Tittle
: Don’t Take Off Your Glasses
Author
: Rey
Cast
: Song Jong Ki – Song Hye Kyo
UKS
Krrrr terdengar suara dengkuran
seorang lelaki yang tertidur lelap di ruang UKS ketika seorang siswi cantik
mengendap untuk masuk, memastikan sesuatu yang di bicarakan oleh siswi lain
sekelasnya.
Flashback
“Hey!
Bagaimana dengan tanggapanmu tentang siapa lelaki yang terlihat misterius di
kelas ini?” tanya seorang siswi cantik pada teman sebangkunya.
“Menurutku
Jongki. Ya kalau saja dia melepas kacamatanya, pasti dia terlihat tampan!” Ucap
siswi yang jarak duduknya tak terlalu jauh dengan siswi yang memiliki rasa
ingin tahu.
“Hmmm
entahlah. Aku saja tak pernah melihatnya melepas kacamata.” Timpal seorang yang
lain sambil berjalan meninggalkan kelas, menikmati jam istirahat.
‘Apa benar seperti yang mereka bicarakan? Ah
akan kupastikan!’
dengan segera ia meninggalkan kelas dan menuju ke ruang UKS, karna saat di
tengah jam pelajaran tadi, Jongki mengeluh pusing dan butuh istirahat di UKS.
OFF
‘Maaf! Rasa ingin tahuku
sedikit lebih tinggi dari orang biasa. Lagipun ini kesempatanku! Jarang –
jarang kau ke UKS. Aku ingin membuktikan kebenarannya!’ pikirnya sambil berusaha
mengambil kacamata yang bertengger di hidung Jongki.
Syut Slet Sett “Nggh..”
‘Gawat! Apa dia bangun?’ pikirnya waspada melihat
Jongki yang bangun dan mencoba duduk di atas tempat tidur.
‘Tampan nggak ya…Tampan nggak
ya…’ Siswi itu
menunggu Jongki mendongakkan kepalanya.
“Apa?”
tanya Jongki yang beraut wajah kusut dan lelah.
“Kucel.”
Celetuknya asal saat melihat wajah bantal Jongki.
“Kembalikan
kacamataku!” pintanya cepat pada siswi itu.
‘Gawat aku kelepasan bicara
kan! Habisnya kucel banget sih.’
Pikirnya menutup mulut dengan kedua tangannya dan berjalan sedikit menjauh.
“Oi!
Kembalikan sini!” bentak Jongki pada sebuah tirai yang ada di hadapannya.
‘Aku disini dan itu hanyalah
sebuah tirai. Apa kau rabun parah?’
gumamnya pelan.
‘Ah sudahlah. Huuuh akhirnya
aku menemukan hal menarik. Eh, kacamatanya terbawa!’ gumamnya pealn meninggalkan
UKS dan mengingat kalau kacamata itu terbawa olehnya.
..
.
Gretek
meja
Jongki sedikit bergeser dan ada benda dalam laci mejanya yang ikut bergeser.
‘Surat?’ gumamnya, ‘Maaf! Ini pertanda maaf karna aku tak
sengaja membawa kacamatamu.’ Di minumlah susu kotak yang di tempelkan pada
kertas dan menyunggingkan senyumnya.
“Jongki!
Kau dipanggil cewek kelas sebelah!” seru teman sekelasnya.
“Kelas
sebelah?” tanyanya bingung.
“Iya..”
“Baik,
termakasih.” Katanya sambil berjalan ke kelas yang dimaksudkan.
‘Dia barusan tertawa sendiri
ya? / Ya seperti biasa, cowo gak bisa di tebak.’ Bisik teman – temannya.
…
..
.
“Si
kacamata? Apa maksudnya?” pekiknya pelan pada teman sebangku yang menggosipkan
perihal Song Jong Ki.
“Ssst…Kemarin
Jongki ditembak sama cewe kelas sebelah. Dia bilang, ‘aku tertarik pada orang yang membawa kacamataku’, lalu
menolaknya.” Bisik teman Hye Kyo pelan saat menggosip di kelas.
