Sabtu, 13 Agustus 2016

Give Me A Chance Chapter 8

Tittle : Give Me A Chance
Author : Rey
Cast : Jeon Jungkook, Kim Yerin and others.

Chapter 8


“Tak ada rahasia diantara kita. Apapun alasannya Yeri. Tidak ingatkah kau?” Wendy mengingatkan Yeri -lagi-

“Ceritalah!”

“Aku…Aku harus menuruti semua keinginan yang ia perintahkan padaku selama ia mau.” Aku Yeri di awal.

“Teruskan.”

“Saat di hari aku tak masuk sekolah, aku dirawat di Rumah Sakit. Dia yang membawaku kesana dan melunasi semua biayanya.” Jelasnya menunduk.

“Apa? Kenapa bisa? Memangnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tak menghubungi kami? Setidaknya kami akan membantumu bukan?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Wendy membuktikan bahwa ia sangat kesal, panik juga khawatir.

“Maaf..Saat itu…Aku tak membawa apapun..” katanya lirih.

“Yang sudah terjadi biarlah terjadi, kita tak bisa menyalahkan hari itu bukan?” Kata Joy menenangkan suasana.

“Yeri…Apa kau akan benar – benar terus bersama Jungkook?” tanya Irene tiba – tiba.

“Setidaknya sampai semua ini selesai.” Jawabnya pasrah.

“Apa yang selesai?” tanya Irene bingung.

“Tentu saja hutangnya.” Jelas Wendy, seolah menyindir Yeri yang langsung menundukkan kepalanya. Malu.

“Yak! Kami bisa membantumu Yeri.” pikir Joy.

“Tidak…Biarkan aku menyelesaikan masalahku sekarang.” katanya tersenyum melihat masing – masing temannya. Tetap mempedulikan Yeri walau mereka terlihat sungguh sangat kesal.

“Baiklah. Tapi ingat! Apapun yang terjadi padamu, beritahu kami. Kami akan sebisanya membantu. Kau mengerti?” putus Wendy di akhir perdebatan itu.

“Aku sayang kalian. Terimakasih sudah memaafkanku.” Ucapnya senang.

```
``
`

“Ayo!” ajak Jungkook pada Yeri saat ia masih terlihat sibuk memasukkan buku – bukunya ke dalam tas.

“Sabarlah sebentar.” Seru Yeri, menepis tangan Jungkook yang menarik tangannya.

“Aku sedang terburu. Ayolah!” tariknya -lagi- sedikit kasar meninggalkan kelas itu.

“YAK! Jeon Jungkook! Tak seharusnya kau menarik Yeri seperti itu. Ini sudah kesekian kalinya kau menarik lengan Yeri kasar dan kami tak suka atas perlakuanmu padanya!” pekik Wendy yang benar – benar tak habis pikir oleh hubungan mereka yang semakin lama memicu kekesalan.

“Aku punya urusan dengannya dan terserah aku akan perlakukan dia seperti apa. Itu semua bukan urusanmu Nona! Ayo!” balas Jungkook pada Wendy Joy Irene yang berdiri disana.

Seharusnya mereka bisa untuk menghentikan Jungkook saat itu kalau saja Yeri tak menatap mereka seolah memohon untuk membiarkannya mengatasi masalahnya sendiri.

“Memangnya mau kemana sih?” teriak Yeri saat Jungkook tengah mengendarai mobilnya dengan cepat.

“Diam dan duduk!” kata Jungkook dingin dan itu membuat Yeri terdiam.

‘Sebenarnya kau kenapa Jeon? Kau terlihat sungguh berbeda.’ Pikir Yeri.

``
`

“Cepat bukakan pintunya Yeri!” paksa Jungkook.

“Ini kamarku dan kenapa kau memaksaku untuk membukanya?” tanya Yeri.

“Buka dan biarkan aku masuk bodoh!” katanya kesal dan Yeri yang mengalah saat itu langsung membuka pintunya disusul Jungkook yang mendesak masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya.

“Ada apa denganmu Jeon? Kau terlihat berbeda, lebih kasar dari sebelumnya.” Tanya Yeri yang muak dengan sikap Jungkook yang nampak seenaknya di dalam kamar itu.

“Mandi dan gantilah bajumu. Pakai dress yang menurutmu nyaman dan elegan juga membuatmu terlihat cantik dan menarik.” Suruh Jungkook lembut, berbeda dengan dirinya beberap amenit yang lalu.

“Aku hanya punya satu dress yang masih terlihat layak untuk dipakai. Tapi untuk apa kau memintaku?”

“Turuti saja…Kumohon.” Katanya lemah.

Yeri bingung dan tak tahu harus bagaimana meghadapi lelaki itu mencoba untuk mengalah dan menurutinya. Ia bergegas mandi dan memakai midi dress hitam baby doll yang ia punya. Ia juga sedikit mendandani wajahnya tipis dengan beberapa kosmetik yang biasa ia gunakan.

“Aku selesai Jungkook~ah…” seru Yeri membangunkan Jungkook yang nampak tertidur.

Berkali Yeri membangunkan Jungkook namun tetap saja lelaki itu enggan untuk bangun walau sebenarnya ia berpura – pura tidur. Jungkook memang sengaja melakukannya. Ia ingin tahu bagaimana usaha Yeri untuk menghadapi sikapnya.

“Jeon Jungkook..Aku sudah selesai. Aku sudah memakai dressku dan juga sedikit berdandan, sesuai dengan apa yang kau pinta. Tapi kenapa kau malah tertidur? Begitu lamakah aku merapihkan diriku?” tanyanya sambil menghitung berapa lama waktu yang ia habiskan.

“Kookie~yaaa..” rengeknya.

Drrtttt Drrtttt Drrtttt

“Ah dimana kuletakkan benda itu?” tanya Yeri yang sibuk mencari ponselnya dan melupakan Jungkook -tak lagi menghiraukannya-.

“Dapat! Yeoboseo?” sapanya.

“Kim? Kaukah disana?” tanya penelpon itu sedikit ragu.

“Kau selalu saja memanggilku Kim. Cukup panggil aku Yeri, Oppa.” Katanya tersenyum seolah ia baru saja memperkenalkan diri pada lelaki yang tampan.

“Terserah. Begini, aku tahu ini hari liburmu, tapi bolehkah kau bekerja malam ini? Ada pesta kecil yang akan aku rayakan bersama Nayeon dan adikku juga pacarnya. Apa kau bisa? Ah aku harap kau bisa. Aku akan memberikanmu bonus. Bagaimana?” katanya cepat.

“Hmmm itu…Aku…”

“Kuanggap jawabanmu iya. Kutunggu kau satu jam lagi eoh. Terimakasih Yeri.” Simpul lelaki itu dan menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Yeri.

“Kookie…Maafkan aku…Hari ini aku tak bisa pergi bersamamu. Aku harus bekerja.” Katanya pada Jungkook yang masih mempertahankan tidurnya.

“Jeon…Hmmm yasudah, tidurlah..Sepertinya kau memang lelah. Aku pergi eoh.” Yeri menyerah dan membiarkan Jungkook tetap tidur, meninggalkan memo juga kunci kamarnya dan sebelum pergi pun, Yeri secara spontan mengusak pelan rambut Jungkook juga mencium pipinya kilat.

Blam!

“Tunggu! Apa barusan? Yeri…?” Jungkook terjaga dan merasakan hal berbeda pada dirinya.

“Sebentar. Dia kemana? Bekerja? Ah aku ingat dimana tempatnya bekerja. Aku akan meminta izin pada bosmu agar aku bisa pergi kencan denganmu.” Putusnya sendiri dengan perasaan yang senang dan nampak jelas dengan senyum yang membuatnya semakin tampan.

Jungkook meraih tasnya, kunci kamar juga memo yang Yeri tinggalkan disana dan segera pulang kerumah, mendandani dirinya untuk malam itu. Ia tak ingin terlihat buruk di depan Taehyun dan Nayeon, terlebih Yeri. Hari itu Jungkook menyadari kalau ia Yeri bukan wanita yang buruk.

