Senin, 16 Mei 2016

AKU MENCINTAIMU


Cast By           : Kwon Soonyoung (권순영) as Hoshi, Lee Jihoon (이지훈) as Woozi
Genre             : Yaoi, Boy x Boy, Nc, Mature, Romance.
Length            : Short Story

“Eungggghhhh……” lenguh Woozi yang menggeliat di ranjangnya.
“Hoamm…Ini sudah pagi? Kenapa matahari pagi selalu saja menggangguku?” kesalnya pagi itu.

Woozi malas untuk berangkat kerja ataupun hanya sekedar bangun dari tidurnya. Ia seperti tak dapat beraktivitas saat kekasih hatinya tak sedang bersamanya seperti beberapa hari belakangan yang ia habiskan dirumah. Tanpa keluar rumah atau untuk sekedar bangun, merapihkan rumahnya. Ia sangat tak bersemangat.

“Sayang…Kapan kau pulang?” tanyanya pada bingkai foto kecil yang sedang ia pegang, ia merindukan kekasihnya.

Flashback.

“Kenapa kau pergi? Apa kau akan meninggalkanku?” tanya Woozi yang menangis tersedu ketika tahu bahwa kekasihnya harus pergi  ke luar negeri, mengontrol pembangunan gedung perusahaan baru milik ayah sang kekasih di sana.

“Aku hanya pergi untuk beberapa bulan, bukan untuk meninggalkanmu. Aku pasti pulang, Wooziku sayang. Jangan berlebihan, hmm.” Bujuk kekasihnya lembut.

“Sejak kehadiranmu dalam hidupku, aku sungguh bergantung padamu sampai akhirnya, aku juga memiliki perasaan yang sama seperti yang kau rasakan saat bersama denganku Shi. Aku hanya tak ingin berpisah denganmu. Tidak!” tangisnya kesal, memohon secara tidak langsung agar kekasihnya tak pergi meninggalkannya.

“Sayang…Kau tahu, hubungan ini hanya kita yang tau. Memang orangtua kita dekat dan kebetulan mereka bersahabat sehingga ketika orangtuamu pergi, kita dipertemukan melalui orangtuaku yang mengajakmu tinggal bersama. Tapi ini permintaan ayah yang mau tidak mau harus aku penuhi.” Katanya mencoba memberi sebuah pengertian pada Zi yang dimana Zi berubah diam dan larut dalam kesedihan. Woozi teringat kembali akan hari itu. Hari dimana orangtuanya tewas saat kecelakaan mobil, beberapa tahun yang lalu.

“Hey, maaf…Bukan maksudku untuk mengingatkanmu akan hari itu sayang. Hmmm, denger dan inget ya. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku menyanyangimu Zi..Aku akan selalu menjadi kekasihmu. Aku akan terus bersamamu dan hanya akan mencintaimu. Walau untuk beberapa bulan ini saja kita sukit bertemu. Jangan mengkhawatirkanku. Berdoalah agar semuanya  selesai dan aku secepatnya pulang.” Ucap pria bernama Hoshi itu pada kekasihnya.

“Baiklah. Tapi janji padaku dulu. Kau akan sering – sering menghubungiku. ” pinta Woozi.

Hoshi menjawab dengan berdeham panjang sambil memeluk mesra tubuh Woozi. Mereka berdua merasakan kenyamanan dimana Woozi yang tak ingin menyudahi pelukan kekasihnya dan Hoshi yang mencapai hasratnya saat beberapa menit ini terangsang ketika menyesap aroma tubuh Zi yang memabukan itu menguar.

Hoshi yang sudah tak tahan lagi akan hasratnya yang ingin sekali menggerayangi tubuh kekasih mungilnya itu, dengan pelan dan lembut meremas bokong Zi dan menyeringai saat Zi melenguh, memberi akses dirinya untuk disentuh lebih banyak lagi dan tanpa menjeda waktu lagi, Hoshi sesegera mungkin mencium dan melumat kasar bibir si mungil. Menikmati permainan lidahnya dengan sang kekasih. Membuka celana Zi dan meraba juga memompa adik kecil disana yang rupanya sudah mengeras sambil beralih menyibak kaos Woozi dan mengulum dadanya yang juga menegang.

“Aah..Aah..Faster Shi..Ouhhh..Terus sayang…Eunggghhh…” lenguhan Zi berulang dan berulang, dia menikmati sentuhan itu.
Croottt, cairan kental dan putih itu keluar membasahi tangannya dan ia menjilatnya dengan nikmat. “Aku rasa, sekarang giranmu sayang, eoh..” Suruh Hoshi yang sudah puas bermain dengan adik Zi.

“Uhh, aigoooo. Sebesar dan sepadat ini kah adikmu? Kau akan terpuaskan giant.” Goda Zi sebelum ia mengulum adik Hoshi yang benar – benar memenuhi rongga mulutnya.

“Ohh..Ahh..Uhhh…Yeah sayang. Lebih cepat sayang…Uhh..Wow..Ahh…Hmm….” Hoshi sangat menikmatinya. Ia juga menggerakkan pinggulnya berlawanan arah untuk meloloskan sesuatu yang ada didalam adiknya.

Croottt, cairan itu muncrat memenuhi mulut Zi yang segera menelan semuanya. Zi yang segera mendudukan dirinya di atas Hoshi, sedikit mengangangkat bokongnya, menuntun adik kecil Hoshi yang masih menegang sempurna ke dalam lubangnya dan itu menancap sempurna.

“Biarkan aku memuaskanmu Shi..” Goda Zi yang menggerakkan tubuhnya naik dan turun dengan tempo lambat sedang dan cepat.

“Ahh…Shhh…Shiii bantu aku..Dorong dari sana…Ahhhh…Iya begitu sayang..Uhh..” pinta Zi yang masih belum mendapatkan titik kepuasannya.

“Ahh iya disana sayang! Ohh..Ahh…Shhh…Huuuuhhh…Sayaaangggg…Hhhh…” dia benar – benar puas dan terus melenguh nikmat.

“Akhu…Ingin..Kel..Ahh..luar..Shi…Uhh..” ucapnya terbata.

“Wowowow..Sebentar sayang..” Kata Hoshi yang segera membalikkan posisi mereka. Menusuk lebih dalam lubang Zi yang sempit itu, mencapai tingkat kepuasannya.
“Ahh…Aku keluar sayang..” Kata Zi lemah sedangkan Hoshi menusuk Zi beberapa kali lagi dan ikut berorgasme.

“Hehehe..Kau hebat Woozi.” Pujinya pada Woozi yang langsung tertidur pulas.

“Aku mencintaimu. Sangat.” Bisiknya sebelum memeluk tubuh mungil Woozi dan tertidur, membiarkan adiknya berada hangat di dalam rumahnya.

----

Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Nada sambung itu sudah berulang kali terdengar dan di jawab oleh operator, menandakan bahwa lelaki itu tak menjawab panggilannya.

“Sesibuk apa kau disana? Mana janjimu yang akan menghubungiku Shi?” isaknya pelan, namun Woozi tetap berpikir positif dan berjanji akan menunggu Hoshinya pulang.

Woozi kembali pergi berkerja lagi setelah seminggu penuh telah membolos dengan alasan sakit. Hari – harinya mulai kembai seperti biasa dan hatinya tetap merindukan kekasihnya kembali. Hari – hari yang berlalu tak terasa sudah mencapai 6 bulan.

Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Woozi berusaha menghubungi Hoshinya lagi. Dia memang melakukannya selama 6 bulan itu dan tak bosan – bosan menunggu Hoshi yang tak kunjung mengabarinya.

Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Di dering terakhir, panggilannya terjawab. “Halo?” suara itu menyapa, suara yang dirindukan Woozi.

“Hoshi, sayang..Apa kabarmu? Aku merindukanmu..” isaknya senang.

“Woozi. Kaukah itu?” tanya suara disana.

“Tentu saja Shi! Apa kau melupakanku? Kapan kau pulang?” balas Zi.

“Ohh..Maafkan aku. Aku terlalu sibuk untuk menjawab telpon atau membalas pesanmu. Tapi saat ini aku baru saja free. Hmm, ada apa kau menelponku?” tanyanya lagi.

“Sesibuk apa kau disana? Tak tahukah bahwa sudah 6 bulan kau disana, tak pulang atau sekedar menepati janjimu padaku. Aku merindukanmu Hoshi!” jawabnya dengan tangisan yang tak dapat ia tahan. Zi sedih mendengar pertanyaan Hoshi yang seharusnya dapat dia jawab tanpa harus menanyakan apa yang ingin sampaikan.

“Iya. Maafkan aku. Aku sungguh sibuk dan terjebak disini sayang, aku juga merindukanmu.” Ucap Hoshi lembut.

“Kau tak menhalin suatu hubungan dengan yang lain kan? Kau mencintaiku kan?” tanya Woozi, ingin membuat hatinya percaya akan cintanya disana.

“Aku mencintaimu Zi, hanya dirimu. Percayalah.” Jawab Hoshi.

“Aku percaya itu. Tapi setidaknya, tepatilah janjimu yang akan selalu menghubungiku Shi..” pintanya.

“Maaf. Aku tak yain akan bisa menepatinya atau tidak.” Katanya sedih.

“Kau berubah Shi. Aku ragu akan dirimu. Hikss..” ucapnya spontan.

“Aku mencintaimu Zi. Tapi bukan berarti waktuku kuhabiskan untuk terus mengabarimu. Masih banyak hal penting yang tak bisa kutinggalkan disini. dan tolong jangan sering – sering meneleponku. Aku tak ingin orang lain curiga akan hubungan kita. Aku tak ingin mendapat cemoohan dan image jelek.” Jelas Hoshi panjang lebar dan kesal untuk menjelaskan pada Woozi tentang keadaannya disana yang dibanjiri dengan bertumpuk – tumpuk dokumen yang dikirimkan ayahnya untuk dipelajarinya setelah gedung itu resmi dibuk,

“Apakah aku sudah tak berarti lagi untukmu? Kenapa kau takut akan cemoohan dan cara pandang oranglain terhadap hubungan kita? Bukankah kau pernah bilang kalau kau tak masalah jika semua orang tahu akan kita?” Zi menangis, tak menyangka akan kata – kata Hoshinya.

“Bukan maksudku…”

“Cukup Shi. Aku sedang tak ingin melanjutkannya. Kututup.”

Tut tut tut tut tut…

Sambungannya ditutup Woozi kasar dan larut dalam tangisannya.

“Eomma...Appa…Salahkah aku mencintai Hoshi yang membawaku untuk mencintainya juga? Kenapa aku terus ditinggalkan? Eomma…Appa…Aku rindu kalian..” tangisnya memandang foto terakhirnya bersama orangtuanya.

“Bersabarlah sayang. Aku akan segera pulang. Aku janji.” Gumamnya pada dirinya.


**
“Berikan itu padaku Shi!” teriak Woozi pada Hoshi yang mengambil jaket yang baru saja ia beli. Jaket terbatas yang berhasil dibeli Woozi dengan susah payah.

“Melompatlah untuk mengambilnya Zi..” Godanya jahil pada Woozi.

“Terus saja kau ledek aku! Aku tahu aku pendek Shi. Tapi tolong kembalikanlah.” Pintanya sambil mempoutkan bibirnya, berusaha memohon dengan sangat pada Hoshi.

Memang jaketnya di kembalikan Shi, tapi dengan sebuah pelukan dan ciuman lembut di bibirnya. Hoshi melakukannya. Hoshi jatuh cinta pasa Woozi sejak pertama kali bertemu dengannya.

“Shi…! Apa yang baru saja kau lakukan bodoh!” Pekik Zi marah.

“Aku menyukaimu Zi! Jadilah kekasihku.” Pintanya.

“Kau gila!” Ujar Zi cepat.

“Ya itu aku.” Ucapnya dan gerakan yang cepat segera mencium bibir Zi lagi, menahan tangan Zi yang berusaha memberontak. Membawa ciumannya menjadi lumatan dan Zi yang mulai menikmati permainannya. Perlahan menanggalkan semua pakaian mereka dan untuk pertama kalinya melakukan itu.

“Ah..Sesempit ini kah?” tanyanya pada Woozi

“Bergeraklah Shi..Aku merasa tak nyaman jika kau terus berceloteh.” Omelnya.

“Baiklah sayang. Aku mencintaimu dan kau milikku!” balasnya dan memulai permainan itu.
---

“Aku hanya mencintaimu Zi.” Gumamnya dalam tidurnya.

Woozi yang kembali mengurung dirinya didalam rumah dan meminta izin pada kantor untuk mengambil cuti. Ia sangat tak bersemangat. Ia merasa sendiri lagi.

Sore itu, pintu rumahnya diketuk berulang kali, tapi ia tak berniat membukakakn pintunya. Ia sedang tak ingin diganggu atau bertemu siapaun.

Namun, pintu rumahnya terbuka begitu saja tanpa Woozi sadari. Woozi yang setia berbaring di tempat tidurnya dengan tubuhnya yang tengkurap terkejut dan terbangun ketika ada sebuah tubuh yang menindihnya.

“K..Kau?” pekiknya.

“Ini aku.” Balas seseorang yang tersenyum senang.

“A..Aku sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Silahkan pergi.” Kata Zi ketus, mendorong kuat tubuh lelaki itu.

“Aku merindukanmu. Kenapa kau begini? Tak senangkah jika aku kembali?” tanya lelaki itu yang masih setia berdiri di hadapan Zi yang menutup tubuhnya denga selimut.

“Aku sudah tak mengenalmu. Pergilah. Ingatkah kau tentang ucapanmu yang tak ingin jika dirimu malu jika ketahuan berhubungan denganku?” sindirnya jahat walau sebenarnya ia menahan tangisannya di balik selimut itu.

“Baiklah Zi. Ini aku letakkan kepunyaanmu disini. Aku pergi Zi.” Ucap lelaki itu meninggalkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua diatas meja nakas Woozi di dekat tempat tidurnya.

Clek.

“Kenapa kau tak memaksa untuk tinggal Shi? Kau telah berubah!” isaknya.

“Ini apa?” dia bingung saat melihat sebuah kotak biru tua yang terletak di atas mejanya.

“Cincin?”

‘Aku pulang Woozi sayang. Maafkan segala janjiku yang tak sempat aku tepati. Aku tahu kau masih marah padaku. Aku akan berusaha membuatmu percaya dengan semua keseriusanku. Jujur, saat itu aku sungguh tak sadar telah melukai hatimu dengan perkataanku yang dilandaskan oleh emosi. Tap, aku mencintaimu, sungguh. dan hanyalah dirimu yang aku cintai. Mungkin ini hany sebuah lingkaran yang belum seberapa untuk melamarmu, tapi setidaklah terimalah ini sebagai permintaanku, Menikahlah denganku Woozi.’
 Surat itu membuat Woozi mnyesal akan perkataannya beberapa menit yang lalu. Ia sesegera mungkin keluar kamar dan hendak mengunci rumahnya sampai seseorang memeluknya hangat, “Hoshi..Sayang..” panggil Woozi.

“Maafkan aku Zi. Aku salah..” ucapnya lirih.

“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu sayang. Aku sungguh egois dan kekanakan.” Balasnya sambil memeluk tubuh tinggi lelaki itu.

“Aku mencintaimu Zi. Sangat.” Sambungnya, masih dengan nada yang lirih.

“Aku juga mencintaimu Shi. Jangan tinggalkan aku lagi.” Katanya, menyembunyikan wajahnya di antara dada lelaki itu.

Hoshi yang tak ingin menambah larut kesedihan yang mereka sesali, mengundang bibir Woozi untuk sekedar melepas rindu dan membuktikan bahwa hanya Woozi lah yang mampu membuatnya jatuh cinta. Namun ciuman itu beranjak menjadi lumatan dan menuntut juga adik kecil disana sungguh sangat menonjol dan memaksa untuk terbebas dari dalam sana. Dengan waktu yang tak ingin dibuang lebih banyak, Hoshi menggendong Woozi ke dalam rumah menuju kamar dan sesegera mungkin melepaskan hasratnya yang semakin menggebu – gebu.

“Aahh….Sakit Shi..” desisnya menahan sakit itu.

“Maaf sayang. Aku sungguh tak tahan lagi. Uh…Ohh…Ahh….Hmm….” jawabnya sambil melakukan apa yang diinginkannya.

“Ah…Shhhh..Sakit…Uhh….Sshhh…Ah….Hmmm…Oh….Wow….” desahnya merasakan kesakitan yang bercampur nikmat itu dibawah sana.

“Sayang, bergeraklah..” pinta Hoshi yang tangannya sibuk bermain dengan adik kecil Woozi.

“Ya sayang…begituh….Ohh….Ah….Hmmmm…Kauhh..Hebathh….Uhh..Sayang…” desahnya nikmat mendapat service yang memuaskan dari Woozi.

“Ah…Sayanghh…Sayangghhh..Aku mau keluar…Huhh….Hoahh…Ah….” aduhnya yang menikmati lelakinya juga.

Crot…..
Keduanya berorgasme bersama – sama. Tapi bukan berarti itu akhir permainaan. Hoshi yang membalikan tubuh kecil Zi yang mendudukannya di atasnya.

“Bergeraklah sayang. Puaskanlah rasa rindumu padaku, eoh..” katanya lembut dam Woozi pun menyetujuinya.

Woozi yang tadi terlihat sangat berhasrat untuk terus bermain diatas Hoshi hingga orgasme mereka yang ketiga kalinya, jatuh terkulai lemah di atas dada Hoshi.

“Aku lelah Zi..AKu mencintaimu, hmmmm..” katanya.

“Apa kau mengigau sayang? Hehehe selalu saja kau yang tidur duluan. Aku juga mencintaimu sayang. Kau tahu? Aku berusaha mati – matian disana, terus meyakinkan ayah untuk dapat melepaskanku bekerja mandiri dan agar dapat memilih apa yang kuinginkan. Dan kau tahu apa? Aku sudah bicara pada orangtuaku dan mereka tentu saja setuju. Kau tahu kenapa mereka bisa setuju? Karna mereka hanya ingin aku bahagia dan apapun kebahagianku, mereka tak akan pernah melarangnya, termasuk menikah denganmu sayang.” Ocehnya sendiri di telinga Woozi yang terkulai lemah di atas dadanya sambil mengelus – elus helaian rambut Woozi.

“Aku mau menikah denganmu Shi. Jangan kau tanyakan lagi keinginanku.” Kata Woozi yang sebenarnya belum benar – benar tertidur.

“Kau belom tidur?” tanya Hoshi heran.

“Bagaimana aku dapat nyenyak tertidur jika yang masih menancap disana belum tertidur.” Godanya pada Hoshi.

“Sekali lagi dan kita akan tidur sayang.” Pintanya sambil menerobos kembali lubang Woozi.

“Ohh…Wah…Ngghhhh…Uhh….Ya…Yess….Hmmmm…”

“Oh..Ahh…Ah….Ah…Oh….Ngghh…Disana sayang…Eunghhhhh…”

Lenguhan – lenguhan mereka pun bersahut – sahut nikmat seiring dengan hubungan mereka yang semakin membaik.


--FIN-- 

Sabtu, 14 Mei 2016

Servant Of My Idol


Cast by         : Park Chan Yeol, Kim Jong In, Oh Se Hun, Feyzaa (OC)
Genre            : Love and Friendship
Length           : Short Story

Grup idol yang terkenal, The Rascal yang terdiri dari tiga anggota, Oh Se Hun / Sehun sebagai yang paling muda juga banyak digemari, lalu Kim Jong In / Kai yang terseksi juga teromantis dari semuanya dan Park Chan Yeol / Chanyeol selaku ketua grup yang terfolong tampan dan populer. Mereka sangat popular.

‘Tak disangka! Setelah berakhirnya konser, aku mendapat kesempatan untuk masuk ke backstage!’ senangnya sambil menepuk – nepuk pipinya, seolah ini semua mimpi.

Ini hari pertama konser The Rascal dan Fey sangat beruntung mendapat kesempatan langka ini. Bertemu dengan The Rascal.

“Park Chan Yeol…” Ucap Fey yang terkejut sekaligus bahagia.

“Akhirnyaaa…Oh…..wooooow!!!!” teriakan Fey  membuat The Rascal terkejut ketika melihat hidung Fey yang mengeluarkan darah segar. Dia mimisan.

“Hey, kau tak apa – apa?” tanya Park Chanyeol bingung melihat kondisi Fey.

“Park…Park Chanyeol..!!!” teriaknya lagi dan hidungnya semakin mengeluarkan darah, lagi.

Chanyeol membantu Fey berdiri dan mereka memberikan pertolongan pada Fey.

‘Sungguh baik hati.’ Gumamnya senang.

“ Maaf ya kalo tempat ini berantakan.” Seru Kai.


‘Sejak mereka debut, aku selalu mengidolakan Park Chanyeol, tapi ketika berada di dekat mereka, auranya terlalu hebat! Ini berhubungan dengan nyawa!’ Pikirnya singkat.


“Hei. Apa kau mau kerja part – time saat tour ini saja? Ya sebagai pengurus kami.” Tawar Sehun ketika keadaan sudah lebih santai.

‘Ini mimpi? Ilusi? Bukan. Kenyataan! Soalnya aku mimisan dan sekarang pusing.’ “Aku mau!” seru Fey semangat.

Hari kedua.
Hari yang seperti mimpi dimulai, tapi… ‘Hhh…Capek…’ keluh Fey.

“Syukurlah kita minta tolong pada anak itu.” Seru Sehun pada kedua Hyungnya.

‘Semuanya…’ Intip Fey melalui pintu yang sedikit terbuka ketika tak sengaja mendengar pembicaraan mereka di ruangan.

“Kalau yang lain terlalu galak sampai nggak bisa mainan hape. Gak bisa main dengan anak perempuan atau fans.” Ujar Kai.

“Dia juga fans, jadi mau mendengarkan semua permintaan kita bukan? Lagipun Chanyeol Hyung juga salah. Pura – pura baik seperti pangeran tapi tetap menyuruh untuk melakukan semuanya.” Jelas Sehun tekekeh.

“Bodoh! Idola itu penipu kan?” jawab Chanyeol singkat dan tajam.

Ahahahahahhahahahaaa….
Tawa Kai dan Sehun pecah karna sebuah hal yang baru saja mereka bicarakan.

‘Apa – apaan! Aku hanya dibodohi?!’ kesal Fey.

“Kalian! Aku akan memperbaiki kemauan kalian!” Omel Fey yang langsung mendobrak pintu itu.

“Kedengaran ya?” Tanya Kai bingung.

“Kalian membodohi puluhan ribu fans di seluruh negeri! Terutama Chanyeol. Lihatlah!” Gertaknya.

--
“Hape disita!” katanya menarik paksa hape mereka satu per satu – satu.

“Wahh sejak kapan?” bantah Sehun berusaha menyelamatkan hapenya.

“Dilarang main cewe!” Ujar Fey yang menghapus koleksi kontak nomor perempuan di hape Kai.

“Andwaeeeeeee......” rengek Kai memohon.

‘Persiapkan diri kalian.’ Batinnya kesal.

--
“Park Chanyeol…Kim Jong In…Oh Se Hun…” panggilnya berulang kali.

“Kemana perginya mereka!” tanyanya bingung.

“Aish! Sudah kubilang, setidaknya makan dan minuman dibereskan sendiri!” Omelnya lagi sambil merapihkan semua yang berserakan dimana – mana.

“Fey itu fans kita kan ya?” tanya Sehun pada Kai, memperhatikan Fey dari ruangan yang lain.

“Aku rasa dia berubah menjadi seperti…..” pikir Sehun, lupa akan kata yang tepat untuk Fey.

“Dia mendadak jadi Sparta!” ujar Kai ketus.

“Hari ini kami sangat tertolong karnamu. Anak – anak itu memang manja. Semangat ya!” Ucap staff lain pada Fey yang bekerja dengan baik.

Ketika barang – barang yang terlihat berserakan tadi cukup rapih, kini hanya tinggal merapihkan satu lagi, meja tamu yang bermandikan banyak majalah.

‘Chanyeol. Saat bertemu pertama kali, kau terlihat sangat jujur.’ Gumamnya, ketika melihat Chanyeol sebagai model cover di sebuah majalah terkenal.

Fey mengingat tentang hari itu.

‘Teman di SMA yang baru, pasti berbeda – beda sekolah. Memulai untuk berbaur dengan mereka yang aku tak aku kenal. Hufftthh..’

“Ayo silahkan. Kami mengadakan acara jabat tangan untuk memperingati debut kami.” Seru beberapa orang yang berjarak tak jauh dari Fey.

“Loh. Sepertinya kau sedang tak semangat?” sapa seorang lelaki ysng menghampiri Fey dan memberikan sebuah senyum ketika Fey menatapnya.

“Kau harus semangat!” Lanjutnya sambil menggenggam kedua tangan Fey, memberi semangat.

‘Senyuman yang menyelamatkan aku saat itu, apakah juga bohong?’ pikirnya membandingkan dengan apa yang kemarin dibahas The Rascal di ruangan mereka.

--
“Gawat! Sudah larut. Pintu akan segera ditutup.” Ingatnya setelah ia sudah selesai membereskan semua pekerjannya.
Ia lari tergesa – gesa dan ia berhenti ketika salah satu ruangan yang pintunya terbuka, lampu juga musik yang masih menyala.

‘Mungkin ada yang sedang berlatih di dalam ruangan itu.’ Gumamnya menghampiri ruangan itu.

‘Chanyeol? Wah, dia terlihat luwes tapi tariannya sangat bertenaga. Keren. Jadi ingin terus melihatnya.’ Pikirnya senang.

“Kau sedang apa?” Tanya Chanyeol yang menyadari bahwa ada Fey di balik pintu ruangan itu, memperhatikannya.

“Mengintip? Mencuri foto ya?” tanyanya meledek.

“A..aku hanya kebetulan lewat. Setiap hari berlatih seperti ini?” Tanya Fey, mengalihkan topik.

“Sebagai idol. Aku gak ingin dianggap remeh. Aku ingin semua yang kulakukan sukses, termasuk akting dan panggung.” Jelasnya singkat dengan senyum yang tulus.

‘Ternyata senyumnya tak berubah ya.’ Pikir Fey, mengingat pesan yang di sampaikan Chanyeol saat pertama kali mereka bertemu. “Membuatmu tersenyum adalah pekerjaan kami.”

“Ayo ikut aku sebentar.” Ajak Chanyeol, menarik Fey keluar dari ruangan.

“Mau kemana Yeol?” Tanya Fey bingung.

“Temani aku menghapal naskah.” Jawabnya dan membawa Fey ke taman belakang gedung.

Srakk…

“Kamu, kenapa suka aku? Aku tak percaya kalau itu pandangan pertama.”

“Ngg. Saat upacara masuk sekolah, berbeda sekolah dengan teman yang lainnya. Saat aku sedih, kamu menghiburku. Biarpun kamu disebut sebagai idola sekolah, saat aku mengenalmu, aku gak merasa kalo kamu seperti itu.”

“Tapi usaha Chanyeol melebihi siapapun. Aku tahu itu.” Ucapnya tanpa melihat naskah.

“Huh?”

“Eh, aku salah. Maafkan perkataanku.” Jelas Fey yang salah tingkah.

“Hehehe…” kekehnya dan berdiri menyamakan posisinya dengan Fey.

Gusrak.

“Chanyeol?” Panggil Fey saat tubuh mereka semakin rapat dengan wajah Chanyeol yang berada tepat di depan wajahnya.

Chuuu ~~~

“Makasih…” senyumnya dan pergi begitu saja.

‘Apa barusan? Aku baru saja berciuman dengan Chanyeol kan?’ tanyanya bingung pada dirinya sendiri.

Hari ketiga.
“Selamat pagi….” Sapa Fey riang pada semua staff yang ada di sana.

“Akhirnya hari terakhir konser ya. Ayo semangat!” tambahnya senang.

Siiinnggg………

“Ada apa?” tanyanya heran karna keadaan berubah menjadi sunyi.

“Hemm..Kesini sebentar..” Panggil Manager pada Fey yang langsung menghampirinya.

“Begini. Ini adalah tampilan majalah yang akan keluar besok.” Ucapnya memberikan setumpuk artikel pada Fey dengan topik “Pertemuan rahasia Di Taman Saat Tengah Malam”.

Fey terkejut bukan main saat melihat foto yang jelas – jelas adalah dirinya dan Chanyeol kemarin malam yang dimana mereka memang bersama malam itu.

“Memang kami yang meminta tolong padamu. Tapi kami tak mungkin mempertemukan kalian lagi setelah adanya artikel ini.” Tegur Manager.

“Kami minta kamu berhenti.” Kata Manager dan berita itu membuatnya hancur.

Fey sesegera mungkin meninggalkan tempat itu tanpa bertemu lagi dengan The Rascal. Namun, sore itu Fey tetap menghadiri konser hari terakhir The Rascal, ia memang sudah mempersiapkan tiga tiket untuk konser tiga harinya The Rascal dan untuk masing – masing tiket, ia dapat urutan paling pinggir sebelah kiri, ya setidaknya posisi itu cukup dekat dengan panggung dan ia masih bisa melihat The Rascal dengan jelas.


“Sebentar lagi konser The Rascal akan segera dimulai.”

Waaaaaaaaaaahhhhhh….Wooooooooohhhhh….Yeaaaaaaaahhhh….

Konser itu berjalan dengan seru, asyik dan gembira. Dua jam yang dihabiskan bersama saat konser itu, belum mampu menguras tenaga fans disana. Mereka sungguh sangat bersemangat ketika berada bersama idolanya.

Disaat – saat konser itu akan berakhir, Fey merasakan perasaan aneh yang dimana itu adalah perasaan takut kehilangan dan sedih yang mendalam karna kesalahpahaman, ia seolah bangun dari mipinya.

‘Betul. Awalnya memang berbeda. Aku hanya fans dan Chanyeol adalah orang terkenal di atas panggung.’ Pikirnya, membuat kedua matanya menitikan beberapa tetes air.

‘Tak bisa lagi untuk berbicara dan bertengkar seperti kemarin…Gak mau gitu…’ isaknya keras, namun tak ada yang menyadarinya karna sound yang terlalu keras disamping itu juga teriakan para penggemar yang semakin riuh.

“Chanyeol……” Pekik Fey sekeras – kerasnya sambil menangis, menyadari kenyataan yang sekarang ini.

Greb…

“Ketemu!” Senyum Chanyeol ketika ia berhasil menarik lengan Fey dari antara barisan fans dan menggendongnya cepat ke atas panggung.

‘Chanyeol… Dia siapa? Lihat kesini? Chanyeol……’ Teriakan fans yang semakin gaduh yang melihat perlakuan Chanyeol.

“Chanyeol. Kenapa?” Tanya Fey bingung.

“Apa maksudmu kenapa? Hey, aku tahu kau dimana, karna aku adalah idola Fey.” Ucapnya lantang dan didengar oleh semua orang yang ada di sana. Ingat, michrophone Chanyeol masih setia bertengger di dekat bibirnya.

Fey dibuat shock dengan pernyataan konyol seorang Park Chanyeol itu.

“Aku hanya bercanda.” ledeknya disusul dengan ciuman singkat di bibir Fey.

“Gyaaaaaaa…….Nooooo…….Wahhhh……..Jangaaaannnnn…..” pekikan juga teriakan semuanya yang ada disana sungguh membuat kegaduhan yang terlalu memekakan telinga.

Glekk… “Ya…Yak!!!!!” seru Fey yang terkejut dengan sikap Chanyeol beberepa detik yang lalu.

“Nggak apa – apa. Tertawalah Fey…” Senyum Chanyeol.

“Aaaaaaaaaaa Chanyeol….. Tidakkkkk….. Huaaaaa…. Andwaeeeee…..”

“Kalau tidak bisa membuat orang yang disukai tersenyum, dia tak pantas menjadi idola bukan?” Tanya Chanyeol pada Fey yang wajahnya memerah.

“Ahahahahaha…kau bodoh!” tawa Fey dan memeluk Chanyeol erat.

“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaa……Chanyeol…………Huweeeeeeeeee……”

Pagi harinya, media ramai membicarakan akan aksi chanyeol dan Fey di atas panggung kemarin malam. Sungguh membuat popularitas Chanyeol beranjak naik.

“Aku suka kesetiaan Chanyeol!” / “Ternyata mimpi orang biasa seperti dia, bisa juga ya menjadi kenyataan.”

‘Dengan diketahuinya kisah percintaan ini, popularitas The Rascal pun semakin beranjak naik. Semangat untuk tour selanjutnya.’ Tutup media itu dengan kesimpulan yang memberi nilai positif pada The Rascal.

“Berakhirnya dunia ini memang susah untuk diketahui ya?” ujar Kai menilai tentang media yang asyik membahas kejadian panggung kemarin malam.

“Kenapa popularitas Chanyeol Hyung semakin meningkat? Cih.. Aku gak puas!” Kesal Sehun.

“Bukannya bagus? Manager dan Presiden Direktur kita kan senang.” Balas Kai tak peduli dengan kekesalan Sehun.

“Huuhh, kau tak mengerti Hyung! Aku sengaja mengambil gambar mereka ketika mereka berdua di taman malam itu. Ingat saat kita meninggalkan dia berlatih sendirian? Sugguh saat itu adalah waktu yang tepat untuk membuat rumor negatif untuknya. Mungkin aku atau kau akan lebih populer jika fans kesal dengannya.” Aku Sehun.

“Mwoooo? Aishhh kau ini! Untung pebuatanmu itu tak diketahui manager atau fans lain! Hey dengarkan aku. Kau akan populer di waktunya. Jangan khawatir, eoh!” Nasehat Kai pada Sehun, si magnae manja.

“Baiklah Hyung.” Jawab Sehun membenarkan nasehat Hyungnya.


“Hmmm, lalu Chanyeol Hyung dimana? Bukankah hari ini ada pertemuan ya?” Tanya Sehun mengingatkan.

“Oh…Mungkin sekarang dia hanya jadi idola seorang Fey saja, hahaha..” Tawa Kai menebak keadaan Chanyeol.

.Fin.

Rabu, 11 Mei 2016

A SECRET MARRIAGE


Cast By          : Mai (oc), Park Chanyeol and other.
Genre            : Love
Length           : Short Story


‘Aku mempunyai rahasia.’



“Mai…” panggil teman – teman sekelasnya.

“Ada apa dengan kalian? Semangat sekali?” tanya Mai penasaran.

“Lihatlah…Foto Chanyeol Oppa.” Seru mereka girang.

Mei yang melihatnya, hanya membulatkan mulutnya, seakan memberi reaksi terkejut untuk foto yang dipamerkan temannya.

“Mai belum tahu ya? Dia tampan sekali. Ingin deh menikah dengannya.” Kata mereka mengagumi ketampanan si kakak kelas, Park Chanyeol.

“Hahahahaha, segitunya ya kalian?” sambungnya dengan tertawa bersama mereka walau tawa sebenarnyanya itu palsu dan dibuat – buat.

‘Teman – teman, maafkan aku. Chanyeol Oppa yang kalian kagumi itu….’


**
“Channie…Sudah pagi loh…” teriaknya membangunkan Chanyeol.

“Hmmm..nggggg…..” lenguh Chanyeol sambil menggeliat seakan malas untuk bangun ataupun membuka matanya.

Gyut… Cup…

“Wah…”

“Hehehe, pagi..” sapa Chanyeol senang setelah berhasil menarik Mai dan mencium pipinya di pagi itu.

‘Aku, Mai dengan Park Chanyeol Oppa… Sudah bertunangan.’

Awal mulanya, setengah tahun yang lalu…

‘Perjodohan di umur 16 tahun itu gak mungkin..gak mungkin..’ pikirnya kesal.

“Mai, betulkan sikapmu! Makan yang banyak dan jangan berantakan!” tegur Ayah.

“Kami terlambat.” Seru seorang lelaki bersuara berat yang menghampiri Mei dan Ayahnya.

“Perkenalkan. Ini Chanyeol, anakku.” Lanjutnya memperkenalkan.

“Ehem..Ada yang nempel disitu.” Chanyeol memberitahukan kalau ada makanan yang menempel di bagian pipi kiri Mai dengan ekspresi yang lucu dan saat itulah, Mai jatuh cinta untuk pertama kalinya.

“Mohon kerjasamanya.” Kata Mai seraya berdiri member hormat dengan membukukkan tubuhnya.
**


Teng… Tong… Bel berbunyi…

Mereka resmi bertunangan malam itu karna perjodohan yang diinginkan oleh masing - masing orangtua dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat.

‘Meskipun resminya baru bertunangan,kami sudah tinggal bersama.’

“Aku pergi duluan ya.” Pamit Chanyeol.

“Aku juga…” seru Mai sedikit berlali ke arah pintu.

Plok..

“Gak boleh!” Sentil Chanyeol di dahi Mei, membuatnya berhenti.

“Kalau ketahuan yang lain, akan susah.” Katanya lembut dan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, berangkat ke sekolah lebih dulu.

‘Meskipun tinggal berdua, janji sama Ayah adalah merahasiakan hal ini di sekolah.’


Di Kantin Sekolah.

“Iya, katanya kalau ketahuan bisa susah, nggak bisa tinggal bersama lagi.” Adunya sedih pada sahabatnya, Rika.

“Eh, jadi di sekolah benar – benar gak bisa ngobrol?” tanya Rika.

Masalah ini, hanya Rika, sahabatnya yang mengetahui semua tentang pertunangannya.

“Aku juga dilarang mendekat ke kelasnya..Huweeeee…” tangisnya pecah.

“Mai, suaramu terlalu keras.” Bujuk Rika mencoba menenangkan Mai.

“Saat seperti ini..Gimana kalau ada serangga yang mendekati Chanyeol?” Pikirnya aneh – aneh.

“Serangga?“ Tanya Rika bingung, tak mengerti akan maksud perkataan Mai.

“Hei, aku baru saja memberi salam pada Chanyeol Oppa!” Ucap siswi lain pada temannya yang sedang duduk santai di seberang Mai.

“Wuaaaah, Asyiknyaaa….” Balas siswi – siswi itu.

‘Aku sudah tak tahan lagi.’ Batin Mai semakin kesal.

Mai pergi ke kelas Chanyeol, ingin tahu apa saja yang dilakukan Chanyeol di kelas. Dengan kata lain memata – matai Chanyeol.

‘Hanya beda satu tahun saja, tapi terlihat dewasa.’  Pikirnya senang.

“Ah, Chanyeol!” panggil temannya di kelas.

‘Chanyeol! Ketemu..Ternyata disini juga populer. Itu karna dia ganteng sih..khukhukhu.’ pikirnya semakin senang mengetahui kalau Chanyeol populer.

“Loh, kelas satu? Ada perlu dengan siapa?” tanya siswi yang melihatnya mengintip ke dalam kelas, teman sekelas Chanyeol.

‘Ah..Aku ketahuan, bagaimana ini..’ Mai bingung harus bagaimana.

“Mudaaaa..Imut sekaliiii..Kulitnya halus..Wahhh…” Ucap siswi – siswi itu gemas mencubit pipi Mai.

‘Waaaa, aku harus bagaimana…..Tolong..’ batinnya.

“Loh. Sebentar. Bukankah anak ini…” siswi berkuncir kuda seolah mengingat sesuatu.

Grab! Tap Tap Tap…

“Dasar! Kenapa datang?” tanyanya kesal pada Mai ketika mereka sudah berada di atap sekolah.

“Soalnya aku penasaran denganmu di sekolah.” Akunya.

“Sudah janji untuk tidak mendekati aku di sekolah kan? Kalau ketahuan….”

“ Kenapa barusan terlihat senang dengan orang – orang di kelas?” tanya Mai kesal.

‘Dengan ekspresi berbeda yang tak aku ketahui.’ Sambungnya dalam hati.

Chanyeol hanya terdiam, tak mengerti apa yang dimaksudkan Mai dan tak tahu harus menjawabnya atau tidak.

“Selalu orang – orang itu. Curang!” Kata Mai menangis.

Chanyeol berjalan ketempat Mai duduk, sedikit menunduk dan mendekatkan kepalanya, mensejajarkan kepala mereka dan ~chuuu~ mencium Mai lembut.

Ting Tong Tong Tong ….. Bel berbunyi menandakan waktu Istirahat selesai.

“Dasar. Gak boleh datang lagi ya!” Seru Chanyeol meninggalkan Mai yang terdiam di sana.

‘Apa – apaan barusan! Tapi rasanya teralihkan.’ Pikir Mai kaget dengan perlakuan Chanyeol beberapa menit yang lalu.


Sepulang sekolah.

‘Gak boleh datang lagi ya! Meskipun sudah berjanji tapi mengapa harus sekaku itu.’ Suara Chanyeol masih saja menggema di telinganya,.

‘Ah bagaimana kalau dia malu didekati oleh anak sepertiku? Polos dan kurus!’ rutuknya memaki kekurangannya.

“Ah..Terimakasih…” Suatu ide yang muncul dalam kepalanya membuatnya kembali semangat.

Mai ingat teman sekelas Chanyeol yang tampak cantik dengan sedikit riasan dan pernak – pernik.

‘Apa boleh kalau aku terlihat dewasa dan cantik seperti mereka?’ pikirnya senang, membayangkan reaksi positif Chanyeol sambil terus mendandani dirinya untuk terlihat lebih dewasa, ketika ia sudah sampai rumah.


Malamnya.

“Aku pulang. Huh, kehujanan di dekat situ membuatku basah sekali.” Keluhnya kesal memberitahu pada Mai yang duduk di sofa, membelakanginya.

“Kau!?” tanyanya bingung ketika melihat Mai yang tampak aneh ketika Mai berbalik melihatnya.

“Ah ini. Aku sedikit memakai make up agar terlihat dewasa. Bagaimana menurutmu?” tanya Mai yang bingung untuk menjelaskan pada Chanyeol.

Sedangkan Chanyeol hanya menunjukkan waut wajah yang terlihat semakin kesal.

‘Katakan sesuatu..’ pinta Mai dalam diamnya.

“Kenapa? Akhir – akhir ini kau aneh. Datang ke kelas. Hal – hal seperti itu. Tidak cocok.” Ucap Chanyeol tajam pada Mai.

“Maafkan aku.” Kata Mai yang menangis setelah mendengarkan Chanyeol dan masuk ke kamarnya.

‘Karna dari pertama aku saja. Aku tak pernah mendengar kata – katanya dengan jelas. Iya, aku malu.’ Isaknya pelan di kamar.


Esok Hari.

‘Hari ini gak ketemu. Aku sengaja berangkat pagi – pagi sekali. Aku malu.’ Pikirnya sedih di sudut bangkunya di kelas, melipat tangan dan menundukan kepalanya. Terlihat tak bersemangat.

“Ah, ada Chanyeol Oppa dan teman – temannya diluar. Ayo lihat.” Seru teman sekelasnya heboh.

‘Kalau dipikir dari awal, hanya mendengarkan kemauanku saja. Mengaku dan minta dia menyukaiku dari awal, karna aku ingin melihat senyumnya lagi. Dijodohkan juga. Tapi kalau Chanyeol akan punya pacar yang sebenarnya. Apa pertunangan ini akan bubar?’ pikirnya.

‘Nggak mau! Biarpun ekspresinya seperti itu, biar sudah terlambat, biarpun dibenci, aku..’ dirinya berlari ke kelas Chanyeol, ingin meminta maaf atas semuanya dan janji tak akan melakukan hal yang membuat Chanyeol menjadi tak suka padanya.

“Loh, anak yang waktu itu? Yuhuu…” sapa teman sekelas Chanyeol, melambaikan tangannya sambil berjalan ke arah Mai.

“Chanyeol sekarang sedang tidak ada. Dia sedang pergi ke toilet.” Seru siswi yang lain.

“Kenapa eonnie tahu kalau aku mencari Chanyeol?” tanya Mai heran.

“Kamu tahu soal anak yang disukai Chanyeol?” Tanya mereka balik pada Mai.

‘Ah, ternyata memang ada yang disukainya?’ tebaknya.

“To..Tolong ceritakan hal itu..” pintanya, memohon pada teman sekelas Chanyeol.

“Eh anak yang disukai Chanyeol itu…..”

Grab! Tap Tap Tap…

Belum ada yang Mai ketahui, dengan tiba – tiba Chanyeol datang menarik tangannya dan membawanya ke atas atap, lagi.

“Chanyeol…Anu, anak yang disukai maksudnya apa?” Tanya Mai hati – hati.

“Itu maksudnya Mai.” Jawabnya singkat.

“Hah!!” serunya bingung.

“Ahh…Apa selama ini kau nggak sadar sama sekali? Aku suka sejak dulu!” Akunya.


Flashback On

“Chanyeol melihat anak itu lagi? Anak ini cinta pada pandangan pertama? Menarik..” goda teman – temannya saat Chanyeol menatap kearah lapangan, memandangi seorang adikkelas yang begitu menarik perhatiannya.

“Kalian berisik..” ucapnya sedikit ketus.

“Oh, kau suka yang polos seperti itu ya? Jangan – jangan suka yang lebih muda?” goda teman – temannya, lagi.

Chanyeol hanya dapat tersenyum dan menggeleng – gelengkan kepalanya, mendengarkan apa yang dibicarakan teman – temannya karna ia masih terus menatap Mai dari jendela kelasnya.

**
“Hah! Perjodohan!?” Serunya tak percaya.

“Lihat dulu foto anak perempuannya.” Perintah Ayah padanya.

“Bohong!” Dia sungguh sangat tak menyangka bahwa perempuan itu lah yang akan dijodohkan dengannya.

“Bukan bohong kan!?” tanyanya pada Ayah. Ia tak ingin jika Ayah mencoba mempermainkannya.

Flashback End.


“Ah sudahlah… Karna itu aku gak mau ketahuan karna malu.” Akunya jujur.

‘Diminta dirahasiakan dari sekolah padahal situasinya menguntungkan bagiku.’ Batin Chanyeol.

“Kenapa? Bukankah itu takdir!” Balas Mai senang.

‘Anak perempuan suka seperti itu ya.’ Pikirnya cepat.

“Maaf aku sudah berbicara kasar. Tapi seperti ini saja tidak apa – apa ya?” tanyanya pada Mai, mencoba menanamkan kepercayaannya pada Mai.

‘Semoga kau tak berpikir atau bertingkah aneh lagi. Aku menyayangi dan hanya mencintaimu Mai.’ janjinya mantap dalam hati.

“Jika sudah pada waktunya, menikahlah denganku.” Lamarnya pada Mai yang langsung memeluknya erat.

“Iya..” Seru Mai senang dan setuju.

Bibir mereka bertemu, bertautan dalam dan kegiatan itu berakhir ketika bel istirahat berbunyi, menandakan semua siswa siswi harus masuk untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

-Fin-