Minggu, 31 Juli 2016

Don't Take Off Your Glasses

Tittle : Don’t Take Off Your Glasses

Author : Rey

Cast : Song  Jong Ki – Song Hye Kyo


UKS

Krrrr terdengar suara dengkuran seorang lelaki yang tertidur lelap di ruang UKS ketika seorang siswi cantik mengendap untuk masuk, memastikan sesuatu yang di bicarakan oleh siswi lain sekelasnya.


Flashback

“Hey! Bagaimana dengan tanggapanmu tentang siapa lelaki yang terlihat misterius di kelas ini?” tanya seorang siswi cantik pada teman sebangkunya.

“Menurutku Jongki. Ya kalau saja dia melepas kacamatanya, pasti dia terlihat tampan!” Ucap siswi yang jarak duduknya tak terlalu jauh dengan siswi yang memiliki rasa ingin tahu.

“Hmmm entahlah. Aku saja tak pernah melihatnya melepas kacamata.” Timpal seorang yang lain sambil berjalan meninggalkan kelas, menikmati jam istirahat.

 ‘Apa benar seperti yang mereka bicarakan? Ah akan kupastikan!’ dengan segera ia meninggalkan kelas dan menuju ke ruang UKS, karna saat di tengah jam pelajaran tadi, Jongki mengeluh pusing dan butuh istirahat di UKS.

OFF


‘Maaf! Rasa ingin tahuku sedikit lebih tinggi dari orang biasa. Lagipun ini kesempatanku! Jarang – jarang kau ke UKS. Aku ingin membuktikan kebenarannya!’ pikirnya sambil berusaha mengambil kacamata yang bertengger di hidung Jongki.

Syut Slet Sett “Nggh..”

‘Gawat! Apa dia bangun?’ pikirnya waspada melihat Jongki yang bangun dan mencoba duduk di atas tempat tidur.

‘Tampan nggak ya…Tampan nggak ya…’ Siswi itu menunggu Jongki mendongakkan kepalanya.

“Apa?” tanya Jongki yang beraut wajah kusut dan lelah.

“Kucel.” Celetuknya asal saat melihat wajah bantal Jongki.

“Kembalikan kacamataku!” pintanya cepat pada siswi itu.

‘Gawat aku kelepasan bicara kan! Habisnya kucel banget sih.’ Pikirnya menutup mulut dengan kedua tangannya dan berjalan sedikit menjauh.

“Oi! Kembalikan sini!” bentak Jongki pada sebuah tirai yang ada di hadapannya.

‘Aku disini dan itu hanyalah sebuah tirai. Apa kau rabun parah?’ gumamnya pelan.

‘Ah sudahlah. Huuuh akhirnya aku menemukan hal menarik. Eh, kacamatanya terbawa!’ gumamnya pealn meninggalkan UKS dan mengingat kalau kacamata itu terbawa olehnya.

..
.

Gretek meja Jongki sedikit bergeser dan ada benda dalam laci mejanya yang ikut bergeser.

‘Surat?’ gumamnya, ‘Maaf! Ini pertanda maaf karna aku tak sengaja membawa kacamatamu.’ Di minumlah susu kotak yang di tempelkan pada kertas dan menyunggingkan senyumnya.

“Jongki! Kau dipanggil cewek kelas sebelah!” seru teman sekelasnya.

“Kelas sebelah?” tanyanya bingung.

“Iya..”

“Baik, termakasih.” Katanya sambil berjalan ke kelas yang dimaksudkan.

‘Dia barusan tertawa sendiri ya? / Ya seperti biasa, cowo gak bisa di tebak.’ Bisik teman – temannya.

..
.

“Si kacamata? Apa maksudnya?” pekiknya pelan pada teman sebangku yang menggosipkan perihal Song Jong Ki.

“Ssst…Kemarin Jongki ditembak sama cewe kelas sebelah. Dia bilang, ‘aku tertarik pada orang yang membawa kacamataku’, lalu menolaknya.” Bisik teman Hye Kyo pelan saat menggosip di kelas.

“Para fans Jongki jadi ribut! Kata mereka, ‘Tangkap si kacamata itu!’  Mau ditangkap loh!” lanjutnya semangat.

“Ditangkap? Maksudnya” gumam Kye Kyo pelan.

‘Sebentar! Apa yang dimaksud Jongki adalah aku? Kenapa? Jongki suka padaku, tapi…dengan penglihatannya yang parah itu.  Tak akan sadar bila itu aku…Apa mungkin dia bisa tertarik ? Padahal tidak tahu siapa orangnya.’

“Absen nomor 1 dan nomor 2, pulang sekolah nanti tolong kumpulkan catatan ya!” perintah Seonsaengnim pada dua murid di kelas dan itu membuat Hye Kyo tersentak.

*Nomer 1 : Song Hye Kyo / Nomer 2 : Song Jong Ki*

‘Si kacamata…’ lirik Hye Kyo pada Jongki, ‘Dia, kalau ditanya soal itu, oke gak ya?’ pikirnya untuk memulai suatu pembicaraan dengan Jongki.

“Apa?” tanya Jongki yang merasa risih.

‘Ah..Nggg…Yah tanya saja deh!’ putusnya, “Jongki..Kemarin kamu ditembak ya?” tanyanya pelan, “Aku berpikir, gosip soal Si Kacamata itu bener gak ya? Hehehe…”

“Ah itu…Aku menolaknya karena kurang meyakinkan, jadi aku bicara begitu.” Jelasnya.

‘Ah jadi begitu ya..’ Batin Hye Kyo.

“Tapi…Aku kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam!” lanjutnya kesal dan hal itu justru membuat Hye Kyo cemas, ‘Aku ini bagai ular, hihihi…’ imajinasinya soal Jongki.

‘Rasanya menyeramkan! Sebaiknya aku bicarakan hal lain deh! Pokoknya aku bersyukur, aku tidak ketahuan..’ yakinnya pda dirinya.

Ruang Guru

“Ini meja Seonsaengnim?” tanya Hye Kyo pada Jongki.

“Mungkin..” jawabnya ragu.

‘Buku catatan, foto..’ pikirnya ingin meihat foto apa yang terdapat di dalam catatan itu. Glek!

‘Cukup letakkan buku catatan kalian saja! Jangan sentuh apapun yang ada di atas meja!’ Hye Kyo tentu mengingat pesan itu, ‘Jangan sentuh apapun!’

‘Ah tapi aku ingin lihat..! Tidak apa kan..Sedikit saja..Buka sebentar langsung tutup..Sebentar saja..!’ rasa keingintahuannya yang terlalu besar membuatnya berpikir untuk melihat foto yang ada dalam buku catatan Seonsaengnim.

‘Tidak..Tidak boleh! Kalau situasi biasa aku akan melihatnya..Tapi sekarang ada Jongki..Apa aku harus menyerah ya? Tapi…’ Hye Kyo melirik Jongki yang ternyata juga ingin sekali tahu foto apa yang ada disana.

Jongki pun dengan segara membuka buku catatan itu dan foto yang tercetak disana sungguh membuat keduanya tertawa terbahak – bahak. Melihat foto Seonsaengnim dengan seorang wanita -mungkin pacarnya- yang perawakannya sungguh memalukan dengan riasan wajah yang tebal, cukup dikategorikan mirip dengan gorilla betina(?)

..
.

“Jongki...Pagi…” sapa Hye Kyo riang.

“Pagi…” balasnya singkat.

“Gorila cantik!” bisik Hye Kyo pada Jongki yang hanya menahan tawanya, mengingat foto kemarin, “Hidung besar!” Pft…

“Hye Kyo sejak kapan dekat dengan Jongki?” tanya temannya yang melihat kedekatan dua murid bermarga Song itu.

“Ng..hehehe…” responnya singkat. ‘Oh iya…Sebelumnya aku hampir tidak pernah bicara dengannya.  Aneh..Dari awal pun aku rasa aku tak ingin akrab dengannya.’ Pikirnya membetulkan apa yang ditanyakan temannya tadi.

..
.

“Nah dua orang yang biasanya, sekarang kembalikan peta ini ke ruangaan saya!” perintah Seonsaengnim.

“Kenapa kita jadi spesialis mengurus pekerjaan ini ya?” keluh Hye Kyo saat membawa beberapa gulung peta.

“Iya nih..” balas Jongki.

“Mendingan yang absen nomor 2 dan 3 saja!” canda Hye Kyo.

“Ih dasar! Kau mau kabur ya!” kesal Jongki.

“Ya kalau sama Jongki tak apa deh…Malah aku senang! Walau hanya kerjaan sepele begini, hahaha..” katanya jujur.

“Sebenarnya aku nggak nyangka bisa akrab dengan Jongki seperti ini…Maksudnya positif loh..” katanya lagi.

Jongki yang hanya menyimak perkataan yang dikatakan Hye Kyo merasaka sesuatu yang berbeda, “Ya..Aku juga..” jawab Jongki sekenanya.

Setelah selesai meletakkan peta – peta itu dan keluar dari ruangan, Hye Kyo melihat sebuah ruangan di sudut kiri -sebelah ruang Seonsangnim- yang baru saja di tempelkan kertas DIlarang Masuk, Hye Kyo memperhatikan pintu ruangan itu dengan seksama.

‘Jangan – jangan..’ pikir Jongki yang mulai terbiasa dengan rasa ingin tahu Hye Kyo yang besar.

Benar! Hye Kyo berjalan ke arah pintu itu tapi dengan tak sengaja kakinya terbentur dengan beberapa tumpuk kardus besar yang diletakkan disana.

“Kau ngapain sih!” protes Jongki.

“Ahahaha..kaget…” senyumnya salah tingkah namun Jongki segera menarik tubuh Hye Kyo -ke sudut belakang- menjauh dari tumpukan kardus itu.

BRAK!

“Maaf…Kau tidak apa?” seru Hye Kyo yang baru saja sadar kalau Jongki melindunginya.

‘Ah kacamatanya terlempar jauh! Berarti sekarang..’ pikirnya sambil melirik wajah Jongki yang tetap berada di depan wajahnya sekarang.

“Kau baik – baik saja?” tanya Jongki melihat Hye Kyo yang sepertinya mulai gusar dengan detak jantungnya yang dapat Jongki dengar.

‘Loh! Ini serius atau bohong! Jongki sekeren ini?’ pikirnya kaget dengan Jongki yang nampak sangat tampan tanpa kacamata yang bertengger di hidungnya.

Chu~~

‘Loh..Tadi itu..’ mendadak Hye Kyo kaku dengan apa yang baru saja dilakukan Jongki padanya.

“Ayo kembali.” Ajak Jongki santai ketika ia mengambil dan memposisikan kembali kacamatanya di area seharusnya.

‘Loh..’

..
.

‘Aku dicium olehnya? Jangan – jangan Jongki serius menyukaiku?’ pikirnya gusar.

‘Ah Jongki!’ sadarnya ketika melihat Jongki yang ada di depan loker dan ia sengaja menghindari Jongki. Hye Kyo masih malu untuk mengakui semuanya.

‘Gawat! Bagaimana..Kenapa harus begini!’ gumamnya tak karuan menyadari hatinya terus saja berdebar ketika ia tak sengaja melihat Jongki yang mungkin sering terlihat.

‘Hanya dengan melihat wajah Jongki..Kenapa aku jadi sangat berdebar – debar? Ada apa denganku?’ kesalnya sepanjang hari di sekolah.

..
.

‘Jongki..Apa yang kau pikirkan sih! Aku harus memastikan arti ciuman itu!’ putusnya menunggu Jongki di dekat lokernya, seusai pulang sekolah.

“Ah Jongki..Begini…” tergur Hye Kyo pada Jongki yang hanya jalan tanpa merespon.

‘Loh..Apa dia gak dengar ya?’ gumamnya.

“Jongki..” pangilnya sedikit berteriak.

“Jongki. Nggak apa – apa kau cuekin dia?” tanya teman Jongki yang tadi jalan bersamanya.

“Anak itu kan Si Kacamata?” tanya temannya dan terdengar oleh Hye Kyo.

Ia tersentak kaget, ‘Eh…. Dia bilang, ‘aku tertarik pada orang yang membawa kacamataku’, lalu menolaknya.’ Hye Kyo mengingat gosip yang dibicarakan oleh teman sebangkunya tempo lalu.

“Ya..Tapi..Sudah nggak ada hubungan lagi” jawab Jongki santai, seolah tak peduli dengan Hye Kyo yang mendengar atau tidak.

‘Nggak ada hubungannya? Padahal kan dia sudah menciumku!’ pikir Hye Kyo.

‘Apa maksudnya? ‘Anak itu kan Si Kacamata?’, Kenapa dia tahu? Tunggu waktu itu..Dia mengambil kacamatanya tanpa kesulitan dan dia bisa melihatku. Ah itu artinya, dari awal dia sudah tahu kalau siswi itu aku. Dia tahu.. ‘Aku kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam! Aku kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam!’ Jadi dia membuatku bingung dan membuangku. Ciuman itu sebagai balas dendam. Pembalasan dendamnya berhasil dengan sukses? Lalu nggak ada hubungan lagi.’

Emosi Hye Kyo menjadi dan berteriak, “SONG JONGKI! APA KAU PIKIR BALAS DENDAMMU ITU SUDAH BERHASIL!”

“Kalau hanya dicuekkin aja nggak akan mempan!” lanjutnya terengah.

Jongki yang bingung dengan situasi itu segera berlari menghampiri Hye Kyo yang menundukkan kepalanya.

“Ayo kita bicara di tempat lain. Banyak yang lihat..” bujuknya pada Hye Kyo dan menariknya menjauh dari sana.

“Hiks..Kenapa?” isaknya pelan.

“Aku nggak balas dendam kok.” Seru Jongki menenangkan Hye Kyo.

“Tadi kau cuek padaku…” katanya terputus – putus.

“Seminggu belakangan ini kau yang terus menghindariku bukan?” tanya Jongki lembut.

“Lalu kenapa kau menciumku? Hiks..” tanyanya menggebu.

“Soalnya aku memutuskan untuk menyukaimu!” akunya santai tanpa ragu.

Hye Kyo yang langsung terdiam dengan pengakuan Jongki kembali berpikir, “Maafkan aku…Saat itu aku bilang kalau kau kucel.”

“Ah itu..Aku hanya sedikit trauma. Gara – gara malu, aku jadi pura – pura untuk nggak lihat kamu.” Jujurnya menghapus airmata Hye Kyo.

“Begitukah? Ah jadi sekarang, apa boleh coba lepas kacamatamu?” pinta Hye Kyo senang.

“Nggak! Nanti kamu ketawa!” tolak Jongki.

“Nggak apa! Yang ketiga kali itu beruntung kok!” paksa Hye Kyo tak mau kalah.

“Apanya!” pekiknya malas.

“Atau jangan – jangan matamu bengkak ya?” goda Hye Kyo.

“Diam bodoh!” Jongki kesal dan memutuskan untuk lebih baik pergi dari sana sebelum…

“Aku juga menyukaimu Jongki.” Aku Hye Kyo ketika memeluk tubuh Jongki, ia tersenyum.


END

Rabu, 27 Juli 2016

Your Lips

Tittle : Your Lips
Author : Rey
Cast : ASTRO Moon Bin & Fey (OC) with ASTRO Eunwoo as classmate, iKon Chanwoo as Seonsaeng.


“Fey! Mulai satu minggu ini kau jadi pengurus perpustakaan. Kenapa malah mau pulang?!” pekik Eunwoo ketika Fey beranjak meninggalkan kursinya.

“Hngg…Kenapa aku?” tanya Fey bingung.

“Soalnya kau bolos saat pemilihan.” Jelas Eunwoo sedikit kesal.

“Bikin repot ah! Aku mau pu…”

“Aku suka banget sama Fey yang bekerja dengan baik loh.” Pernyataan Fey yang ingin pulang pun batal dikatakan setelah Eunwoo berbicara lembut.

Fey suka ketika orang lain berbicara lembut padanya, walaupun ia terpaksa melakukan sesuatu yang tak ia sukai. ‘Ukh…Aigoo..’

“Binyaa, kau sungguh tak ingin ikut kencan buta hari ini?” tanya seorang teman lelaki yang masih berada di dalam kelas, namun Moonbin tetap bisu dan merapihkan beberapa buku yang harus dibawa.

Fey melihat Moon Bin yang berjalan ke ruang perpustakaan dengan buku – buku yang tadi dikumpulkan pun dengan tidak sengaja mengerti siapa partner yang bertugas jadi pengurus perpustakaan, ‘Aku jadi pengurus perpustakaan bersama dengan dia? Aku bahkan tidak tertarik untuk berkomunikasi dengannya.’

Clek

‘Wah dia sudah mulai kerja?’ pikir Fey yang entah mengapa mata Moonbin menatapnya tajam, “Ma…Maaf aku telat.” Fey terbata menuturkan maaf pada Moonbin yang terus menatapnya, “Kamu marah?” tanya Fey pelan.

Tak ada jawaban atau respon dari Moonbin, -‘Ugh! Nggak mungkin bisa ngobrol kan! Makanya aku nggak suka dia!’- Moonbin membuang wajah ke lain arah dan merapihkan beberapa buku yang masih berserakan di atas meja perpustakaan itu. ‘Aku sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkannya. Ah tapi…!’ pikiran Fey teralihkan ketika melihat bibir Moonbin.

“Bibirmu berdarah tuh. Ngg itu, disituu..” tunjuk Fey pada bibir Moonbin.

“Ah! Tadi tergigit.” Jawabnya santai tanpa melihat Fey.

“Ter..” katanya terputus ketika ia memikirkan hal yang mesum, ‘Dia orang seperti itu ya? Dia melakukan itu di perpustakaan? Nakal!’ Fey kesal.

Esoknya..

‘Huhhh, aku jadi penasaran dengan Moon Bin…’ Fey melamun -teringat hari kemarin- saat jam istirahat.

“Binyaa!” teriak Eunwoo -teman sekelasnya- yang tak sengaja mengejutkan Fey. Deg Deg Deg deg Deg!

Fey menoleh pada Moonbin, terjadi kontak mata dan jantungnya semakin berdebar lebih cepat.

“Maaf..Titip belikan minum ya!” teriaknya lagi walau sudah meminta maaf pada Fey dan Moonbin pun melenggang keluar kelas.

..
.

KLANG “Ini minummu.” Sodor Moonbin pada Eunwoo.

‘Eh..Bulir jeruk seenak daging…’ dahi Fey mengernyit bingung melihat tulisan di kaleng minuman itu.

“Sebentar..Seenak daging tuh maksudnya bulir jeruk apaan nih! Sial! Jadi gak berani minum kan!” omel Eunwoo kesal.

Brr…Brr…

‘Dia tertawa? Eh, ini orang suka iseng ya? Habisnya barusan di terlihat jelas – jelas senang.’ pikirnya geli, menggeleng – gelengkan kepalanya.

Fey yang sepanjang hari itu terus memperhatikan Moonbin dengan sangat, masih penasaran dengan bibir Moon Bin yang terluka. ‘Ah! Jarinya terjepit tempat pensil. Ahh dijilat.. Hmm, misteri…’ pikirnya tertarik.

“Sakit…” rintih Moon Bin pelan sambil terus menjilat bagian jarinya yang terjepit.

Esoknya..

“Ah! Fey hari ini cepat ya!” sapa Chanwoo Seonsaeng pada Fey yang hanya tersenyum menanggapinya.

‘Hanya ada Chanwoo Seonsaengnim saja. Hari ini dia masih belom datang ya?’ pikir Fey sedih. ‘Hmm terpaksa deh.. -mulai kerja- hari ini ----- Ah salah! Gawat’ Fey panik karna kesalahan penulisannya pada kartu pinjam buku.

“Butuh penghapus?" tanya seorang lelaki yang suaranya terdengar familiar.

Fey mendongakkan kepala dan memastikan kalau suara itu berasal dari Moonbin. “Ah Makasih.” Katanya sambil mulai menghapus tulisannya.

Sruk Sruk ‘Eh loh! Kok nggak bisa dihapus? Kenapa? Ja...Jangan – jangan isi pensil dimasukkan ke dalam penghapus?’ herannya dan meneliti penghapus yang dipinjamkan Moonbin.

Ziiing lirik Fey pada Moon Bin yang terlihat jelas menahan tawanya, Pft!

‘Ah sepertinya aku mengerti. Dia ini memang suka iseng. Sebenarnya dia punya  sisi yang kekanak – kanakan. -Tergigit- Makanya dia bilang begitu’ pikirnya, ‘Tuh, wajahnya senang banget waktu menertawakan orang, ‘kan?’

Esoknya…

Fey dan Moonbin sedang duduk di meja kosong yang buku – bukunya baru saja mereka susun rapih ke dalam rak buku. Fey yang terus penasaran dengan Moonbin, hanya duduk diam meperhatikan lelaki itu dengan seksama.

“Binyaaa, belum lama ini kau beli minuman bulir jeruk dimana?” tanya Fey membuka pembicaraannya.

“Kau senang melihat orang kebingungan ya?” tanya Fey lagi tanpa adanya sahutan dari Moonbin. ’Eih kenapa sih…Diajak mengobrol tapi dia tidak mau menjawab?’

Fey yang kesal, memilih duduk terdiam sambil meletakkan kepalanya di atas meja dan untuk beberapa menit lamanya, ia terus memandangi lelaki iseng yang duduk di hadapannya -Moonbin- mulai berpikir, ‘Cowo ini tidak mau menengok ke arahku ya?’

Moonbin yang merasa terganggu dengan tatapan yang diberikan Fey itu, segera melirik tajam seolah mengatakan, ‘Kenapa kau terus menatapku seperti itu!’

Fey yang –mungkin- tersadar segera menggelengkan kepalanya, “Binyaa, badanmu atletis ya, hahaha! Entah kenapa aku jadi mikir gitu tanpa sadar..”

“Ah, aku sering dibilang begitu!” Jawabnya singkat.

‘Dia menjawab! Apa topik mengenai bentuk tubuh itu bagus ya?’ pikir Fey.

“Kalau perutku bentuknya gak bagus! Bahkan ibuku sampai bilang, itu akan merusak keimutanmu…” cerita Monbin pada Fey.

Fey tiba – tiba berdiri dan menanggapi cerita Moonbin dengan, -“Aku nggak memperlihatkan kepada keluarga kok.”- tanpa sadar menyingkap sedikit kemeja seragamnya dan disambut dengan tatapan menggemaskan dari Moonbin.

‘Sebentar. Apa aku bilang, nggak memperlihatkan kepada keluarga?’ pikirnya cepat sambil merapihkan kemejanya.

“He! Jadi kepada siapa?” Seringai Moonbin.

‘Nah dia bicara seperti itu lagi? Padahal tidak ada maksud yang dalam tapi, ia membuat orang kebingungan.’ Batinnya kesal. Kesal atas tindakannya yang terbilang aneh barusan. Apa – apaan jika seorang cewe ingin memperlihatkan bentuk perutnya pada cowo yang bukan siapa – siapanya?

“Apa mau aku perlihatkan padamu?” bisik Moonbin, menciptakan sebuah sensasi asing pada Fey yang nampak berkeringat.

BLAM! “Ohh, kalian masih bekerja? Aku ganggu ya? Hehehe.” tanya Chanwoo Seonsaeng dengan senyumnya yang manis.

‘Hampir saja!’ seru Fey dalam diam. Memikirkan hal yang tidak – tidak.

“Chanwoo Seonsaengnim!” panggil Moonbin sedikit terkejut juga tersenyum.

Fey merasa lega sejak sebelumnya terlihat berkeringat dingin dengan detak jantung yang berdentum cepat -lagi- akibat kesalahan kecil atas sikap tak diduga terhadap Moonbin, heran pada perubahan nada bicara dan sikapnya pada Chanwoo Seonsaeng. ‘Kalau sama Chanwoo Seonsaengnim, responnya cepat banget!’

“Wah Moonbinyaaa…Bibirmu sudah sembuh betul ya!” Kata Chanwoo Seonsaeng senang.

“Yah - ”

“A…Aku ke toilet dulu.” Potong Fey meninggalkan mereka di perpustakaan.

‘Apa maksudnya? Euh, apakah Chanwoo Seonsaengnim yang menggigit bibir Moonbin? Dia berciuman dengan Moonbin? Hiks, kenapa aku sedih sih!’ tangis Fey -ketika ia berada dalam salah satu ruang toilet- yang belum menyadari perasaannya pada Moonbin dan berpikir macam – macam.

“Anda ini macan betina ya!” ucapnya kesal pada Chanwoo Seonsaeng.

“Eh? Apa maksudmu Moonbinyaaa? Tapi sudahlah. Aku kan kemari hanya untuk mengambil tasku dan juga mengingatkan kalian untuk jangan pulang terlalu sore. Aku pergi eoh!” jelas Chanwoo Seonsaeng terburu pada Moonbin yang -sepertinya- tak mendengarkan apa yang disampaikan.

Sedangkan Fey yang sibuk menangis di toilet tersadar akan satu hal, ‘Lagi – lagi aku tak mengerti Moonbin. Tapi...Aku mengerti perasaanku sendiri! Aku ingin mencium Moonbin…’ pikirnya sambil menghapus airmatanya dan berjalan kembali ke perpustakaan.

Fey menemui Moonbin, ‘Aku menyukai cowok ini!’ katanya dalam hati sambil mencium Moonbin yang tak bergerak sama sekali ketika Fey datang dan menyambarnya dengan ciuman hangat, tetap di bibirnya.

“Lebih baik daripada ciuman Chanwoo Seonsaengnim nggak?” tanya Fey terus terang.

‘Hah? Tunggu dulu! Macan betina?’ pikir Moonbin heran dengan apa yang diucapkan Fey dan hendak menjawabnya, namun…

“Nggak! Jangan dijawab! Aku tahu itu pertanyaan lancang! Tapi mulai sekarang, aku akan berjuang supaya bisa menjadi macan betina yang Moonbin suka!” Kata Fey panjang lebar, “Makanya pandanglah aku.”

“Haa…Padahal aku hanya bermaksud sedikit jahil padamu. Mungkinkah kau memperhatikanku hingga kau menyadari bahwa kau juga menyukaiku? Hey! Ada satu kesalahpahaman kecil yang ingin kujelaskan.” Katanya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Fey, berbisik.

“Apa! Kamu nabrak rak buku lalu bibirmu berdarah?” ulangnya kaget.

“Iya…Waktu kontak lensaku jatuh, Chanwoo Seonsaengnim melihatnya langsung.” Jelas Moonbin pada Fey yang terkejut di depannya.

‘Cih! Kenapa orang ini! biasa begitu ya?’ Fey menggerutu kesal dan ‘Tapi yasudahlah! Kali ini dia -Moonbin- yang akan menjadi korban!’ pikirnya.

Fey mendekatkan bibirnya pada Moonbin yang tersentak kaget. “Aku terlanjur menciummu dan aku menyukaimu Moonbinyaaa. Aku ingin menciummu lagi dan lagi…Hmmm, kalau tergigit maaf yaaa…” katanya dan kembali mencium Moonbin yang menyambutnya dengan senang hati.

‘Siap – siap untuk penasaran dan jatuh cinta lebih dalam lagi padaku Fey.’


END !!!

Minggu, 17 Juli 2016

Give Me A Chance Chapter 6

Tittle : Give Me A Chance
Author : Rey
Cast : Jeon Jungkook, Kim Yerin and others.
Chapter 6

Flashback

Jungkook yang sudah 15 menit berdiri di depan pintu kamar Yeri, berpikir untuk mengetuk pintu kamar Yeri atau tidak. Ia merasakan perasaan yang aneh sejak ia memperkenalkan Yeri pada orangtuanya sebagai seorang pacar. Dan disinilah dia, menjemput Yeri.

“Jeon?” Panggil Yeri yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Ayo.” Ajak Jungkook ketika pintu itu terbuka.

“Kau! Ihhhh mengagetkanku saja. Buat apa kau datang kesini?” tanya Yeri kesal.

“Tentu saja menjemputmu! Cepat. Aku tak ingin terlambat.” Ajaknya.

“Mana mungkin terlambat.” Kata Yeri, melihat jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.

“Cerewet!” seru Jungkook meninggalkan Yeri.

“Ini masih terlalu pagi dan aku mau membawa sepedaku ke bengkel. Lagi juga kau kan bisa pergi ke sekolah tanpa aku yang ikut bersamamu.” Katanya mengikuti Jungkook.

“Kenapa kau repot – repot menjemputku sih? Aku kan biasa bersepeda.” Tanyanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“Memangnya sepedamu itu sudah kau bisa dikendarai?” Tanya Jungkook.

“Kurasa ban yang kempes mudah untuk diatasi.” Jelasnya tanpa tanggapan Jungkook.

“Kim. Mulai hari ini, kau harus berangkat dan pulang bersamaku!” SImpul Jungkook setelah ia meyakinkan hatinya untuk menjalani hubungan palsu ini dengan Yeri pada orangtuanya juga Irene.

“Aku tak ingin orangtuaku curiga. Ibu, dia selalu mengorek informasi tetang hubunganku dengan seorang gadis. Jadi berhubung kau yang kukenalkan, aku minta tolong padamu. Bantu aku, eoh.” Pinta Jungkook.

“Eih apa – apaan kau! Shireo!” protes Yeri.

“Ingat perjanjian kita kan?” kata Jungkook kesal.

“Aku tahu tapi…Aku tak bisa Jeon. Apa kata mereka nanti?” tanya Yeri khawatir.

“Ah teman – teman sekolah? Kau tenang saja. Kita tak akan terlihat bersama ketika di sekolah dan aku akan selalu menurunkanmu di ujung jalan, jadi kau bisa menggunakan kakimu itu untuk jalan ke sekolah.” Jelasnya santai.

“Menyebalkan! Lebih baik aku bersepeda!” kata Yeri malas tanpa ada jawaban dari Jungkook.

Off


Jungkook terlihat cuek dan melajukan mobilnya ke sebuah tempat makan cepat saji dan memesan makanan.

“Kau memesan makanan?” tanya Yeri bingung.

“Aku butuh sarapan. Kau mau?” tawarnya pada Yeri.

“Bolehkah? Hmm tapi apa akan menambah biaya tagihanku?” tanyanya lagi.

“Ini bonus.” Katanya dan memesan satu paket makanan lagi yang sama pada operator.

“Gomawo Yeriah.” Seru Jungkook pelan.

“Ne?”

“Thanks for yesterday.” Serunya lagi.

“Gwechana Jungkookah…” Senyumnya tulus, seolah lupa akan apa yang terjadi beberapa waktu lalu.

‘Kau terlihat cantik saat tersenyum seperti ini Yeri.’ Pikir Jungkook tanpa disadarinya.

“Yak! Jungkookah. Berhenti menatapku seperti itu dan ambillah pesanannya.” Tegur Yeri.

“Ah iya. Gomawo Ahjumma.” Sadarnya dan mengambil pesanannya lalu menepikan mobilnya ke dekat taman di daerah sana.

“Tadi kenapa kau menatapku dengan tatapan yang aneh? Apa ada yang salah?” tanya Yeri sambil membuka plastik makanannya.

“Kau memang aneh bukan?” sindir Jungkook berusaha menyembunyikan kekonyolan dirinya.

“Aku adalah pacarmu dan kupikir jika aku terlihat aneh, terimalah.” Balasnya percaya diri.

“Pacar? Bukankah kita masih bermusuhan?” godanya.

“Molla! Ayo jalankan mobilmu ini. Aku tak ingin terlambat!” pekik Yeri menutupi perasaan malunya.

“Wow! Katamu ini masih terlalu pagi bukan? Kau membuatku gemas Kim.” Kekehnya sambil mengusak rambut Yeri kasar.

“YAK!!!!!”


```
``
`

‘Dia terlihat sangat tampan. Siapa nama lelaki itu? Apa kami akan mendapat kelas yang sama?’ pikirnya senang dengan imajinasi yang masih sangat labil.

“Kau! Aku minta buku dan alat tulismu. Aku membutuhkannya sekarang. Cepat!” pintanya kasar ditegah imajinasi masih yang ia bayangkan.

Sayangnya imajinasi itu sirna dan berubah menjadi benci, walau gadis itu masih memberikan sedikit perhatian pada lelaki menyebalkan baginya. Di sela – sela kegiatan masa orientasi pun, mereka seringkali saling menyalahkan dan membuat sedikit keributan hingga mereka dihukum untuk bersepeda kelilingi lapangan olahraga sebanyak 3 kali, dimana si lelaki itu yang membonceng si gadis, awalnya ia menolak namun melihat teman – teman lain yang memandangnya seperti pengecut, ia segera membonceng gadis tersebut dan di putaran ke dua, dengan sengaja ia menjatuhkan gadis itu dan pergi begitu saja. Esok hari pun ia tak sudi berbaris di antara teman – temannya dan lebih memilih tinggal di kelasnya dan tak ada satu pun yang berani memintanya untuk bergabung setelah tahu bahwa dia anak dari penyumbang dana terbanyak di sekolah itu, Jungkook. Dia Jeon Jungkook.
```
``
`

“Yeri ceritakan!” seru teman – temannya bersamaan saat jam istirahat, memojokan Yeri.

“Ada apa?” tanya Yeri bingung.

“Sejak kapan kau dan Jungkook bersama? Kenapa kau tak bilang pada kami?” tanya mereka bergantian.

“Dia tak mengizinkan, jadi maafkan aku karna aku belum bilang apapun pada kalian.” Bohong Yeri menundukan kepalanya.

“Yasudah baiklah, kami mengerti. Tapi jika kau bertengkar dengannya, jangan melapor atau meminta bantuan pada kami.” Ancam teman – temannya kesal.

“Maafkan aku…Aku…”

Kalimat yang ingin disampaikan Yeri terputus ketika Jungkook menarik lengannya, “Ah maaf, aku butuh anak ini. Ayo!”

“Eih kau ini mengganggu saja. Kenapa menarik lenganku seperti ini? Aku tak ingin mereka semua salah paham Jeon!”

“Biarkan mereka menerka – nerka sesuatu yang bukan urusan mereka. Aku tak mau ambil pusing akan itu.”

“Sebenarnya kau mau apa sih?” tanya Yeri kesal.

“Belikan aku makan siang dan jangan sampai salah. Aku akan duduk di tempat kemarin. Kau juga beli dan makan siang bersamaku.”

“Shireo!”

“Ini perintah dan bukan permintaan! Ingat perjanjian kita bukan?”

“KAU! Aishh baiklah. Kau tunggu disana.” Omelnya pelan.

“Good girl.” Tawanya mengusak rambut Yeri.

“Apa mereka benar – benar pacaran? Kenapa aku kurang yakin ya?” pikir teman – teman Yeri melhat interaksi antara Yeri dan Jungkook.

``
`

“Naiklah! Kuantar kau pulang.” Ajak Jungkook dari balik kemudinya, menawarkan tumpangan pada Yeri yang sedang berdiri di halte.

“Aku belom akan pulang. Aku harus bekerja Jeon, kau pulang saja sana.”

“Aku akan mengantarmu Kim. Ayo naiklah!” paksanya lembut.

“Kau yakin?” tanya Yeri ragu.

“Tentu saja! Cepat!”

Yeri meruntuhkan keegoisannya untuk menerima tawaran Jungkook karna ia juga lelah menunggu bus yang sudah 1 jam tak kunjung datang membawanya pergi dari halte itu.

``
`

Sampai di depan tempat Yeri bekerja, Jungkook merasa tak asing dengan sebuah restoran dan ia turun dari mobilnya.

“Kenapa kau turun? Pulanglah dan terimakasih.” Ucap Yeri tulus dari hatinya.

“Hmm aku rasa aku kenal tempat ini.” gumamnya.

“Hahaha kau ini, tentu saja kau kenal. Sekitar sini kan restoran. Kalau begitu, aku masuk dulu eoh.” Kata Yeri.

‘Apa ini milik Taehyung Hyung? Ah lebih baik aku masuk untuk memastikannya.’ Pikir Jungkook.


TBC !!!