```
``
`

“Sore Pak.” Sapa Yeri pada bosnya yang terlihat tampan dengan kemeja abu abu yang di bagian lengan dilipat sampai siku.

“Kau sudah datang? Sebentar. Apa kau tak salah memilih pakaian? Ini pestaku dan kau…” Lelaki itu menatap Yeri dengan tatapan aneh dan meledek.

“Ah maafkan saya pak. Tadi saya terburu dan tak ingat untuk mengganti pakaian saya. Saya akan membeli beberapa pakaian untuk saya gunakan pak.” Sadarnya akan dress yang seharusnya ia pakai untuk pergi bersama Jungkook.

“Tak perlu! Itu akan memakan waktu yang lama. Bekerjalah dengan benar.” Suruhnya dan berlalu.

‘Bodoh! Kenapa aku bisa lupa?’

```
``
`

“Sayang~” sapa Nayeon ketika ia bertemu dengan Taehyung yang terlihat sangat tampan malam itu.

“Lihatlah dirimu! Kau sungguh cantik malam ini!” puji Taehyung pada kekasihnya.

“Kau curang Nay! Lelaki yang pertama kali aku bilang tampan itu hanya aku!” Jin berusaha meledek Jungkook.

“Kau memang satu – satunya  Oppaku yang tampan dan V adalah kekasihku yang sayangnya jauh lebih tampan Oppa.” Jelas Nayeon tersenyum.

“Kau sungguh merusak suasana hatiku!” Ujar Jin dengan wajah yang dibuat sedih juga tangannya yang ia letakkan di dadanya seolah benar – benar sakit hati.

“Hahaha sudahlah Jin. Kau memang hanya berarti sebagai Oppa untuknya. Bagaimana dengan kekasih barumu itu?” Ledek Taehyung.

“Kami baru saja kenal dan belum menjadi kekasih.” Bisiknya pelan.

“Benarkah? Kurasa kau bukan seseorang yang rela mengulur waktu untuk bisa mendapatkan~Awww!”

“Sekali lagi kau kelepasan, kupotong lidahmu!” Peringatnya tegas.

“Oppa hahaha sudahlah, dia hanya bercanda.” Lerai Naeyeon tertawa melihat kelakuan Oppa juga kekasihnya yang masih sempat berkelahi karna hal kecil.

``
`

“Jawablah Yeri.” Kesal Jungkook yang terus menghubunginya tanpa ada jawaban.

‘Ah, bukankah itu Nayeon?’ pikirnya saat melihat wanita cantik berjalan bersama seorang lelaki yang tampan.

‘Nayeon…Senang melihatmu tersenyum seperti itu.’ gumamnya pelan.

“Heuh…Seharusnya aku yang bersamamu! Harusnya aku yang mendapatkanmu! Tapi kenapa harus Hyung! Kenapa!” tangisnya pecah. Dia menyesali kecerobohan yang ia buat di hari yang telah ia tentukan.

‘’

“Jadi apa yang akan kau bicarakan? Tak biasanya kau mengajakku untuk berkencan bersama.” Tanya Jin penasaran.

Taehyung tersenyum menanggapi dan membahas sebuah topik lucu untuk mencairkan suasana disana sambil menunggu yang lain datang.

Mereka yang sedang asyik bercanda dikejutkan oleh seorang wanita muda yang umurnya sebaya dengan Nayeon. Dan Jin memperkenalkannya, tentu saja wanita itu adalah teman wanitanya malam ini.

“Selamat malam. Hi Nayeon. Oh, hai perkenalkan namaku Irene.” Ucapnya sopan.

“Aku Taehyung, senang berkenalan denganmu.” Balasnya kembali duduk.

“Maaf, namamu siapa tadi?” tanya Irene memastikan.

“Taehyung. Kim Tae Hyung. Ada apa?” ulangnya.

“Ohh tidak. Tidak apa – apa.”

“Kapan kita akan mulai makan? Aku mulai lapar!” kata Jin tak sabar, manja pada Irene yang terlihat sanagt cantik malam itu.

“Kau ini! tak lihatkah ada wanita di sampingmu. Heuh kenapa kau jadi kekanakkan begini Jin? Hei nona, jangan mau pacaran dengan si manja ini. dia akan merepotkanmu!” sindir Taehyung muak melihat Jin yang terlihat kasmaran.

“Dia Oppaku sayang…” timpal Naeyeon dan sukses membuat Taehyung diam.

Namun keadaan memang sedang memihak padanya, Jungkook datang dengan pakaian rapih, namun wajahnya terlihat kacau dan itu buruk jika Taehyung tak menanyakannya langsung.

“Hmmm…Akhirnya adikku ini datang. Kau tahu kami menunggumu Kookie! Ayo duduk.” Suruhnya.

Jungkook duduk dan terdiam, menundukkan kepalanya yang terasa berat untuk di tegakkan jika melihat Nayeon di hadapannya.

“Perkenalkan. Dia adikku, Jeon Jungkook. Lihatlah betapa tampannya dia sekarang.”

“Irene?/Jungkook?” Mereka sama – sama terkejut saat itu. Mereka kembali di pertemukan dalam situasi yang tidak mengindahkan.

“Wah apa kalian saling kenal?” tanya Jin sedikit mengintimidasi.

“Kami hanya teman sekelas.” Jelas Irene

“Mana  pasanganmu?” tanya Taehyung bingung.

“Aku tak menemukannya, entahlah..” kata Jungkook putus asa.

“Hey Kim!” Panggil Taehyung.

“Ya Tuan.”

“Tolong bawakan makanan yang tadi sudah kupesankan dan siapkan minum untuk kami eoh.”

Kim mengangguk mengerti dan segera melakukan tugasnya tanpa menyadari kalau Jin Irene Jungkook memperhatikannya dari saat ia dipanggil Taehyung. Kepalanya tertutup dengan topi hitam yang merupakan seragam untuk pegawai.

“Tunggu!” panggil Irene menahan lengan pegawai bernama Kim itu.

Ia mengangkat wajahnya dan terkejut dengan Irene yang ada disana.

“Yeri?” pekik Jungkook terkejut melihat mata Yeri yang sedikit membengkak.


TBC!!

Give Me A Chance Chapter 7

Tittle : Give Me A Chance
Author : Rey
Cast : Jeon Jungkook, Kim Yerin and others.

Chapter 7


Sore itu, saat Taehyung sedang memeriksa pekerjaan dan absen bulanan karyawan, ia dikejutkan oleh seorang lelaki yang memeluknya erat, “Hyungie..”

“Kookie? Lama tak bertemu denganmu anak manja!” sapanya gemas.

“Bolehkah kita tidak berbicara disini?” pinta Jungkook yang takut jika -Taehyung Hyung- merusak imagenya yang cool.

“Baiklah. Ikut ke ruanganku.” Ajaknya.


Flashback

“Selamat sore tuan. Selamat datang di restaurant kami. Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang wanita berseragam di depan pintu masuk.

“Aku mau pesan makan dan minum yang terfavorit disini.” jawabnya asal.

“Silahkan tuan, biar saya antarkan ke meja anda.” Permisi wanita itu. “Ini tuan menunya.”

“Ah aku akan memanggilmu saat aku ingin memesan eoh.” Katanya mengusir wanita itu secara halus.

“Baiklah tuan, permisi.”

“Nona Kim? Apa kau bisa bekerja pada akhir pekan di minggu depan?” tanya seorang lelaki yang terlihat bukan seperti bos tapi seenaknya menyuruh.

“Ah tentu saja Oppa.” Jawabnya senang.

“Sudah berapa kali kubilang untuk tak memanggilku begitu di saat bekerja.” Peringatnya tegas.

“Oh maafkan saya pak.” Ucapnya.

“Yasudah, kembalilah bekerja.” Perintahnya cepat.

Saat itu Jungkook terpikir untuk mengejutkan Hyungnya dengan memeluk tubuh itu -sedikit- erat dan jahil berbisik…

End


“Apa kau baru pulang sekolah?” tanya Taehyung pada Jungkook yang terlihat kurang semangat.

“Hyung. Kapan kau akan pulang ke rumah? Aku mati kebosanan di rumah. Ayah Ibu, mereka selalu sibuk dan apa kau tahu? Kemarin mereka berusaha menjodohkanku dengan seorang gadis yang tak menarik.” Adunya menghiraukan pertanyaan Taehyung.

“Akan ada saatnya aku pulang kookie. Sudah berapa lama kita tak bertemu? Aku merindukanmu adik manja.” Peluknya akrab, mencoba melenturkan situasi yang mereka bicarakan.

“3 tahun Hyung. Lalu kapan kau akan pulang?” tanya Jungkook.

“Setelah aku berhasil melamarnya. Im Nayeon.” Seru Taehyung mantap.

“Ah wanita itukah? Jadi kalian masih menjalin hubungan? Hebat Hyung!” pujinya –berpura-pura- senang.

“Lalu kau! Kenapa tak punya pacar saja biar ayah dan ibu tak mencampuri urusan pribadimu. Huh aku jadi semakin bingung. Kenapa di saat usia kita yang masih tergolong muda, malah dipaksa untuk bertunangan? Aku tak habis pikir.” Ocehnya kesal mengingat hari dimana ia berada di posisi Jungkook.

“Aku punya pacar perjanjian hyung.” Jawabnya jujur.

“Perjanjian?” ulangnya.

“Yaaaa, sebenarnya aku tak ingin jika wanita itu dia, tapi aku tak punya pilihan lain. Entahlah Hyung. Di sekolah, kami adalah musuh tapi terkadang jika aku berada di dekatnya, muncul perasaan yang berbeda.” Jujurnya.

“Tapi mendengar ceritamu mengenai perkenalan dengan ayah ibu, apa kau..”

“Tidak Hyung. Aku hanya memintanya untuk berpura – pura.”

“Sebentar, kupikir kau jatuh cinta pada gadis itu.” godanya.

“Aku tidak!” katanya memberenggut.

“Hmmm begitukah? Lalu dimana letak perjanjiannya?” tanya Taehyung, berusaha menahan tawa.

“Perjanjiannya, dia harus menuruti semua keinginanku selama yang aku mau. Dan permintaanku mengenai berpura – pura pacaran pun termasuk ke dalamnya.”

“Jadi itu keinginanmu juga? Hei anak kecil! Kau itu memang jatuh cinta. Sudah akui saja. Jangan sampai kau menyesal karna kehilangannya!”

“Kenapa kau jadi menyebalkan sih Hyung? Sudah kubilang, aku tidak!”

“Iya iya. Jadi bagaimana bisa kalian mempunyai janji seperti itu? Ceritakan padaku!”

“Itu karna aku membantunya melunasi biaya RS ketika ia dirawat atas kebodohannya sendiri.” Tawa Taehyung meledak setelah mendengarnya.

“Membantunya? Oh sejak kapan adikku ini membantu orang lain yang -dia bilang- adalah musuh? Kurasa benar kalau kau memang jatuh cinta Kookie.”

“Aku tidak jatuh cinta Hyung! Sekarang, kami berteman karna sebuah perjanjian. Salah. Hutang. Ya hutang. Dia berhutang padaku dan dia harus membayarnya dengan menyetujui perjanjian yang aku buat.” Jelasnya tak mau kalah.

“Kurasa kau harus mengenalkan gadis itu padaku!”

“Kurasa kau tak akan menyukainya. Dia itu cerewet dan hobinya berteriak.”

“Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita bertemu saja.”

“Besok, sekalian makan malam di  sini. Double date.”

“Kau gila Hyung. Aku tak mungkin mengajaknya. Aku khawatir dia akan berpikir tidak – tidak.”

“Kau belum mencobanya. Lagi pun tak ada salahnya jika kau mengajaknya kencan. Ibu tak akan mengganggumu. Percayalah.”

“Maaf Hyung. Aku…Aku hanya tak mau ada kesalahpahaman antara kami.”

“Huhh, terserah padamu saeng.”

“Kurasa aku harus pulang. Aku lelah Hyung. Aku ingin tidur.”

“Kau ini. Baiklah, ini nomorku yang baru. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. Besok adalah hari spesialku bersama Nayeon. Kuharap kau datang.”

“Lihat besok saja Hyung. Bye Hyung. Cepat pulang eoh!” peluknya manja.

“Tunggu, aku akan mengantarmu.”

“Tak perlu hyung. Aku bisa sendiri.” Tolaknya, mengingat Taehyung yang selalu mengusak gaya rambutnya ketika akan berpamitan.

“Aku tunggu kabar daarimu. Kau hati – hati di jalan.” Ingatnya pada Jungkook yang hanya mengangguk dan segera meninggalkan restoran itu.

Jungkook melajukan mobilnya dengan kecepatan yang stabil. Ia memikirkan wanita yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Wanita yang sudah lama ia dekati dalam diam melalui pesan – pesan manis yang selalu ia kirimkan melalui ponsel Taehyung, tanpa memberitahu nama lengkapnya, ‘Aku merindukanmu. Jika saja saat itu aku mengatakan semuanya, pasti…kau akan bersama denganku saat ini.’ batinnya sedih mengingat hari dimana ia terlambat datang untuk janji kencan dengan wanita yang dicintai Hyungnya -sekarang- Im Nayeon.

```
``
`

“Pagi…” sapa Yeri ramah pada empat sahabatnya; Joy, Wendy, Irene.

“Yaaa..” jawab mereka bersamaan, singkat.

“Apa kalian masih marah padaku? Maafkan aku. sungguh aku tak berniat untuk berbohong pada kalian. Maaf…” jelasnya.

“Kau ingat? No secret between us! Tapi kau?” tunjuk Wendy.

“Wendyaa, jangan seperti itu. Dia pasti akan menjelaskannya.” Bela Irene.

“Kurasa kita harus kumpul saat istirahat nanti. Aku tak ingin kesalahpahaman ini jadi runyam dan berakhir buruk.” Kata Joy menengahi.

“Aku duduk denganmu Joy.” Kesalnya dan langsung mengganti posisi dengan Irene.

“Mianhae…” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.

```
``
`

“Ikut aku!” tarik Jungkook saat bel istirahat selesai berdering dan kelas kosong.

“Kali ini saja Jeon. Aku tak bisa. Ada sesuatu yang harus diselesaikan.”

“Memangnya apa? Kau tak ingat –“

“Aku ingat dan selalu mengingat hal itu. Hutang, janji. Iya aku ingat Jeon. Tapi tolong kali ini saja beri aku waktu untuk membicarakan suatu hal pada mereka. Aku tak ingin kehilangan mereka.” Mohonnya sangat pada Jungkook.

Jungkook yang tak mengerti tentang apa yang hendak Yeri bicarakan pada teman – temannya pun mengiyakan permintaan Yuri dengan sebuah syarat, “Baiklah tapi setelah sekolah usai kau harus ikut denganku! Tak ada penolakan”

“Terimakasih Jeon.” Senyumnya meninggalkan Jungkook sendiri di dalam kelas.

‘Baru saja aku akan marah padamu, tapi kau malah memberiku senyuman itu. Kau cantik saat tersenyum.’ Pikirnya.

``
`

“Sekarang ceritakan!” desak Wendy terburu.

“Ceritakanlah perlahan. Toh waktu istirahat masih lama.” Kata Joy menenangkan keadaan.

“Sebenarnya aku…” Yeri terdiam cukup lama, memikirkan sesuatu yang apakah ia harus memberitahukannya pada mereka atau tetap berbohong sampai keadaan kembali seperti sebelumnya.

“Kau apa Yeri?” tanya Wendy kesal.

“Aku dan Jungkook tak benar – benar pacaran. Kami hanya berpura – pura. Dia yang memintaku karna dia tak ingin dijodohkan dengan Irene.”

“Oh benarkah? Jadi hanya karna alasan itu?” tanya Joy, terkejut dengan pengakuan Yeri yang menurutnya tak masuk akal, mengigat sahabatnya itu rival dengan Jungkook.

Yeri menganggukkan kepalanya, mengiyakan keterkejutan sahabatnya.

“Kenapa kau sampai harus berbohong dan tak menceritakan pada kami sejak awal?” kesal Wendy memeluk Yeri disebelahnya, membagi rasa bersalah dan saling bermaafan.

“Aku pribadi pun sungguh tak ingin dijodohkan dengan Jungkook yang menyebalkan itu. Aku masih duduk di bangku sekolah dan aku ingin menikmati masa mudaku ini.”

“Begitupun aku.” jawab Joy Wendy bersamaan.

“Lalu bagaimana bisa kau jadi seakur itu dengan Jungkook?” tanya Wendy.

“Benar, bukankah kau sangat membenci lelaki itu?” Joy menambahkan.

“Kurasa kau merahasiakan sesuatu.” Tebak Irene.

“Itu…”


TBC!!

Minggu, 31 Juli 2016

Don't Take Off Your Glasses

Tittle : Don’t Take Off Your Glasses

Author : Rey

Cast : Song  Jong Ki – Song Hye Kyo


UKS

Krrrr terdengar suara dengkuran seorang lelaki yang tertidur lelap di ruang UKS ketika seorang siswi cantik mengendap untuk masuk, memastikan sesuatu yang di bicarakan oleh siswi lain sekelasnya.


Flashback

“Hey! Bagaimana dengan tanggapanmu tentang siapa lelaki yang terlihat misterius di kelas ini?” tanya seorang siswi cantik pada teman sebangkunya.

“Menurutku Jongki. Ya kalau saja dia melepas kacamatanya, pasti dia terlihat tampan!” Ucap siswi yang jarak duduknya tak terlalu jauh dengan siswi yang memiliki rasa ingin tahu.

“Hmmm entahlah. Aku saja tak pernah melihatnya melepas kacamata.” Timpal seorang yang lain sambil berjalan meninggalkan kelas, menikmati jam istirahat.

 ‘Apa benar seperti yang mereka bicarakan? Ah akan kupastikan!’ dengan segera ia meninggalkan kelas dan menuju ke ruang UKS, karna saat di tengah jam pelajaran tadi, Jongki mengeluh pusing dan butuh istirahat di UKS.

OFF


‘Maaf! Rasa ingin tahuku sedikit lebih tinggi dari orang biasa. Lagipun ini kesempatanku! Jarang – jarang kau ke UKS. Aku ingin membuktikan kebenarannya!’ pikirnya sambil berusaha mengambil kacamata yang bertengger di hidung Jongki.

Syut Slet Sett “Nggh..”

‘Gawat! Apa dia bangun?’ pikirnya waspada melihat Jongki yang bangun dan mencoba duduk di atas tempat tidur.

‘Tampan nggak ya…Tampan nggak ya…’ Siswi itu menunggu Jongki mendongakkan kepalanya.

“Apa?” tanya Jongki yang beraut wajah kusut dan lelah.

“Kucel.” Celetuknya asal saat melihat wajah bantal Jongki.

“Kembalikan kacamataku!” pintanya cepat pada siswi itu.

‘Gawat aku kelepasan bicara kan! Habisnya kucel banget sih.’ Pikirnya menutup mulut dengan kedua tangannya dan berjalan sedikit menjauh.

“Oi! Kembalikan sini!” bentak Jongki pada sebuah tirai yang ada di hadapannya.

‘Aku disini dan itu hanyalah sebuah tirai. Apa kau rabun parah?’ gumamnya pelan.

‘Ah sudahlah. Huuuh akhirnya aku menemukan hal menarik. Eh, kacamatanya terbawa!’ gumamnya pealn meninggalkan UKS dan mengingat kalau kacamata itu terbawa olehnya.

..
.

Gretek meja Jongki sedikit bergeser dan ada benda dalam laci mejanya yang ikut bergeser.

‘Surat?’ gumamnya, ‘Maaf! Ini pertanda maaf karna aku tak sengaja membawa kacamatamu.’ Di minumlah susu kotak yang di tempelkan pada kertas dan menyunggingkan senyumnya.

“Jongki! Kau dipanggil cewek kelas sebelah!” seru teman sekelasnya.

“Kelas sebelah?” tanyanya bingung.

“Iya..”

“Baik, termakasih.” Katanya sambil berjalan ke kelas yang dimaksudkan.

‘Dia barusan tertawa sendiri ya? / Ya seperti biasa, cowo gak bisa di tebak.’ Bisik teman – temannya.

..
.

“Si kacamata? Apa maksudnya?” pekiknya pelan pada teman sebangku yang menggosipkan perihal Song Jong Ki.

“Ssst…Kemarin Jongki ditembak sama cewe kelas sebelah. Dia bilang, ‘aku tertarik pada orang yang membawa kacamataku’, lalu menolaknya.” Bisik teman Hye Kyo pelan saat menggosip di kelas.

“Para fans Jongki jadi ribut! Kata mereka, ‘Tangkap si kacamata itu!’  Mau ditangkap loh!” lanjutnya semangat.

“Ditangkap? Maksudnya” gumam Kye Kyo pelan.

‘Sebentar! Apa yang dimaksud Jongki adalah aku? Kenapa? Jongki suka padaku, tapi…dengan penglihatannya yang parah itu.  Tak akan sadar bila itu aku…Apa mungkin dia bisa tertarik ? Padahal tidak tahu siapa orangnya.’

“Absen nomor 1 dan nomor 2, pulang sekolah nanti tolong kumpulkan catatan ya!” perintah Seonsaengnim pada dua murid di kelas dan itu membuat Hye Kyo tersentak.

*Nomer 1 : Song Hye Kyo / Nomer 2 : Song Jong Ki*

‘Si kacamata…’ lirik Hye Kyo pada Jongki, ‘Dia, kalau ditanya soal itu, oke gak ya?’ pikirnya untuk memulai suatu pembicaraan dengan Jongki.

“Apa?” tanya Jongki yang merasa risih.

‘Ah..Nggg…Yah tanya saja deh!’ putusnya, “Jongki..Kemarin kamu ditembak ya?” tanyanya pelan, “Aku berpikir, gosip soal Si Kacamata itu bener gak ya? Hehehe…”

“Ah itu…Aku menolaknya karena kurang meyakinkan, jadi aku bicara begitu.” Jelasnya.

‘Ah jadi begitu ya..’ Batin Hye Kyo.

“Tapi…Aku kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam!” lanjutnya kesal dan hal itu justru membuat Hye Kyo cemas, ‘Aku ini bagai ular, hihihi…’ imajinasinya soal Jongki.

‘Rasanya menyeramkan! Sebaiknya aku bicarakan hal lain deh! Pokoknya aku bersyukur, aku tidak ketahuan..’ yakinnya pda dirinya.

Ruang Guru

“Ini meja Seonsaengnim?” tanya Hye Kyo pada Jongki.

“Mungkin..” jawabnya ragu.

‘Buku catatan, foto..’ pikirnya ingin meihat foto apa yang terdapat di dalam catatan itu. Glek!

‘Cukup letakkan buku catatan kalian saja! Jangan sentuh apapun yang ada di atas meja!’ Hye Kyo tentu mengingat pesan itu, ‘Jangan sentuh apapun!’

‘Ah tapi aku ingin lihat..! Tidak apa kan..Sedikit saja..Buka sebentar langsung tutup..Sebentar saja..!’ rasa keingintahuannya yang terlalu besar membuatnya berpikir untuk melihat foto yang ada dalam buku catatan Seonsaengnim.

‘Tidak..Tidak boleh! Kalau situasi biasa aku akan melihatnya..Tapi sekarang ada Jongki..Apa aku harus menyerah ya? Tapi…’ Hye Kyo melirik Jongki yang ternyata juga ingin sekali tahu foto apa yang ada disana.

Jongki pun dengan segara membuka buku catatan itu dan foto yang tercetak disana sungguh membuat keduanya tertawa terbahak – bahak. Melihat foto Seonsaengnim dengan seorang wanita -mungkin pacarnya- yang perawakannya sungguh memalukan dengan riasan wajah yang tebal, cukup dikategorikan mirip dengan gorilla betina(?)

..
.

“Jongki...Pagi…” sapa Hye Kyo riang.

“Pagi…” balasnya singkat.

“Gorila cantik!” bisik Hye Kyo pada Jongki yang hanya menahan tawanya, mengingat foto kemarin, “Hidung besar!” Pft…

“Hye Kyo sejak kapan dekat dengan Jongki?” tanya temannya yang melihat kedekatan dua murid bermarga Song itu.

“Ng..hehehe…” responnya singkat. ‘Oh iya…Sebelumnya aku hampir tidak pernah bicara dengannya.  Aneh..Dari awal pun aku rasa aku tak ingin akrab dengannya.’ Pikirnya membetulkan apa yang ditanyakan temannya tadi.

..
.

“Nah dua orang yang biasanya, sekarang kembalikan peta ini ke ruangaan saya!” perintah Seonsaengnim.

“Kenapa kita jadi spesialis mengurus pekerjaan ini ya?” keluh Hye Kyo saat membawa beberapa gulung peta.

“Iya nih..” balas Jongki.

“Mendingan yang absen nomor 2 dan 3 saja!” canda Hye Kyo.

“Ih dasar! Kau mau kabur ya!” kesal Jongki.

“Ya kalau sama Jongki tak apa deh…Malah aku senang! Walau hanya kerjaan sepele begini, hahaha..” katanya jujur.

“Sebenarnya aku nggak nyangka bisa akrab dengan Jongki seperti ini…Maksudnya positif loh..” katanya lagi.

Jongki yang hanya menyimak perkataan yang dikatakan Hye Kyo merasaka sesuatu yang berbeda, “Ya..Aku juga..” jawab Jongki sekenanya.

Setelah selesai meletakkan peta – peta itu dan keluar dari ruangan, Hye Kyo melihat sebuah ruangan di sudut kiri -sebelah ruang Seonsangnim- yang baru saja di tempelkan kertas DIlarang Masuk, Hye Kyo memperhatikan pintu ruangan itu dengan seksama.

‘Jangan – jangan..’ pikir Jongki yang mulai terbiasa dengan rasa ingin tahu Hye Kyo yang besar.

Benar! Hye Kyo berjalan ke arah pintu itu tapi dengan tak sengaja kakinya terbentur dengan beberapa tumpuk kardus besar yang diletakkan disana.

“Kau ngapain sih!” protes Jongki.

“Ahahaha..kaget…” senyumnya salah tingkah namun Jongki segera menarik tubuh Hye Kyo -ke sudut belakang- menjauh dari tumpukan kardus itu.

BRAK!

“Maaf…Kau tidak apa?” seru Hye Kyo yang baru saja sadar kalau Jongki melindunginya.

‘Ah kacamatanya terlempar jauh! Berarti sekarang..’ pikirnya sambil melirik wajah Jongki yang tetap berada di depan wajahnya sekarang.

“Kau baik – baik saja?” tanya Jongki melihat Hye Kyo yang sepertinya mulai gusar dengan detak jantungnya yang dapat Jongki dengar.

‘Loh! Ini serius atau bohong! Jongki sekeren ini?’ pikirnya kaget dengan Jongki yang nampak sangat tampan tanpa kacamata yang bertengger di hidungnya.

Chu~~

‘Loh..Tadi itu..’ mendadak Hye Kyo kaku dengan apa yang baru saja dilakukan Jongki padanya.

“Ayo kembali.” Ajak Jongki santai ketika ia mengambil dan memposisikan kembali kacamatanya di area seharusnya.

‘Loh..’

..
.

‘Aku dicium olehnya? Jangan – jangan Jongki serius menyukaiku?’ pikirnya gusar.

‘Ah Jongki!’ sadarnya ketika melihat Jongki yang ada di depan loker dan ia sengaja menghindari Jongki. Hye Kyo masih malu untuk mengakui semuanya.

‘Gawat! Bagaimana..Kenapa harus begini!’ gumamnya tak karuan menyadari hatinya terus saja berdebar ketika ia tak sengaja melihat Jongki yang mungkin sering terlihat.

‘Hanya dengan melihat wajah Jongki..Kenapa aku jadi sangat berdebar – debar? Ada apa denganku?’ kesalnya sepanjang hari di sekolah.

..
.

‘Jongki..Apa yang kau pikirkan sih! Aku harus memastikan arti ciuman itu!’ putusnya menunggu Jongki di dekat lokernya, seusai pulang sekolah.

“Ah Jongki..Begini…” tergur Hye Kyo pada Jongki yang hanya jalan tanpa merespon.

‘Loh..Apa dia gak dengar ya?’ gumamnya.

“Jongki..” pangilnya sedikit berteriak.

“Jongki. Nggak apa – apa kau cuekin dia?” tanya teman Jongki yang tadi jalan bersamanya.

“Anak itu kan Si Kacamata?” tanya temannya dan terdengar oleh Hye Kyo.

Ia tersentak kaget, ‘Eh…. Dia bilang, ‘aku tertarik pada orang yang membawa kacamataku’, lalu menolaknya.’ Hye Kyo mengingat gosip yang dibicarakan oleh teman sebangkunya tempo lalu.

“Ya..Tapi..Sudah nggak ada hubungan lagi” jawab Jongki santai, seolah tak peduli dengan Hye Kyo yang mendengar atau tidak.

‘Nggak ada hubungannya? Padahal kan dia sudah menciumku!’ pikir Hye Kyo.

‘Apa maksudnya? ‘Anak itu kan Si Kacamata?’, Kenapa dia tahu? Tunggu waktu itu..Dia mengambil kacamatanya tanpa kesulitan dan dia bisa melihatku. Ah itu artinya, dari awal dia sudah tahu kalau siswi itu aku. Dia tahu.. ‘Aku kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam! Aku kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam!’ Jadi dia membuatku bingung dan membuangku. Ciuman itu sebagai balas dendam. Pembalasan dendamnya berhasil dengan sukses? Lalu nggak ada hubungan lagi.’

Emosi Hye Kyo menjadi dan berteriak, “SONG JONGKI! APA KAU PIKIR BALAS DENDAMMU ITU SUDAH BERHASIL!”

“Kalau hanya dicuekkin aja nggak akan mempan!” lanjutnya terengah.

Jongki yang bingung dengan situasi itu segera berlari menghampiri Hye Kyo yang menundukkan kepalanya.

“Ayo kita bicara di tempat lain. Banyak yang lihat..” bujuknya pada Hye Kyo dan menariknya menjauh dari sana.

“Hiks..Kenapa?” isaknya pelan.

“Aku nggak balas dendam kok.” Seru Jongki menenangkan Hye Kyo.

“Tadi kau cuek padaku…” katanya terputus – putus.

“Seminggu belakangan ini kau yang terus menghindariku bukan?” tanya Jongki lembut.

“Lalu kenapa kau menciumku? Hiks..” tanyanya menggebu.

“Soalnya aku memutuskan untuk menyukaimu!” akunya santai tanpa ragu.

Hye Kyo yang langsung terdiam dengan pengakuan Jongki kembali berpikir, “Maafkan aku…Saat itu aku bilang kalau kau kucel.”

“Ah itu..Aku hanya sedikit trauma. Gara – gara malu, aku jadi pura – pura untuk nggak lihat kamu.” Jujurnya menghapus airmata Hye Kyo.

“Begitukah? Ah jadi sekarang, apa boleh coba lepas kacamatamu?” pinta Hye Kyo senang.

“Nggak! Nanti kamu ketawa!” tolak Jongki.

“Nggak apa! Yang ketiga kali itu beruntung kok!” paksa Hye Kyo tak mau kalah.

“Apanya!” pekiknya malas.

“Atau jangan – jangan matamu bengkak ya?” goda Hye Kyo.

“Diam bodoh!” Jongki kesal dan memutuskan untuk lebih baik pergi dari sana sebelum…

“Aku juga menyukaimu Jongki.” Aku Hye Kyo ketika memeluk tubuh Jongki, ia tersenyum.


END