Sabtu, 13 Agustus 2016

Give Me A Chance Chapter 7

Tittle : Give Me A Chance
Author : Rey
Cast : Jeon Jungkook, Kim Yerin and others.

Chapter 7


Sore itu, saat Taehyung sedang memeriksa pekerjaan dan absen bulanan karyawan, ia dikejutkan oleh seorang lelaki yang memeluknya erat, “Hyungie..”

“Kookie? Lama tak bertemu denganmu anak manja!” sapanya gemas.

“Bolehkah kita tidak berbicara disini?” pinta Jungkook yang takut jika -Taehyung Hyung- merusak imagenya yang cool.

“Baiklah. Ikut ke ruanganku.” Ajaknya.


Flashback

“Selamat sore tuan. Selamat datang di restaurant kami. Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang wanita berseragam di depan pintu masuk.

“Aku mau pesan makan dan minum yang terfavorit disini.” jawabnya asal.

“Silahkan tuan, biar saya antarkan ke meja anda.” Permisi wanita itu. “Ini tuan menunya.”

“Ah aku akan memanggilmu saat aku ingin memesan eoh.” Katanya mengusir wanita itu secara halus.

“Baiklah tuan, permisi.”

“Nona Kim? Apa kau bisa bekerja pada akhir pekan di minggu depan?” tanya seorang lelaki yang terlihat bukan seperti bos tapi seenaknya menyuruh.

“Ah tentu saja Oppa.” Jawabnya senang.

“Sudah berapa kali kubilang untuk tak memanggilku begitu di saat bekerja.” Peringatnya tegas.

“Oh maafkan saya pak.” Ucapnya.

“Yasudah, kembalilah bekerja.” Perintahnya cepat.

Saat itu Jungkook terpikir untuk mengejutkan Hyungnya dengan memeluk tubuh itu -sedikit- erat dan jahil berbisik…

End


“Apa kau baru pulang sekolah?” tanya Taehyung pada Jungkook yang terlihat kurang semangat.

“Hyung. Kapan kau akan pulang ke rumah? Aku mati kebosanan di rumah. Ayah Ibu, mereka selalu sibuk dan apa kau tahu? Kemarin mereka berusaha menjodohkanku dengan seorang gadis yang tak menarik.” Adunya menghiraukan pertanyaan Taehyung.

“Akan ada saatnya aku pulang kookie. Sudah berapa lama kita tak bertemu? Aku merindukanmu adik manja.” Peluknya akrab, mencoba melenturkan situasi yang mereka bicarakan.

“3 tahun Hyung. Lalu kapan kau akan pulang?” tanya Jungkook.

“Setelah aku berhasil melamarnya. Im Nayeon.” Seru Taehyung mantap.

“Ah wanita itukah? Jadi kalian masih menjalin hubungan? Hebat Hyung!” pujinya –berpura-pura- senang.

“Lalu kau! Kenapa tak punya pacar saja biar ayah dan ibu tak mencampuri urusan pribadimu. Huh aku jadi semakin bingung. Kenapa di saat usia kita yang masih tergolong muda, malah dipaksa untuk bertunangan? Aku tak habis pikir.” Ocehnya kesal mengingat hari dimana ia berada di posisi Jungkook.

“Aku punya pacar perjanjian hyung.” Jawabnya jujur.

“Perjanjian?” ulangnya.

“Yaaaa, sebenarnya aku tak ingin jika wanita itu dia, tapi aku tak punya pilihan lain. Entahlah Hyung. Di sekolah, kami adalah musuh tapi terkadang jika aku berada di dekatnya, muncul perasaan yang berbeda.” Jujurnya.

“Tapi mendengar ceritamu mengenai perkenalan dengan ayah ibu, apa kau..”

“Tidak Hyung. Aku hanya memintanya untuk berpura – pura.”

“Sebentar, kupikir kau jatuh cinta pada gadis itu.” godanya.

“Aku tidak!” katanya memberenggut.

“Hmmm begitukah? Lalu dimana letak perjanjiannya?” tanya Taehyung, berusaha menahan tawa.

“Perjanjiannya, dia harus menuruti semua keinginanku selama yang aku mau. Dan permintaanku mengenai berpura – pura pacaran pun termasuk ke dalamnya.”

“Jadi itu keinginanmu juga? Hei anak kecil! Kau itu memang jatuh cinta. Sudah akui saja. Jangan sampai kau menyesal karna kehilangannya!”

“Kenapa kau jadi menyebalkan sih Hyung? Sudah kubilang, aku tidak!”

“Iya iya. Jadi bagaimana bisa kalian mempunyai janji seperti itu? Ceritakan padaku!”

“Itu karna aku membantunya melunasi biaya RS ketika ia dirawat atas kebodohannya sendiri.” Tawa Taehyung meledak setelah mendengarnya.

“Membantunya? Oh sejak kapan adikku ini membantu orang lain yang -dia bilang- adalah musuh? Kurasa benar kalau kau memang jatuh cinta Kookie.”

“Aku tidak jatuh cinta Hyung! Sekarang, kami berteman karna sebuah perjanjian. Salah. Hutang. Ya hutang. Dia berhutang padaku dan dia harus membayarnya dengan menyetujui perjanjian yang aku buat.” Jelasnya tak mau kalah.

“Kurasa kau harus mengenalkan gadis itu padaku!”

“Kurasa kau tak akan menyukainya. Dia itu cerewet dan hobinya berteriak.”

“Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita bertemu saja.”

“Besok, sekalian makan malam di  sini. Double date.”

“Kau gila Hyung. Aku tak mungkin mengajaknya. Aku khawatir dia akan berpikir tidak – tidak.”

“Kau belum mencobanya. Lagi pun tak ada salahnya jika kau mengajaknya kencan. Ibu tak akan mengganggumu. Percayalah.”

“Maaf Hyung. Aku…Aku hanya tak mau ada kesalahpahaman antara kami.”

“Huhh, terserah padamu saeng.”

“Kurasa aku harus pulang. Aku lelah Hyung. Aku ingin tidur.”

“Kau ini. Baiklah, ini nomorku yang baru. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. Besok adalah hari spesialku bersama Nayeon. Kuharap kau datang.”

“Lihat besok saja Hyung. Bye Hyung. Cepat pulang eoh!” peluknya manja.

“Tunggu, aku akan mengantarmu.”

“Tak perlu hyung. Aku bisa sendiri.” Tolaknya, mengingat Taehyung yang selalu mengusak gaya rambutnya ketika akan berpamitan.

“Aku tunggu kabar daarimu. Kau hati – hati di jalan.” Ingatnya pada Jungkook yang hanya mengangguk dan segera meninggalkan restoran itu.

Jungkook melajukan mobilnya dengan kecepatan yang stabil. Ia memikirkan wanita yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Wanita yang sudah lama ia dekati dalam diam melalui pesan – pesan manis yang selalu ia kirimkan melalui ponsel Taehyung, tanpa memberitahu nama lengkapnya, ‘Aku merindukanmu. Jika saja saat itu aku mengatakan semuanya, pasti…kau akan bersama denganku saat ini.’ batinnya sedih mengingat hari dimana ia terlambat datang untuk janji kencan dengan wanita yang dicintai Hyungnya -sekarang- Im Nayeon.

```
``
`

“Pagi…” sapa Yeri ramah pada empat sahabatnya; Joy, Wendy, Irene.

“Yaaa..” jawab mereka bersamaan, singkat.

“Apa kalian masih marah padaku? Maafkan aku. sungguh aku tak berniat untuk berbohong pada kalian. Maaf…” jelasnya.

“Kau ingat? No secret between us! Tapi kau?” tunjuk Wendy.

“Wendyaa, jangan seperti itu. Dia pasti akan menjelaskannya.” Bela Irene.

“Kurasa kita harus kumpul saat istirahat nanti. Aku tak ingin kesalahpahaman ini jadi runyam dan berakhir buruk.” Kata Joy menengahi.

“Aku duduk denganmu Joy.” Kesalnya dan langsung mengganti posisi dengan Irene.

“Mianhae…” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.

```
``
`

“Ikut aku!” tarik Jungkook saat bel istirahat selesai berdering dan kelas kosong.

“Kali ini saja Jeon. Aku tak bisa. Ada sesuatu yang harus diselesaikan.”

“Memangnya apa? Kau tak ingat –“

“Aku ingat dan selalu mengingat hal itu. Hutang, janji. Iya aku ingat Jeon. Tapi tolong kali ini saja beri aku waktu untuk membicarakan suatu hal pada mereka. Aku tak ingin kehilangan mereka.” Mohonnya sangat pada Jungkook.

Jungkook yang tak mengerti tentang apa yang hendak Yeri bicarakan pada teman – temannya pun mengiyakan permintaan Yuri dengan sebuah syarat, “Baiklah tapi setelah sekolah usai kau harus ikut denganku! Tak ada penolakan”

“Terimakasih Jeon.” Senyumnya meninggalkan Jungkook sendiri di dalam kelas.

‘Baru saja aku akan marah padamu, tapi kau malah memberiku senyuman itu. Kau cantik saat tersenyum.’ Pikirnya.

``
`

“Sekarang ceritakan!” desak Wendy terburu.

“Ceritakanlah perlahan. Toh waktu istirahat masih lama.” Kata Joy menenangkan keadaan.

“Sebenarnya aku…” Yeri terdiam cukup lama, memikirkan sesuatu yang apakah ia harus memberitahukannya pada mereka atau tetap berbohong sampai keadaan kembali seperti sebelumnya.

“Kau apa Yeri?” tanya Wendy kesal.

“Aku dan Jungkook tak benar – benar pacaran. Kami hanya berpura – pura. Dia yang memintaku karna dia tak ingin dijodohkan dengan Irene.”

“Oh benarkah? Jadi hanya karna alasan itu?” tanya Joy, terkejut dengan pengakuan Yeri yang menurutnya tak masuk akal, mengigat sahabatnya itu rival dengan Jungkook.

Yeri menganggukkan kepalanya, mengiyakan keterkejutan sahabatnya.

“Kenapa kau sampai harus berbohong dan tak menceritakan pada kami sejak awal?” kesal Wendy memeluk Yeri disebelahnya, membagi rasa bersalah dan saling bermaafan.

“Aku pribadi pun sungguh tak ingin dijodohkan dengan Jungkook yang menyebalkan itu. Aku masih duduk di bangku sekolah dan aku ingin menikmati masa mudaku ini.”

“Begitupun aku.” jawab Joy Wendy bersamaan.

“Lalu bagaimana bisa kau jadi seakur itu dengan Jungkook?” tanya Wendy.

“Benar, bukankah kau sangat membenci lelaki itu?” Joy menambahkan.

“Kurasa kau merahasiakan sesuatu.” Tebak Irene.

“Itu…”


TBC!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar