Cast By : Kwon
Soonyoung (권순영) as Hoshi, Lee Jihoon (이지훈) as Woozi
Genre : Yaoi, Boy x Boy, Nc,
Mature, Romance.
Length : Short Story
“Eungggghhhh……”
lenguh Woozi yang menggeliat di ranjangnya.
“Hoamm…Ini
sudah pagi? Kenapa matahari pagi selalu saja menggangguku?” kesalnya pagi itu.
Woozi
malas untuk berangkat kerja ataupun hanya sekedar bangun dari tidurnya. Ia
seperti tak dapat beraktivitas saat kekasih hatinya tak sedang bersamanya
seperti beberapa hari belakangan yang ia habiskan dirumah. Tanpa keluar rumah
atau untuk sekedar bangun, merapihkan rumahnya. Ia sangat tak bersemangat.
“Sayang…Kapan
kau pulang?” tanyanya pada bingkai foto kecil yang sedang ia pegang, ia merindukan
kekasihnya.
Flashback.
“Kenapa
kau pergi? Apa kau akan meninggalkanku?” tanya Woozi yang menangis tersedu ketika
tahu bahwa kekasihnya harus pergi ke
luar negeri, mengontrol pembangunan gedung perusahaan baru milik ayah sang
kekasih di sana.
“Aku
hanya pergi untuk beberapa bulan, bukan untuk meninggalkanmu. Aku pasti pulang,
Wooziku sayang. Jangan berlebihan, hmm.” Bujuk kekasihnya lembut.
“Sejak
kehadiranmu dalam hidupku, aku sungguh bergantung padamu sampai akhirnya, aku juga
memiliki perasaan yang sama seperti yang kau rasakan saat bersama denganku Shi.
Aku hanya tak ingin berpisah denganmu. Tidak!” tangisnya kesal, memohon secara
tidak langsung agar kekasihnya tak pergi meninggalkannya.
“Sayang…Kau
tahu, hubungan ini hanya kita yang tau. Memang orangtua kita dekat dan
kebetulan mereka bersahabat sehingga ketika orangtuamu pergi, kita dipertemukan
melalui orangtuaku yang mengajakmu tinggal bersama. Tapi ini permintaan ayah
yang mau tidak mau harus aku penuhi.” Katanya mencoba memberi sebuah pengertian
pada Zi yang dimana Zi berubah diam dan larut dalam kesedihan. Woozi teringat
kembali akan hari itu. Hari dimana orangtuanya tewas saat kecelakaan mobil,
beberapa tahun yang lalu.
“Hey,
maaf…Bukan maksudku untuk mengingatkanmu akan hari itu sayang. Hmmm, denger dan
inget ya. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku menyanyangimu Zi..Aku akan selalu
menjadi kekasihmu. Aku akan terus bersamamu dan hanya akan mencintaimu. Walau
untuk beberapa bulan ini saja kita sukit bertemu. Jangan mengkhawatirkanku. Berdoalah
agar semuanya selesai dan aku secepatnya
pulang.” Ucap pria bernama Hoshi itu pada kekasihnya.
“Baiklah.
Tapi janji padaku dulu. Kau akan sering – sering menghubungiku. ” pinta Woozi.
Hoshi
menjawab dengan berdeham panjang sambil memeluk mesra tubuh Woozi. Mereka berdua
merasakan kenyamanan dimana Woozi yang tak ingin menyudahi pelukan kekasihnya
dan Hoshi yang mencapai hasratnya saat beberapa menit ini terangsang ketika
menyesap aroma tubuh Zi yang memabukan itu menguar.
Hoshi
yang sudah tak tahan lagi akan hasratnya yang ingin sekali menggerayangi tubuh
kekasih mungilnya itu, dengan pelan dan lembut meremas bokong Zi dan
menyeringai saat Zi melenguh, memberi akses dirinya untuk disentuh lebih banyak
lagi dan tanpa menjeda waktu lagi, Hoshi sesegera mungkin mencium dan melumat
kasar bibir si mungil. Menikmati permainan lidahnya dengan sang kekasih.
Membuka celana Zi dan meraba juga memompa adik kecil disana yang rupanya sudah
mengeras sambil beralih menyibak kaos Woozi dan mengulum dadanya yang juga
menegang.
“Aah..Aah..Faster
Shi..Ouhhh..Terus sayang…Eunggghhh…” lenguhan Zi berulang dan berulang, dia
menikmati sentuhan itu.
Croottt,
cairan kental dan putih itu keluar membasahi tangannya dan ia menjilatnya
dengan nikmat. “Aku rasa, sekarang giranmu sayang, eoh..” Suruh Hoshi yang
sudah puas bermain dengan adik Zi.
“Uhh,
aigoooo. Sebesar dan sepadat ini kah adikmu? Kau akan terpuaskan giant.” Goda
Zi sebelum ia mengulum adik Hoshi yang benar – benar memenuhi rongga mulutnya.
“Ohh..Ahh..Uhhh…Yeah
sayang. Lebih cepat sayang…Uhh..Wow..Ahh…Hmm….” Hoshi sangat menikmatinya. Ia
juga menggerakkan pinggulnya berlawanan arah untuk meloloskan sesuatu yang ada
didalam adiknya.
Croottt,
cairan itu muncrat memenuhi mulut Zi yang segera menelan semuanya. Zi yang
segera mendudukan dirinya di atas Hoshi, sedikit mengangangkat bokongnya,
menuntun adik kecil Hoshi yang masih menegang sempurna ke dalam lubangnya dan
itu menancap sempurna.
“Biarkan
aku memuaskanmu Shi..” Goda Zi yang menggerakkan tubuhnya naik dan turun dengan
tempo lambat sedang dan cepat.
“Ahh…Shhh…Shiii
bantu aku..Dorong dari sana…Ahhhh…Iya begitu sayang..Uhh..” pinta Zi yang masih
belum mendapatkan titik kepuasannya.
“Ahh
iya disana sayang! Ohh..Ahh…Shhh…Huuuuhhh…Sayaaangggg…Hhhh…” dia benar – benar puas
dan terus melenguh nikmat.
“Akhu…Ingin..Kel..Ahh..luar..Shi…Uhh..”
ucapnya terbata.
“Wowowow..Sebentar
sayang..” Kata Hoshi yang segera membalikkan posisi mereka. Menusuk lebih dalam
lubang Zi yang sempit itu, mencapai tingkat kepuasannya.
“Ahh…Aku
keluar sayang..” Kata Zi lemah sedangkan Hoshi menusuk Zi beberapa kali lagi
dan ikut berorgasme.
“Hehehe..Kau
hebat Woozi.” Pujinya pada Woozi yang langsung tertidur pulas.
“Aku
mencintaimu. Sangat.” Bisiknya sebelum memeluk tubuh mungil Woozi dan tertidur,
membiarkan adiknya berada hangat di dalam rumahnya.
----
Tuuutt…
Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Nada
sambung itu sudah berulang kali terdengar dan di jawab oleh operator,
menandakan bahwa lelaki itu tak menjawab panggilannya.
“Sesibuk
apa kau disana? Mana janjimu yang akan menghubungiku Shi?” isaknya pelan, namun
Woozi tetap berpikir positif dan berjanji akan menunggu Hoshinya pulang.
Woozi
kembali pergi berkerja lagi setelah seminggu penuh telah membolos dengan alasan
sakit. Hari – harinya mulai kembai seperti biasa dan hatinya tetap merindukan
kekasihnya kembali. Hari – hari yang berlalu tak terasa sudah mencapai 6 bulan.
Tuuutt…
Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Woozi
berusaha menghubungi Hoshinya lagi. Dia memang melakukannya selama 6 bulan itu
dan tak bosan – bosan menunggu Hoshi yang tak kunjung mengabarinya.
Tuuutt…
Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Di
dering terakhir, panggilannya terjawab. “Halo?” suara itu menyapa, suara yang
dirindukan Woozi.
“Hoshi,
sayang..Apa kabarmu? Aku merindukanmu..” isaknya senang.
“Woozi.
Kaukah itu?” tanya suara disana.
“Tentu
saja Shi! Apa kau melupakanku? Kapan kau pulang?” balas Zi.
“Ohh..Maafkan
aku. Aku terlalu sibuk untuk menjawab telpon atau membalas pesanmu. Tapi saat
ini aku baru saja free. Hmm, ada apa kau menelponku?” tanyanya lagi.
“Sesibuk
apa kau disana? Tak tahukah bahwa sudah 6 bulan kau disana, tak pulang atau
sekedar menepati janjimu padaku. Aku merindukanmu Hoshi!” jawabnya dengan
tangisan yang tak dapat ia tahan. Zi sedih mendengar pertanyaan Hoshi yang
seharusnya dapat dia jawab tanpa harus menanyakan apa yang ingin sampaikan.
“Iya.
Maafkan aku. Aku sungguh sibuk dan terjebak disini sayang, aku juga
merindukanmu.” Ucap Hoshi lembut.
“Kau
tak menhalin suatu hubungan dengan yang lain kan? Kau mencintaiku kan?” tanya
Woozi, ingin membuat hatinya percaya akan cintanya disana.
“Aku
mencintaimu Zi, hanya dirimu. Percayalah.” Jawab Hoshi.
“Aku
percaya itu. Tapi setidaknya, tepatilah janjimu yang akan selalu menghubungiku
Shi..” pintanya.
“Maaf.
Aku tak yain akan bisa menepatinya atau tidak.” Katanya sedih.
“Kau
berubah Shi. Aku ragu akan dirimu. Hikss..” ucapnya spontan.
“Aku
mencintaimu Zi. Tapi bukan berarti waktuku kuhabiskan untuk terus mengabarimu.
Masih banyak hal penting yang tak bisa kutinggalkan disini. dan tolong jangan
sering – sering meneleponku. Aku tak ingin orang lain curiga akan hubungan
kita. Aku tak ingin mendapat cemoohan dan image jelek.” Jelas Hoshi panjang
lebar dan kesal untuk menjelaskan pada Woozi tentang keadaannya disana yang
dibanjiri dengan bertumpuk – tumpuk dokumen yang dikirimkan ayahnya untuk
dipelajarinya setelah gedung itu resmi dibuk,
“Apakah
aku sudah tak berarti lagi untukmu? Kenapa kau takut akan cemoohan dan cara pandang
oranglain terhadap hubungan kita? Bukankah kau pernah bilang kalau kau tak
masalah jika semua orang tahu akan kita?” Zi menangis, tak menyangka akan kata
– kata Hoshinya.
“Bukan
maksudku…”
“Cukup
Shi. Aku sedang tak ingin melanjutkannya. Kututup.”
Tut
tut tut tut tut…
Sambungannya
ditutup Woozi kasar dan larut dalam tangisannya.
“Eomma...Appa…Salahkah
aku mencintai Hoshi yang membawaku untuk mencintainya juga? Kenapa aku terus
ditinggalkan? Eomma…Appa…Aku rindu kalian..” tangisnya memandang foto
terakhirnya bersama orangtuanya.
“Bersabarlah
sayang. Aku akan segera pulang. Aku janji.” Gumamnya pada dirinya.
**
“Berikan
itu padaku Shi!” teriak Woozi pada Hoshi yang mengambil jaket yang baru saja ia
beli. Jaket terbatas yang berhasil dibeli Woozi dengan susah payah.
“Melompatlah
untuk mengambilnya Zi..” Godanya jahil pada Woozi.
“Terus
saja kau ledek aku! Aku tahu aku pendek Shi. Tapi tolong kembalikanlah.”
Pintanya sambil mempoutkan bibirnya, berusaha memohon dengan sangat pada Hoshi.
Memang
jaketnya di kembalikan Shi, tapi dengan sebuah pelukan dan ciuman lembut di
bibirnya. Hoshi melakukannya. Hoshi jatuh cinta pasa Woozi sejak pertama kali
bertemu dengannya.
“Shi…!