“Para
fans Jongki jadi ribut! Kata mereka, ‘Tangkap
si kacamata itu!’ Mau ditangkap
loh!” lanjutnya semangat.
“Ditangkap?
Maksudnya” gumam Kye Kyo pelan.
‘Sebentar! Apa yang dimaksud
Jongki adalah aku? Kenapa? Jongki suka padaku, tapi…dengan penglihatannya yang
parah itu. Tak akan sadar bila itu aku…Apa
mungkin dia bisa tertarik ? Padahal tidak tahu siapa orangnya.’
“Absen
nomor 1 dan nomor 2, pulang sekolah nanti tolong kumpulkan catatan ya!”
perintah Seonsaengnim pada dua murid di kelas dan itu membuat Hye Kyo tersentak.
*Nomer 1 : Song Hye Kyo /
Nomer 2 : Song Jong Ki*
‘Si kacamata…’ lirik Hye Kyo pada Jongki, ‘Dia, kalau ditanya soal itu, oke gak ya?’
pikirnya untuk memulai suatu pembicaraan dengan Jongki.
“Apa?”
tanya Jongki yang merasa risih.
‘Ah..Nggg…Yah tanya saja deh!’ putusnya, “Jongki..Kemarin
kamu ditembak ya?” tanyanya pelan, “Aku berpikir, gosip soal Si Kacamata itu bener gak ya? Hehehe…”
“Ah
itu…Aku menolaknya karena kurang meyakinkan, jadi aku bicara begitu.” Jelasnya.
‘Ah jadi begitu ya..’ Batin Hye Kyo.
“Tapi…Aku
kesal pada Si Kacamata, makanya kalau
sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam!” lanjutnya kesal dan
hal itu justru membuat Hye Kyo cemas, ‘Aku
ini bagai ular, hihihi…’ imajinasinya soal Jongki.
‘Rasanya menyeramkan! Sebaiknya
aku bicarakan hal lain deh! Pokoknya aku bersyukur, aku tidak ketahuan..’ yakinnya pda dirinya.
Ruang Guru
“Ini
meja Seonsaengnim?” tanya Hye Kyo pada Jongki.
“Mungkin..”
jawabnya ragu.
‘Buku catatan, foto..’ pikirnya ingin meihat foto apa
yang terdapat di dalam catatan itu. Glek!
‘Cukup letakkan buku catatan
kalian saja! Jangan sentuh apapun yang ada di atas meja!’ Hye Kyo tentu mengingat pesan
itu, ‘Jangan sentuh apapun!’
‘Ah tapi aku ingin lihat..! Tidak
apa kan..Sedikit saja..Buka sebentar langsung tutup..Sebentar saja..!’ rasa keingintahuannya yang
terlalu besar membuatnya berpikir untuk melihat foto yang ada dalam buku catatan
Seonsaengnim.
‘Tidak..Tidak boleh! Kalau
situasi biasa aku akan melihatnya..Tapi sekarang ada Jongki..Apa aku harus
menyerah ya? Tapi…’
Hye Kyo melirik Jongki yang ternyata juga ingin sekali tahu foto apa yang ada
disana.
Jongki
pun dengan segara membuka buku catatan itu dan foto yang tercetak disana
sungguh membuat keduanya tertawa terbahak – bahak. Melihat foto Seonsaengnim dengan
seorang wanita -mungkin pacarnya- yang perawakannya sungguh memalukan dengan
riasan wajah yang tebal, cukup dikategorikan mirip dengan gorilla betina(?)
…
..
.
“Jongki...Pagi…”
sapa Hye Kyo riang.
“Pagi…”
balasnya singkat.
“Gorila
cantik!” bisik Hye Kyo pada Jongki yang hanya menahan tawanya, mengingat foto
kemarin, “Hidung besar!” Pft…
“Hye
Kyo sejak kapan dekat dengan Jongki?” tanya temannya yang melihat kedekatan dua
murid bermarga Song itu.
“Ng..hehehe…”
responnya singkat. ‘Oh iya…Sebelumnya aku
hampir tidak pernah bicara dengannya.
Aneh..Dari awal pun aku rasa aku tak ingin akrab dengannya.’ Pikirnya
membetulkan apa yang ditanyakan temannya tadi.
..
.
“Nah
dua orang yang biasanya, sekarang kembalikan peta ini ke ruangaan saya!”
perintah Seonsaengnim.
“Kenapa
kita jadi spesialis mengurus pekerjaan ini ya?” keluh Hye Kyo saat membawa
beberapa gulung peta.
“Iya
nih..” balas Jongki.
“Mendingan
yang absen nomor 2 dan 3 saja!” canda Hye Kyo.
“Ih
dasar! Kau mau kabur ya!” kesal Jongki.
“Ya
kalau sama Jongki tak apa deh…Malah aku senang! Walau hanya kerjaan sepele
begini, hahaha..” katanya jujur.
“Sebenarnya
aku nggak nyangka bisa akrab dengan Jongki seperti ini…Maksudnya positif loh..”
katanya lagi.
Jongki
yang hanya menyimak perkataan yang dikatakan Hye Kyo merasaka sesuatu yang
berbeda, “Ya..Aku juga..” jawab Jongki sekenanya.
Setelah
selesai meletakkan peta – peta itu dan keluar dari ruangan, Hye Kyo melihat
sebuah ruangan di sudut kiri -sebelah ruang Seonsangnim- yang baru saja di
tempelkan kertas DIlarang Masuk, Hye
Kyo memperhatikan pintu ruangan itu dengan seksama.
‘Jangan – jangan..’ pikir Jongki yang mulai
terbiasa dengan rasa ingin tahu Hye Kyo yang besar.
Benar!
Hye Kyo berjalan ke arah pintu itu tapi dengan tak sengaja kakinya terbentur
dengan beberapa tumpuk kardus besar yang diletakkan disana.
“Kau
ngapain sih!” protes Jongki.
“Ahahaha..kaget…”
senyumnya salah tingkah namun Jongki segera menarik tubuh Hye Kyo -ke sudut
belakang- menjauh dari tumpukan kardus itu.
BRAK!
“Maaf…Kau
tidak apa?” seru Hye Kyo yang baru saja sadar kalau Jongki melindunginya.
‘Ah kacamatanya terlempar
jauh! Berarti sekarang..’
pikirnya sambil melirik wajah Jongki yang tetap berada di depan wajahnya
sekarang.
“Kau
baik – baik saja?” tanya Jongki melihat Hye Kyo yang sepertinya mulai gusar
dengan detak jantungnya yang dapat Jongki dengar.
‘Loh! Ini serius atau bohong!
Jongki sekeren ini?’
pikirnya kaget dengan Jongki yang nampak sangat tampan tanpa kacamata yang
bertengger di hidungnya.
Chu~~
‘Loh..Tadi itu..’ mendadak Hye Kyo kaku dengan
apa yang baru saja dilakukan Jongki padanya.
“Ayo
kembali.” Ajak Jongki santai ketika ia mengambil dan memposisikan kembali
kacamatanya di area seharusnya.
‘Loh..’
…
..
.
‘Aku dicium olehnya? Jangan –
jangan Jongki serius menyukaiku?’
pikirnya gusar.
‘Ah Jongki!’ sadarnya ketika melihat
Jongki yang ada di depan loker dan ia sengaja menghindari Jongki. Hye Kyo masih
malu untuk mengakui semuanya.
‘Gawat! Bagaimana..Kenapa
harus begini!’
gumamnya tak karuan menyadari hatinya terus saja berdebar ketika ia tak sengaja
melihat Jongki yang mungkin sering terlihat.
‘Hanya dengan melihat wajah
Jongki..Kenapa aku jadi sangat berdebar – debar? Ada apa denganku?’ kesalnya sepanjang hari di
sekolah.
…
..
.
‘Jongki..Apa yang kau
pikirkan sih! Aku harus memastikan arti ciuman itu!’ putusnya menunggu Jongki di dekat
lokernya, seusai pulang sekolah.
“Ah
Jongki..Begini…” tergur Hye Kyo pada Jongki yang hanya jalan tanpa merespon.
‘Loh..Apa dia gak dengar ya?’ gumamnya.
“Jongki..”
pangilnya sedikit berteriak.
“Jongki.
Nggak apa – apa kau cuekin dia?” tanya teman Jongki yang tadi jalan bersamanya.
“Anak
itu kan Si Kacamata?” tanya temannya
dan terdengar oleh Hye Kyo.
Ia
tersentak kaget, ‘Eh…. Dia bilang, ‘aku
tertarik pada orang yang membawa kacamataku’, lalu menolaknya.’ Hye Kyo
mengingat gosip yang dibicarakan oleh teman sebangkunya tempo lalu.
“Ya..Tapi..Sudah
nggak ada hubungan lagi” jawab Jongki santai, seolah tak peduli dengan Hye Kyo
yang mendengar atau tidak.
‘Nggak ada hubungannya? Padahal
kan dia sudah menciumku!’
pikir Hye Kyo.
‘Apa maksudnya? ‘Anak itu
kan Si Kacamata?’, Kenapa dia tahu? Tunggu waktu itu..Dia mengambil
kacamatanya tanpa kesulitan dan dia bisa melihatku. Ah itu artinya, dari awal
dia sudah tahu kalau siswi itu aku. Dia tahu.. ‘Aku kesal pada Si Kacamata,
makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah dan balas dendam! Aku
kesal pada Si Kacamata, makanya kalau sudah tau sosok aslinya, aku akan marah
dan balas dendam!’ Jadi dia membuatku bingung dan membuangku. Ciuman itu
sebagai balas dendam. Pembalasan dendamnya berhasil dengan sukses? Lalu nggak
ada hubungan lagi.’
Emosi
Hye Kyo menjadi dan berteriak, “SONG JONGKI! APA KAU PIKIR BALAS DENDAMMU ITU
SUDAH BERHASIL!”
“Kalau
hanya dicuekkin aja nggak akan mempan!” lanjutnya terengah.
Jongki
yang bingung dengan situasi itu segera berlari menghampiri Hye Kyo yang menundukkan
kepalanya.
“Ayo
kita bicara di tempat lain. Banyak yang lihat..” bujuknya pada Hye Kyo dan
menariknya menjauh dari sana.
“Hiks..Kenapa?”
isaknya pelan.
“Aku
nggak balas dendam kok.” Seru Jongki menenangkan Hye Kyo.
“Tadi
kau cuek padaku…” katanya terputus – putus.
“Seminggu
belakangan ini kau yang terus menghindariku bukan?” tanya Jongki lembut.
“Lalu
kenapa kau menciumku? Hiks..” tanyanya menggebu.
“Soalnya
aku memutuskan untuk menyukaimu!” akunya santai tanpa ragu.
Hye
Kyo yang langsung terdiam dengan pengakuan Jongki kembali berpikir, “Maafkan
aku…Saat itu aku bilang kalau kau kucel.”
“Ah
itu..Aku hanya sedikit trauma. Gara – gara malu, aku jadi pura – pura untuk
nggak lihat kamu.” Jujurnya menghapus airmata Hye Kyo.
“Begitukah?
Ah jadi sekarang, apa boleh coba lepas kacamatamu?” pinta Hye Kyo senang.
“Nggak!
Nanti kamu ketawa!” tolak Jongki.
“Nggak
apa! Yang ketiga kali itu beruntung kok!” paksa Hye Kyo tak mau kalah.
“Apanya!”
pekiknya malas.
“Atau
jangan – jangan matamu bengkak ya?” goda Hye Kyo.
“Diam
bodoh!” Jongki kesal dan memutuskan untuk lebih baik pergi dari sana sebelum…
“Aku
juga menyukaimu Jongki.” Aku Hye Kyo ketika memeluk tubuh Jongki, ia tersenyum.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar