Senin, 16 Mei 2016

AKU MENCINTAIMU


Cast By           : Kwon Soonyoung (권순영) as Hoshi, Lee Jihoon (이지훈) as Woozi
Genre             : Yaoi, Boy x Boy, Nc, Mature, Romance.
Length            : Short Story

“Eungggghhhh……” lenguh Woozi yang menggeliat di ranjangnya.
“Hoamm…Ini sudah pagi? Kenapa matahari pagi selalu saja menggangguku?” kesalnya pagi itu.

Woozi malas untuk berangkat kerja ataupun hanya sekedar bangun dari tidurnya. Ia seperti tak dapat beraktivitas saat kekasih hatinya tak sedang bersamanya seperti beberapa hari belakangan yang ia habiskan dirumah. Tanpa keluar rumah atau untuk sekedar bangun, merapihkan rumahnya. Ia sangat tak bersemangat.

“Sayang…Kapan kau pulang?” tanyanya pada bingkai foto kecil yang sedang ia pegang, ia merindukan kekasihnya.

Flashback.

“Kenapa kau pergi? Apa kau akan meninggalkanku?” tanya Woozi yang menangis tersedu ketika tahu bahwa kekasihnya harus pergi  ke luar negeri, mengontrol pembangunan gedung perusahaan baru milik ayah sang kekasih di sana.

“Aku hanya pergi untuk beberapa bulan, bukan untuk meninggalkanmu. Aku pasti pulang, Wooziku sayang. Jangan berlebihan, hmm.” Bujuk kekasihnya lembut.

“Sejak kehadiranmu dalam hidupku, aku sungguh bergantung padamu sampai akhirnya, aku juga memiliki perasaan yang sama seperti yang kau rasakan saat bersama denganku Shi. Aku hanya tak ingin berpisah denganmu. Tidak!” tangisnya kesal, memohon secara tidak langsung agar kekasihnya tak pergi meninggalkannya.

“Sayang…Kau tahu, hubungan ini hanya kita yang tau. Memang orangtua kita dekat dan kebetulan mereka bersahabat sehingga ketika orangtuamu pergi, kita dipertemukan melalui orangtuaku yang mengajakmu tinggal bersama. Tapi ini permintaan ayah yang mau tidak mau harus aku penuhi.” Katanya mencoba memberi sebuah pengertian pada Zi yang dimana Zi berubah diam dan larut dalam kesedihan. Woozi teringat kembali akan hari itu. Hari dimana orangtuanya tewas saat kecelakaan mobil, beberapa tahun yang lalu.

“Hey, maaf…Bukan maksudku untuk mengingatkanmu akan hari itu sayang. Hmmm, denger dan inget ya. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku menyanyangimu Zi..Aku akan selalu menjadi kekasihmu. Aku akan terus bersamamu dan hanya akan mencintaimu. Walau untuk beberapa bulan ini saja kita sukit bertemu. Jangan mengkhawatirkanku. Berdoalah agar semuanya  selesai dan aku secepatnya pulang.” Ucap pria bernama Hoshi itu pada kekasihnya.

“Baiklah. Tapi janji padaku dulu. Kau akan sering – sering menghubungiku. ” pinta Woozi.

Hoshi menjawab dengan berdeham panjang sambil memeluk mesra tubuh Woozi. Mereka berdua merasakan kenyamanan dimana Woozi yang tak ingin menyudahi pelukan kekasihnya dan Hoshi yang mencapai hasratnya saat beberapa menit ini terangsang ketika menyesap aroma tubuh Zi yang memabukan itu menguar.

Hoshi yang sudah tak tahan lagi akan hasratnya yang ingin sekali menggerayangi tubuh kekasih mungilnya itu, dengan pelan dan lembut meremas bokong Zi dan menyeringai saat Zi melenguh, memberi akses dirinya untuk disentuh lebih banyak lagi dan tanpa menjeda waktu lagi, Hoshi sesegera mungkin mencium dan melumat kasar bibir si mungil. Menikmati permainan lidahnya dengan sang kekasih. Membuka celana Zi dan meraba juga memompa adik kecil disana yang rupanya sudah mengeras sambil beralih menyibak kaos Woozi dan mengulum dadanya yang juga menegang.

“Aah..Aah..Faster Shi..Ouhhh..Terus sayang…Eunggghhh…” lenguhan Zi berulang dan berulang, dia menikmati sentuhan itu.
Croottt, cairan kental dan putih itu keluar membasahi tangannya dan ia menjilatnya dengan nikmat. “Aku rasa, sekarang giranmu sayang, eoh..” Suruh Hoshi yang sudah puas bermain dengan adik Zi.

“Uhh, aigoooo. Sebesar dan sepadat ini kah adikmu? Kau akan terpuaskan giant.” Goda Zi sebelum ia mengulum adik Hoshi yang benar – benar memenuhi rongga mulutnya.

“Ohh..Ahh..Uhhh…Yeah sayang. Lebih cepat sayang…Uhh..Wow..Ahh…Hmm….” Hoshi sangat menikmatinya. Ia juga menggerakkan pinggulnya berlawanan arah untuk meloloskan sesuatu yang ada didalam adiknya.

Croottt, cairan itu muncrat memenuhi mulut Zi yang segera menelan semuanya. Zi yang segera mendudukan dirinya di atas Hoshi, sedikit mengangangkat bokongnya, menuntun adik kecil Hoshi yang masih menegang sempurna ke dalam lubangnya dan itu menancap sempurna.

“Biarkan aku memuaskanmu Shi..” Goda Zi yang menggerakkan tubuhnya naik dan turun dengan tempo lambat sedang dan cepat.

“Ahh…Shhh…Shiii bantu aku..Dorong dari sana…Ahhhh…Iya begitu sayang..Uhh..” pinta Zi yang masih belum mendapatkan titik kepuasannya.

“Ahh iya disana sayang! Ohh..Ahh…Shhh…Huuuuhhh…Sayaaangggg…Hhhh…” dia benar – benar puas dan terus melenguh nikmat.

“Akhu…Ingin..Kel..Ahh..luar..Shi…Uhh..” ucapnya terbata.

“Wowowow..Sebentar sayang..” Kata Hoshi yang segera membalikkan posisi mereka. Menusuk lebih dalam lubang Zi yang sempit itu, mencapai tingkat kepuasannya.
“Ahh…Aku keluar sayang..” Kata Zi lemah sedangkan Hoshi menusuk Zi beberapa kali lagi dan ikut berorgasme.

“Hehehe..Kau hebat Woozi.” Pujinya pada Woozi yang langsung tertidur pulas.

“Aku mencintaimu. Sangat.” Bisiknya sebelum memeluk tubuh mungil Woozi dan tertidur, membiarkan adiknya berada hangat di dalam rumahnya.

----

Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Nada sambung itu sudah berulang kali terdengar dan di jawab oleh operator, menandakan bahwa lelaki itu tak menjawab panggilannya.

“Sesibuk apa kau disana? Mana janjimu yang akan menghubungiku Shi?” isaknya pelan, namun Woozi tetap berpikir positif dan berjanji akan menunggu Hoshinya pulang.

Woozi kembali pergi berkerja lagi setelah seminggu penuh telah membolos dengan alasan sakit. Hari – harinya mulai kembai seperti biasa dan hatinya tetap merindukan kekasihnya kembali. Hari – hari yang berlalu tak terasa sudah mencapai 6 bulan.

Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Woozi berusaha menghubungi Hoshinya lagi. Dia memang melakukannya selama 6 bulan itu dan tak bosan – bosan menunggu Hoshi yang tak kunjung mengabarinya.

Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt… Tuuutt…
Di dering terakhir, panggilannya terjawab. “Halo?” suara itu menyapa, suara yang dirindukan Woozi.

“Hoshi, sayang..Apa kabarmu? Aku merindukanmu..” isaknya senang.

“Woozi. Kaukah itu?” tanya suara disana.

“Tentu saja Shi! Apa kau melupakanku? Kapan kau pulang?” balas Zi.

“Ohh..Maafkan aku. Aku terlalu sibuk untuk menjawab telpon atau membalas pesanmu. Tapi saat ini aku baru saja free. Hmm, ada apa kau menelponku?” tanyanya lagi.

“Sesibuk apa kau disana? Tak tahukah bahwa sudah 6 bulan kau disana, tak pulang atau sekedar menepati janjimu padaku. Aku merindukanmu Hoshi!” jawabnya dengan tangisan yang tak dapat ia tahan. Zi sedih mendengar pertanyaan Hoshi yang seharusnya dapat dia jawab tanpa harus menanyakan apa yang ingin sampaikan.

“Iya. Maafkan aku. Aku sungguh sibuk dan terjebak disini sayang, aku juga merindukanmu.” Ucap Hoshi lembut.

“Kau tak menhalin suatu hubungan dengan yang lain kan? Kau mencintaiku kan?” tanya Woozi, ingin membuat hatinya percaya akan cintanya disana.

“Aku mencintaimu Zi, hanya dirimu. Percayalah.” Jawab Hoshi.

“Aku percaya itu. Tapi setidaknya, tepatilah janjimu yang akan selalu menghubungiku Shi..” pintanya.

“Maaf. Aku tak yain akan bisa menepatinya atau tidak.” Katanya sedih.

“Kau berubah Shi. Aku ragu akan dirimu. Hikss..” ucapnya spontan.

“Aku mencintaimu Zi. Tapi bukan berarti waktuku kuhabiskan untuk terus mengabarimu. Masih banyak hal penting yang tak bisa kutinggalkan disini. dan tolong jangan sering – sering meneleponku. Aku tak ingin orang lain curiga akan hubungan kita. Aku tak ingin mendapat cemoohan dan image jelek.” Jelas Hoshi panjang lebar dan kesal untuk menjelaskan pada Woozi tentang keadaannya disana yang dibanjiri dengan bertumpuk – tumpuk dokumen yang dikirimkan ayahnya untuk dipelajarinya setelah gedung itu resmi dibuk,

“Apakah aku sudah tak berarti lagi untukmu? Kenapa kau takut akan cemoohan dan cara pandang oranglain terhadap hubungan kita? Bukankah kau pernah bilang kalau kau tak masalah jika semua orang tahu akan kita?” Zi menangis, tak menyangka akan kata – kata Hoshinya.

“Bukan maksudku…”

“Cukup Shi. Aku sedang tak ingin melanjutkannya. Kututup.”

Tut tut tut tut tut…

Sambungannya ditutup Woozi kasar dan larut dalam tangisannya.

“Eomma...Appa…Salahkah aku mencintai Hoshi yang membawaku untuk mencintainya juga? Kenapa aku terus ditinggalkan? Eomma…Appa…Aku rindu kalian..” tangisnya memandang foto terakhirnya bersama orangtuanya.

“Bersabarlah sayang. Aku akan segera pulang. Aku janji.” Gumamnya pada dirinya.


**
“Berikan itu padaku Shi!” teriak Woozi pada Hoshi yang mengambil jaket yang baru saja ia beli. Jaket terbatas yang berhasil dibeli Woozi dengan susah payah.

“Melompatlah untuk mengambilnya Zi..” Godanya jahil pada Woozi.

“Terus saja kau ledek aku! Aku tahu aku pendek Shi. Tapi tolong kembalikanlah.” Pintanya sambil mempoutkan bibirnya, berusaha memohon dengan sangat pada Hoshi.

Memang jaketnya di kembalikan Shi, tapi dengan sebuah pelukan dan ciuman lembut di bibirnya. Hoshi melakukannya. Hoshi jatuh cinta pasa Woozi sejak pertama kali bertemu dengannya.

“Shi…! Apa yang baru saja kau lakukan bodoh!” Pekik Zi marah.

“Aku menyukaimu Zi! Jadilah kekasihku.” Pintanya.

“Kau gila!” Ujar Zi cepat.

“Ya itu aku.” Ucapnya dan gerakan yang cepat segera mencium bibir Zi lagi, menahan tangan Zi yang berusaha memberontak. Membawa ciumannya menjadi lumatan dan Zi yang mulai menikmati permainannya. Perlahan menanggalkan semua pakaian mereka dan untuk pertama kalinya melakukan itu.

“Ah..Sesempit ini kah?” tanyanya pada Woozi

“Bergeraklah Shi..Aku merasa tak nyaman jika kau terus berceloteh.” Omelnya.

“Baiklah sayang. Aku mencintaimu dan kau milikku!” balasnya dan memulai permainan itu.
---

“Aku hanya mencintaimu Zi.” Gumamnya dalam tidurnya.

Woozi yang kembali mengurung dirinya didalam rumah dan meminta izin pada kantor untuk mengambil cuti. Ia sangat tak bersemangat. Ia merasa sendiri lagi.

Sore itu, pintu rumahnya diketuk berulang kali, tapi ia tak berniat membukakakn pintunya. Ia sedang tak ingin diganggu atau bertemu siapaun.

Namun, pintu rumahnya terbuka begitu saja tanpa Woozi sadari. Woozi yang setia berbaring di tempat tidurnya dengan tubuhnya yang tengkurap terkejut dan terbangun ketika ada sebuah tubuh yang menindihnya.

“K..Kau?” pekiknya.

“Ini aku.” Balas seseorang yang tersenyum senang.

“A..Aku sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Silahkan pergi.” Kata Zi ketus, mendorong kuat tubuh lelaki itu.

“Aku merindukanmu. Kenapa kau begini? Tak senangkah jika aku kembali?” tanya lelaki itu yang masih setia berdiri di hadapan Zi yang menutup tubuhnya denga selimut.

“Aku sudah tak mengenalmu. Pergilah. Ingatkah kau tentang ucapanmu yang tak ingin jika dirimu malu jika ketahuan berhubungan denganku?” sindirnya jahat walau sebenarnya ia menahan tangisannya di balik selimut itu.

“Baiklah Zi. Ini aku letakkan kepunyaanmu disini. Aku pergi Zi.” Ucap lelaki itu meninggalkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua diatas meja nakas Woozi di dekat tempat tidurnya.

Clek.

“Kenapa kau tak memaksa untuk tinggal Shi? Kau telah berubah!” isaknya.

“Ini apa?” dia bingung saat melihat sebuah kotak biru tua yang terletak di atas mejanya.

“Cincin?”

‘Aku pulang Woozi sayang. Maafkan segala janjiku yang tak sempat aku tepati. Aku tahu kau masih marah padaku. Aku akan berusaha membuatmu percaya dengan semua keseriusanku. Jujur, saat itu aku sungguh tak sadar telah melukai hatimu dengan perkataanku yang dilandaskan oleh emosi. Tap, aku mencintaimu, sungguh. dan hanyalah dirimu yang aku cintai. Mungkin ini hany sebuah lingkaran yang belum seberapa untuk melamarmu, tapi setidaklah terimalah ini sebagai permintaanku, Menikahlah denganku Woozi.’
 Surat itu membuat Woozi mnyesal akan perkataannya beberapa menit yang lalu. Ia sesegera mungkin keluar kamar dan hendak mengunci rumahnya sampai seseorang memeluknya hangat, “Hoshi..Sayang..” panggil Woozi.

“Maafkan aku Zi. Aku salah..” ucapnya lirih.

“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu sayang. Aku sungguh egois dan kekanakan.” Balasnya sambil memeluk tubuh tinggi lelaki itu.

“Aku mencintaimu Zi. Sangat.” Sambungnya, masih dengan nada yang lirih.

“Aku juga mencintaimu Shi. Jangan tinggalkan aku lagi.” Katanya, menyembunyikan wajahnya di antara dada lelaki itu.

Hoshi yang tak ingin menambah larut kesedihan yang mereka sesali, mengundang bibir Woozi untuk sekedar melepas rindu dan membuktikan bahwa hanya Woozi lah yang mampu membuatnya jatuh cinta. Namun ciuman itu beranjak menjadi lumatan dan menuntut juga adik kecil disana sungguh sangat menonjol dan memaksa untuk terbebas dari dalam sana. Dengan waktu yang tak ingin dibuang lebih banyak, Hoshi menggendong Woozi ke dalam rumah menuju kamar dan sesegera mungkin melepaskan hasratnya yang semakin menggebu – gebu.

“Aahh….Sakit Shi..” desisnya menahan sakit itu.

“Maaf sayang. Aku sungguh tak tahan lagi. Uh…Ohh…Ahh….Hmm….” jawabnya sambil melakukan apa yang diinginkannya.

“Ah…Shhhh..Sakit…Uhh….Sshhh…Ah….Hmmm…Oh….Wow….” desahnya merasakan kesakitan yang bercampur nikmat itu dibawah sana.

“Sayang, bergeraklah..” pinta Hoshi yang tangannya sibuk bermain dengan adik kecil Woozi.

“Ya sayang…begituh….Ohh….Ah….Hmmmm…Kauhh..Hebathh….Uhh..Sayang…” desahnya nikmat mendapat service yang memuaskan dari Woozi.

“Ah…Sayanghh…Sayangghhh..Aku mau keluar…Huhh….Hoahh…Ah….” aduhnya yang menikmati lelakinya juga.

Crot…..
Keduanya berorgasme bersama – sama. Tapi bukan berarti itu akhir permainaan. Hoshi yang membalikan tubuh kecil Zi yang mendudukannya di atasnya.

“Bergeraklah sayang. Puaskanlah rasa rindumu padaku, eoh..” katanya lembut dam Woozi pun menyetujuinya.

Woozi yang tadi terlihat sangat berhasrat untuk terus bermain diatas Hoshi hingga orgasme mereka yang ketiga kalinya, jatuh terkulai lemah di atas dada Hoshi.

“Aku lelah Zi..AKu mencintaimu, hmmmm..” katanya.

“Apa kau mengigau sayang? Hehehe selalu saja kau yang tidur duluan. Aku juga mencintaimu sayang. Kau tahu? Aku berusaha mati – matian disana, terus meyakinkan ayah untuk dapat melepaskanku bekerja mandiri dan agar dapat memilih apa yang kuinginkan. Dan kau tahu apa? Aku sudah bicara pada orangtuaku dan mereka tentu saja setuju. Kau tahu kenapa mereka bisa setuju? Karna mereka hanya ingin aku bahagia dan apapun kebahagianku, mereka tak akan pernah melarangnya, termasuk menikah denganmu sayang.” Ocehnya sendiri di telinga Woozi yang terkulai lemah di atas dadanya sambil mengelus – elus helaian rambut Woozi.

“Aku mau menikah denganmu Shi. Jangan kau tanyakan lagi keinginanku.” Kata Woozi yang sebenarnya belum benar – benar tertidur.

“Kau belom tidur?” tanya Hoshi heran.

“Bagaimana aku dapat nyenyak tertidur jika yang masih menancap disana belum tertidur.” Godanya pada Hoshi.

“Sekali lagi dan kita akan tidur sayang.” Pintanya sambil menerobos kembali lubang Woozi.

“Ohh…Wah…Ngghhhh…Uhh….Ya…Yess….Hmmmm…”

“Oh..Ahh…Ah….Ah…Oh….Ngghh…Disana sayang…Eunghhhhh…”

Lenguhan – lenguhan mereka pun bersahut – sahut nikmat seiring dengan hubungan mereka yang semakin membaik.


--FIN-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar