” Pinta Luhan.
“Oke.”
Angguknya setuju.
“Sampai nanti.”
Ucap Luhan yang hendak pergi.
“Ah, Hannieya!”
Panggil Chanyeol.
‘Hmmm,
apakah kau mau pergi ke Festival perayaan kembang api bersamaku’ meyakinkan
dirinya sebelum mengajak Luhan.
“Ng…Nggak…Nggak
ada apa – apa.” Serunya gugup.
“Dasar aneh!”
Omelnya, merasa dikerjai.
“Biar.” Jawab
Chan ketus.
“Sial! Besok
pasti bisa…” gerutunya menyesali ketidakberaniannya.
Siang
harinya, Luhan duduk di pinggir sungai yang biasa dikunjungi bersama teman
kecilnya yang kini telah menetap di Kota.
‘Setiap
musim panas datang, pasti aku teringat akan yang satu itu…Surat yang kukirimkan
untuk Sehun. Semuanya ada 7 pucuk surat. Di setiap pucuknya, pasti ada cap
“kembali karna alamat tak dikenal” dan kembali ke alamatku. Tak pernah
sekalipun datang surat balasan dari Sehun, huuuuh’ pikirnya.
“Luhannnie?” Sapa
seseorang yang memanggilnya akrab.
“Kau Hannie
kan?!” tanyanya, menyunggingkan senyumnya.
“Si…Siapa? Sinar
matahari dari arah situ sangat menyilaukan. Aku gak kelihatan.” Pikirnya,
bingung pada sosok lelaki itu.
“Luhannie…Luhannie…”
panggilnya yakin akan bahwa perempuan cantik yang duduk di pinggir danau itu
adalah Luhan.
“Heh!”kagetnya
ketika lelaki itu sudah duduk disampingnya.
“Sudah lama
sekali ya, tempat ini sama sekali gak berubah.” Ucapnya dengan nada rindu yang
dalam.
“Kau juga nggak
berubah. Masih sama seperti waktu SD dulu.” Katanya ketika menatap Luhan yang
menunjukan wajah tanya, ‘Kau siapa’
“Hmphh…!”
tersadarnya.
“Kau sendiri
yang berubah! Apaan rambut gondrong begitu…” katanya kesal pada Sehun, merutuki
dirinya yang tak mengenali Sehun.
“Di kota, model
begini biasa aja loh.” Cengir Sehun dan itu membuat Luhan semakin kesal.
“Tampangmu jadi
awut – awutan begitu, Seperti orang bodoh saja!” pekiknya.
‘Sehun
sudah berubah’
Graupp…
“Aku dapat tomat
ini dari nenek yang barusan kutemui di jalan. Orang pedesaan itu lebih gampang
memberikan apa saja ya. Di kota gak mungkin ada yang begitu.” Jelas Sehun pada Luhan
yang terlihat mengacuhkannya.
“Oh ya?”
‘Daritadi
yang disebut soal kota melulu…Apa dia sedang membodoh – bodohi aku?’ kesalnya,
“Waktu dulu,
masih biasa makan beginian..Sama sekali gak terlintas dipikiranku bahwa rasanya
seenak ini.” kenangnya sambil mengunyah kembali tomat itu.
“Bagaimana
kabar ibumu?” tanya Luhan mengalihkan topik.
“Ah..Baik –
baik saja.” Ucapnya cepat, seakan tak ingin membahas soal ibunya.
Ayah
Sehun meninggal tak lama setelah Sehun lahir. Ibunya adalah perempuan yang
cantik namun, selalu menunjukan ekspresi seperti yang sangat membosankan.
Kemudian ibunya menikah lagi dan membawa Sehun pindah ke kota.
‘Aku
akan menulis surat.’ Kata – kata yang dijanjikan Sehun ketika akan pergi.
“Sehunah…Kenapa…”
“Hmm?” tengok
Sehun.
“Nggak apa.”
Kata Luhan tanpa ingin melanjutkan pertanyaannya dan beranjak dari duduknya.
Greebb… Byuuurrrrrr….
“Hah..Hah..”
Luhan mengambil napas panjang ketika kepalanya mencapai udara.
“Apaan sih tiba
– tiba! Hidungku jadi kemasukan air tahu!” Omelnya pada Sehun. Terkejut atas
perbuatan Sehun yang menariknya masuk kedalam sungai.
“Kenapa marah?
Dulu kau suka bermain begini kan?” Tawa Sehun.
Luhan
hanya menggeleng – gelengkan kepalanya, berjalan ke tepian sungai dan
mengeringkan dirinya.
‘Sehun
sudah berubah. Dia pasti sudah lupa tentang surat itu.’ Pikir Luhan.
Sore
hari.
Luhan
dan Sehun berjalan – jalan menyusuri jalan desa.
“Disini juga
sama sekali gak berubah ya..” seru Sehun memandangi lingkungan desa.
“Sehunah, kau
akan tinggal disini selama liburan kan?” tanya Luhan.
“He-eh niatnya
sih begitu.” Jawabnya.
Trrrt…
“Telpon?” Ucap Luhan.
“Bukan, email.”
Seru Sehun.
“Oh iya.
Hannie, minta alamat emailmu ya.” pintanya.
“Aku gak punya
ponsel.” Jawabnya.
“Hah?! Hari
gini kau masih belum punya ponsel?! Nggak bisa dipercaya.” Ucapn Sehun sedikit
meledek.
“Kalau hanya telepon
rumah sih, di rumah juga ada. Aku gak pernah merasa kesulitan kok.” Sahutnya
cuek.
“Tapi itu
artinya, kau gak bisa mengirim, atau menerima email dong?” Sehun menarik
kesimpulan.
“Biar aku kirimpun,
toh gak bakalan dibales!” Jawabnya acuh.
‘Ah’
Sehun teringat akan janjinya dulu.
“Hannie!” seru
Chan yang berpapasan dengan Luhan dan... ‘Sehun?’
ingatnya.
“Chanyeol?
Uwaaah! Lama nggak ketemu nih! Bagaimana kabarmu?” sapanya semangat.
“Sudah enam
tahun….” Ucapannya terputus ketika Chan hanya melewati Sehun tanpa menyambut
sapaannya.
“Hannie, waktu
aku mengantar barang ke rumahmu, ternyata kakakmu sudah pulang.”
“Ah yang
benar?! Kak Lay sudah pulang?!” tanya Luhan senang.
“Sehunah! Kak
Lay pulang loh!” serunya semangat pada Sehun.
“Hannie! Ayo kubonceng.
Kuantar kau sampai rumah.” Ajak Chan tanpa memperdulikan Sehun yang berdiri di
samping Luhan.
“Eh tapi….”
Trrrrt…
Trrrrt… Trrrrt… Trrrrt…
“Maaf ada
telpon. Kalian duluan saja.” Sahut Sehun cepat.
Luhan mengangguk,
“Chanyeol, ayo cepat!”
Trrrrt…
Trrrrt… Trrrrt… Trrrrt…
Sehun hanya menatap
perginya mereka.
**
“Terimakasih.
Mau masuk? Ada teh gandum loh.” Tawar Luhan pada Chanyeol yang sudah
mengantarnya pulang.
“Nggak usah. Aku
masih harus mengantar barang.” Serunya sambil berpikir untuk mengatakan sesuatu.
“Luhannie.
Aku…Aku suka kamu. Kita pacaran yuk.” Akunya.
“Heh?” Luhan
terhenyak akan pernyataan Chan.
“Kita sama –
sama melihat festival musim panas besok ya…” ajaknya.
“Fe…Festival…Maaf…Aku
sudah janji sama Baekhyun.” Serunya cepat.
“Kalau begitu,
kita ketemu di festival. Saat itu beri aku jawabanmu.” Putusnya cepat,
meninggalkan Luhan.
**
“Sehun, kau sudah
jadi cowok keren ya. Coba aku masih Single.” Kata Lay, menyuguhkan minum pada
Sehun yang bertamu malam itu.
“Selama disini
menginap saja di tempat kami, nggak ada apa – apa sih, tapi kalau hanya kamar,
masih ada yang kosong.” Ajaknya.
“Terimakasih
kak.” Serunya senang.
‘Chanyeol
suka padaku? Yang benar saja…Ah sejak kapan? Apa yang harus kulakukan?’
pikirnya bingung dan gelisah.
“Ah…Oh iya
Hannie. Barusan ada telpon dari Baekhyun. Dia bilang gak bisa pergi ke festival
besok.” Kata Lay memberiahu adik kecilya itu.
“Eeehh….”
Kagetnya.
“Pergi saja
sama Sehun. Seperti dulu lagi kan?” Suruh Lay yang berkedip pada Luhan dan
Sehun yang tersenyum senang menanggapi perintah Kak Lay.
**
Malam
Festival adalah malam dimana keduanya sering pergi bersama ketika Musim Panas
di desa. Sehun yang berdiri di halaman rumah, menunggu Hannie siap dan akan
pergi bersama seperti sebelum – sebelumnya.
Trak
Trak Trak
Langkah
kaki Luhan dari sepatu yang dikenakannya terdengar berisik itu menyadarkan
Sehun bahwa ia sudah siap.
“Kau manis
deh.” Puji Sehun dengan senyuman yang sedikit menggoda ketika Luhan sudah berada tepat di depannya.
“Sudah
sewajarnya.” Balas Luhan sekenanya.
‘Biarpun
sudah berubah, tapi senyum malu – malu Sehun masih sama seperti dulu’ Pikir
Hannie.
**
Duuummm…Dummm…Dudumm…
“Indahnya…”
Seru Luhan mengagumi kembang api yang menghiasi Festival malam itu.
“Iya kan..”
Ujar Sehun sambil memandang indahnya langit dengan percikan beragam warna.
“Kita juga
sering main kembang api di tepian sungaai dekat rumah ya.” Lanjut Sehun.
Dummm…
“Waktu itu
benar – benar sangat menyenangkan.” Ucap Luhan spontan.
‘Uh…Aku
ngomong apa sih!’
“Aku
juga…Asalkan ada Hannie, aku sudah senang.” Katanya tersenyum menatap Luhan.
Duuummm…Dummm…
Dibawah
langit penuh warna, di kerumunan padat penonton kembang api, Sehun mencium
Luhan.
Trrrrt…
Trrrrt… Trrrrt… Trrrrt…
Getaran
ponsel di sakunya membuat Sehun melepaskan tautan bibir mereka.
“Angkat saja
telponnya. Aku pergi dulu beli minuman.” Kata Luhan yang terdengar gugup.
Deg…Deg…
Guiittss…Drukk…
“Kau kenapa
datang bersama Sehun!” Bentak seorang lelaki yang menghempaskan dirinya ke kayu
pohon di sudut taman.
“Chanyeol…”
Pekiknya kaget.
Chanyeol matah
dan hendak mencium Luhan tapi Luhan memalingkan wajahnya, membuat Chan semakin
memaksa.
Battss…
“Jangan..Maaf…Aku
gak bisa berpacaran denganmu Chanyeol.” Ucapnya sekali lagi, memohon pada Chan
adar tak bersikap melebihi itu.
Trak.
“Dimana
bagusnya dia? Dia sudah buka orang desa ini lagi!” Bentak Chan pada Luhan yang
gemetar.
“Hannie…”
Panggil Sehun, menghampiri mereka.
“Sehunah.”
Senyum Luhan, merasa senang bahwa Sehun mencarinya.
“Maaf, besok
aku harus pulang.” Jelas Sehun tanpa mengerti situasi yang Luhan dan Chanyeol
ributkan.
“Eh?” Luhan
terhenyak akan pernyataan itu.
“Kenapa? Kan
katanya kau mau terus disini selama liburan musim panas. Tapi kenapa…” Raut
wajah Luhan berubah sedih dan tanpa sadar sudut matanya telah basah. Ia menahan
tangis.
Trrrrt…
Trrrrt… Trrrrt… Trrrrt…
“Maaf, biar kubalas dulu ya.” Serunya,
beranjak jauh menanggapi telpon itu.
‘Dimana
bagusnya dia? Manusia berdarah dingin. Sejak pindah gak pernah
sekalipun…Padahal aku sudah mengirim, entah berapa pucuk.” Semuanya berdengung
dipikirannya, sia – sia akan penantiannya terhadap Sehun.
“Kau bisa kan
membalas email. Padahal kau sudah janji akan menulis surat. Kau bahkan tak
memberitahuku waktu pindah alamat. Paling – paling kau sudah keasyikan hidup di
kota dan melupakan semua tempat ini.” Isaknya pelan.
Chanyeol
pergi meninggalkan Luhan yang menangis karna Sehun. Chan merasa tak peduli akan
sedihnya Luhan. Menurut egonya, itu adil buat Luhan.
“Heh? Kau
Chanyeol kan?” Tanya Xiumin
“Yang benar
ah…” seru Chen.
“Ah…Ternyata
memang Chan.” Sapa Xiumin.
Sedangkan
Chanyeol hanya menatap kedua temannya itu tajam. Emosinya sedang tak baik dan
itu menyeramkan.
“Oh, apa kau
tahu Sehun pulang kemari. Sudah ketemu dia?” Tanya Chen.
“Mana kutahu!
Jangan sebut – sebut namanya di depanku.” Ucapnya kesal namun masih berdiam
disana.
“Hmmm, Sehun
juga kasihan. Tapi karna dia bisa pulang kampung. Kurasa masalah yang
dihadapinya hampir selesai.” Ucap Xiumin iba, membuat Chanyeol penasaran akan
apa yang baru saja diucapkannya.
**
”Lay. Bawakan
teh gandum untuk Sehun.” Suruh Ibu pada Lay yang berada di dapur.
“He eh, ini
baru saja aku akan membawakan untuk dia.” Jawab Lay.
“Maaf…” Kata
Sehun lirih di depan Ibu & Kakak Luhan.
“Iya…Iya…” Seru
keduanya, memaklumi situasi yang Sehun hadapi.
**
Miiing
miiing miing
“Hannie, kau
tak mengangantarkan Sehun? Sebentar lagi,busnya datang loh.” Tanya Lay pada
Luhan yang menemaninya memancing.
“Nggak masalah
kok.” Sahut Luhan acuh.
‘Kalau
ingin sekali pulang, silahkan saja pulang.’
“Sehun itu,
biarpun musim panas begini, apa dia masih sibuk dengan kerja sambilannya?” Ucap
Lay, memancing Luhan untuk menanggapinya.
“Sepertinya
kemarin ia dimarahi oleh lawan bicaranya di telpon,’Apa yang kau lakukan, libur
musim panas kan sudah lama selesai.’ Lawan bicaranya terdengar marah dan
suaranya keras, sampai – sampai kedengaran olehku. Aku kaget sekali.” Jelas Lay
dengan ekspresi sedih.
‘Toh
paling – paling dia kerja sambilan karna ingin uang untuk main – main.’
“Ah
sudahlah…Pakai rok ternyata repot. Aku ganti sebentar ya.” Lay meninggalkan
Luhan, hendak mengganti roknya dengan celana.
Zaaassshhh…
“Kak Lay, ada
apa?” Tanya Luhan yang menemukan kakaknya yang sedang bersama Chan,
membicarakan sesuatu.
“Chanyeol?”
“Aku masih
belum menyerah soalmu Hannie. Makanya
aku gak bersikap jantan kalau hanya diam saja.” Kata Chan pada Luhan
yang membuatnya bingung.
“Suami baru ibu
Sehun itu, tak lama setelah mereka pindah ke kota…Dia terlibat hutang besar dan
menghilang. Katanya, sampai sekarang Sehun terus bekerja tanpa pernah mengenyam
bangku SMA.” Jelasnya pada Luhan.
“Sebenarnya aku
kesal padanya..Setelah sekian lama gak ada kabar, mau apa datang kemari?”
Lanjutnya kesal.
“Padahal
alasannya kembali hanya ada satu.” Ucapnya tenang, menatap Luhan dalam.
‘Asalkan
ada Hannie, aku sudah senang.’
Luhan dengan
cepat mengerti akan apa yang disampaikan Chan dan apa yang Sehun bicarakan di
malam Festival.
“Hannie! Kau
naik ini saja.” Tawar Chan, meminjamkan sepedanya pada Luhan dan segera
mengayuhnya menuju halte bus.
Zhraakh…
Zhraakh…
“Sehunah…”
Teriak Luhan ketika bus itu baru saja melaju.
Brummmmm…..
“Sehun! Sehun!
Tunggu! Sehun! Aku akan menulis surat lagi! Biarpun gak kau balas, aku akan
tetap menulis surat!” Teriaknya semangat.
Brummmmm…..
“Aku akan
menunggumu! Aku akan terus menunggumu disini.” Pekiknya.
Brummmmm…..
Zaaasssh…
“Ah…Maaf. Waktu
tadi mau naik bus, aku lihat kau datangm jadinya…” Seru Sehun yang berada tak
jauh dari tempat Luhan menghentikan sepedanya.
“Apaan sih!
Huh!” Bentaknya kesal.
“Menyebalkan!
Rasanya ingin mati saking malunya. Aku seperti orang bodoh saja! Apaan, sih!
Teriak – teriak padahal kau nggak naik bus itu.” Tambahnya.
“Luhannie!”
Panggil Sehun tegas.
“Apa sih?!
Silahkan saja kalau mau tertawa!” Ucap Luhan yang masih emosi.
Grebb
Sehun memeluk
Luhan erat, tak ingin melewatkan kesempatannya untuk melepas rindu pada Luhan.
Dia berjanji pada dirinya ‘Suatu saat
nanti aku pasti akan kembali padamu dan kita akan terus bersama Hannieya’.\
“Sampai bus
berikutnya datang, boleh aku tetap begini?” Tanya Sehun pada Luhan yang
meeluknya semakin erat.
Fuh…
“Tentu saja.
Bus berikutnya baru akan datang dua jam lagi bukan?” Seru Luhan, menyembunyikan
wajahnya yang mungkin sudah merah menyala di dalam pelukan Sehun.
-Fin-