Apa yang baru saja kau lakukan bodoh!” Pekik Zi marah.
“Aku
menyukaimu Zi! Jadilah kekasihku.” Pintanya.
“Kau
gila!” Ujar Zi cepat.
“Ya
itu aku.” Ucapnya dan gerakan yang cepat segera mencium bibir Zi lagi, menahan
tangan Zi yang berusaha memberontak. Membawa ciumannya menjadi lumatan dan Zi
yang mulai menikmati permainannya. Perlahan menanggalkan semua pakaian mereka
dan untuk pertama kalinya melakukan itu.
“Ah..Sesempit
ini kah?” tanyanya pada Woozi
“Bergeraklah
Shi..Aku merasa tak nyaman jika kau terus berceloteh.” Omelnya.
“Baiklah
sayang. Aku mencintaimu dan kau milikku!” balasnya dan memulai permainan itu.
---
“Aku
hanya mencintaimu Zi.” Gumamnya dalam tidurnya.
Woozi
yang kembali mengurung dirinya didalam rumah dan meminta izin pada kantor untuk
mengambil cuti. Ia sangat tak bersemangat. Ia merasa sendiri lagi.
Sore
itu, pintu rumahnya diketuk berulang kali, tapi ia tak berniat membukakakn
pintunya. Ia sedang tak ingin diganggu atau bertemu siapaun.
Namun,
pintu rumahnya terbuka begitu saja tanpa Woozi sadari. Woozi yang setia
berbaring di tempat tidurnya dengan tubuhnya yang tengkurap terkejut dan
terbangun ketika ada sebuah tubuh yang menindihnya.
“K..Kau?”
pekiknya.
“Ini
aku.” Balas seseorang yang tersenyum senang.
“A..Aku
sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Silahkan pergi.” Kata Zi ketus,
mendorong kuat tubuh lelaki itu.
“Aku
merindukanmu. Kenapa kau begini? Tak senangkah jika aku kembali?” tanya lelaki
itu yang masih setia berdiri di hadapan Zi yang menutup tubuhnya denga selimut.
“Aku
sudah tak mengenalmu. Pergilah. Ingatkah kau tentang ucapanmu yang tak ingin
jika dirimu malu jika ketahuan berhubungan denganku?” sindirnya jahat walau
sebenarnya ia menahan tangisannya di balik selimut itu.
“Baiklah
Zi. Ini aku letakkan kepunyaanmu disini. Aku pergi Zi.” Ucap lelaki itu
meninggalkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua diatas meja nakas Woozi di
dekat tempat tidurnya.
Clek.
“Kenapa
kau tak memaksa untuk tinggal Shi? Kau telah berubah!” isaknya.
“Ini
apa?” dia bingung saat melihat sebuah kotak biru tua yang terletak di atas
mejanya.
“Cincin?”
‘Aku
pulang Woozi sayang. Maafkan segala janjiku yang tak sempat aku tepati. Aku
tahu kau masih marah padaku. Aku akan berusaha membuatmu percaya dengan semua
keseriusanku. Jujur, saat itu aku sungguh tak sadar telah melukai hatimu dengan
perkataanku yang dilandaskan oleh emosi. Tap, aku mencintaimu, sungguh. dan
hanyalah dirimu yang aku cintai. Mungkin ini hany sebuah lingkaran yang belum
seberapa untuk melamarmu, tapi setidaklah terimalah ini sebagai permintaanku, Menikahlah
denganku Woozi.’
Surat itu membuat Woozi mnyesal akan
perkataannya beberapa menit yang lalu. Ia sesegera mungkin keluar kamar dan
hendak mengunci rumahnya sampai seseorang memeluknya hangat, “Hoshi..Sayang..”
panggil Woozi.
“Maafkan
aku Zi. Aku salah..” ucapnya lirih.
“Aku
yang seharusnya meminta maaf padamu sayang. Aku sungguh egois dan kekanakan.” Balasnya
sambil memeluk tubuh tinggi lelaki itu.
“Aku
mencintaimu Zi. Sangat.” Sambungnya, masih dengan nada yang lirih.
“Aku
juga mencintaimu Shi. Jangan tinggalkan aku lagi.” Katanya, menyembunyikan
wajahnya di antara dada lelaki itu.
Hoshi
yang tak ingin menambah larut kesedihan yang mereka sesali, mengundang bibir
Woozi untuk sekedar melepas rindu dan membuktikan bahwa hanya Woozi lah yang
mampu membuatnya jatuh cinta. Namun ciuman itu beranjak menjadi lumatan dan
menuntut juga adik kecil disana sungguh sangat menonjol dan memaksa untuk
terbebas dari dalam sana. Dengan waktu yang tak ingin dibuang lebih banyak,
Hoshi menggendong Woozi ke dalam rumah menuju kamar dan sesegera mungkin
melepaskan hasratnya yang semakin menggebu – gebu.
“Aahh….Sakit
Shi..” desisnya menahan sakit itu.
“Maaf
sayang. Aku sungguh tak tahan lagi. Uh…Ohh…Ahh….Hmm….” jawabnya sambil
melakukan apa yang diinginkannya.
“Ah…Shhhh..Sakit…Uhh….Sshhh…Ah….Hmmm…Oh….Wow….”
desahnya merasakan kesakitan yang bercampur nikmat itu dibawah sana.
“Sayang,
bergeraklah..” pinta Hoshi yang tangannya sibuk bermain dengan adik kecil
Woozi.
“Ya
sayang…begituh….Ohh….Ah….Hmmmm…Kauhh..Hebathh….Uhh..Sayang…” desahnya nikmat
mendapat service yang memuaskan dari Woozi.
“Ah…Sayanghh…Sayangghhh..Aku
mau keluar…Huhh….Hoahh…Ah….” aduhnya yang menikmati lelakinya juga.
Crot…..
Keduanya
berorgasme bersama – sama. Tapi bukan berarti itu akhir permainaan. Hoshi yang
membalikan tubuh kecil Zi yang mendudukannya di atasnya.
“Bergeraklah
sayang. Puaskanlah rasa rindumu padaku, eoh..” katanya lembut dam Woozi pun
menyetujuinya.
Woozi
yang tadi terlihat sangat berhasrat untuk terus bermain diatas Hoshi hingga
orgasme mereka yang ketiga kalinya, jatuh terkulai lemah di atas dada Hoshi.
“Aku
lelah Zi..AKu mencintaimu, hmmmm..” katanya.
“Apa
kau mengigau sayang? Hehehe selalu saja kau yang tidur duluan. Aku juga
mencintaimu sayang. Kau tahu? Aku berusaha mati – matian disana, terus
meyakinkan ayah untuk dapat melepaskanku bekerja mandiri dan agar dapat memilih
apa yang kuinginkan. Dan kau tahu apa? Aku sudah bicara pada orangtuaku dan
mereka tentu saja setuju. Kau tahu kenapa mereka bisa setuju? Karna mereka
hanya ingin aku bahagia dan apapun kebahagianku, mereka tak akan pernah
melarangnya, termasuk menikah denganmu sayang.” Ocehnya sendiri di telinga
Woozi yang terkulai lemah di atas dadanya sambil mengelus – elus helaian rambut
Woozi.
“Aku
mau menikah denganmu Shi. Jangan kau tanyakan lagi keinginanku.” Kata Woozi
yang sebenarnya belum benar – benar tertidur.
“Kau
belom tidur?” tanya Hoshi heran.
“Bagaimana
aku dapat nyenyak tertidur jika yang masih menancap disana belum tertidur.” Godanya
pada Hoshi.
“Sekali
lagi dan kita akan tidur sayang.” Pintanya sambil menerobos kembali lubang
Woozi.
“Ohh…Wah…Ngghhhh…Uhh….Ya…Yess….Hmmmm…”
“Oh..Ahh…Ah….Ah…Oh….Ngghh…Disana
sayang…Eunghhhhh…”
Lenguhan
– lenguhan mereka pun bersahut – sahut nikmat seiring dengan hubungan mereka
yang semakin membaik.
--FIN--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar